Sukses

Ini Bedanya Flipper Properti dan Investor

Liputan6.com, Jakarta - Profesi flipper property kian banyak peminatnya karena ada banyak keuntungan yang didapatkan. Salah satunya mendapatkan properti atau rumah dengan harga murah dibandingkan harga pasaran. Sehingga banyak yang mengincar untuk mendapatkan banyak keuntungan dengan menjual kembali properti yang telah dibeli.

Lantas, apakah flipper property sama dengan investor? Menurut Swara Tunaiku, ada sedikit perbedaan antara investordan flipper property. Yuk, cek penjelasan lengkapnya berikut ini.

1. Sumber modal dari pinjaman bank

Agar memiliki modal untuk membeli properti, seorang flipper property biasa mengajukan pinjaman KPA atau KPR. Flipper memang cenderung tak memiliki banyak modal seperti para investor.

Oleh karena itu, mereka sudah punya perhitungan dan pertimbangan yang matang soal biaya administrasi hingga bunga sebelum bertransaksi. Kira-kira, utang yang diajukan ke bank bisa dilunasi dengan membeli dan menjual kembali properti tersebut tidak, ya?

2 dari 3 halaman

2. Menjual properti dengan harga yang murah

Salah satu yang membuat keduanya berbeda adalah mengenai modal. Ya, flipper selalu berstrategi ingin segera mendapat untung dengan jumlah yang besar. Caranya yaitu dengan mencari properti yang dibanderol dengan harga murah jauh dari harga pasaran.

Banyak orang yang butuh uang cepat pun menjual propertinya dengan harga murah. Misalnya, karena ada hal mendesak sampai rencana pindah rumah. Mereka pun menjualnya dengan harga di bawah pasaran asalkan segera terjual.

Flipper akan memperoleh banyak untung saat membeli properti dengan kriteria ini. Untungnya sekitar Rp 200 juta hingga Rp 250 juta untuk setiap transaksi. Tentu sangat menggiurkan, bukan?

3. Bisnis dengan waktu yang pendek

Demi mendapatkan untung, investor yang memiliki banyak modal siap untuk menanti hingga bertahun-tahun. Kondisi ini jauh berbeda dengan flipper yang memiliki modal terbatas. Setelah membeli properti, flipper akan segera menjualnya kembali.

Umumnya, setelah membeli suatu properti, flipper akan menjualnya 2-4 bulan sesudahnya. Kalau investor biasa, akan menjual propertinya bertahun-tahun kemudian.

3 dari 3 halaman

4. Mengutamakan keuntungan

Flipper cenderung fokus untuk segera memperoleh keuntungan karena harus membayar iuran ke bank. Agar bisnis terus berputar, mereka akan membeli suatu properti dan cepat-cepat menjualnya kembali untuk mendapatkan untung.

Saat ada properti yang dijual sesuai dengan harga pasaran, flipper tak akan membelinya. Karena dengan membeli properti ini, mereka kesulitan meraup untung dalam waktu yang cepat. Jauh berbeda dengan para investor yang fokus pada keuntungan di masa depan.

Investor biasa siap menunggu bertahun-tahun agar properti yang dibeli mengalami capital gain nkenaikan harga). Membeli properti dengan harga pasaran sama sekali bukan masalah. Lalu bisa tetap mendapatkan pemasukan dengan menyewakan properti sembari menunggu kenaikan harga.

Tertarik mencoba peruntungan dengan menjadi flipper property yang sukses? Syaratnya, harus tahan banting, cerdas dalam mengatur strategi dan memetakan pergerakan pasar.

Artikel Selanjutnya
3 Tips Jitu dari Polisi agar Tidak Dijambret di Jalan
Artikel Selanjutnya
5 Cara Jitu Jaga Hubungan Baik dengan Klien