Sukses

Rilis Data Ekonomi AS Bikin Harga Emas Menguat

Liputan6.com, New York - Harga emas berjangka membukukan keuntungan pertama dalam tiga sesi saat meyambut akhir pekan. Hal ini dipengaruhi rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) terutama sektor tenaga kerja.

Perekonomian menciptakan 134 ribu pekerjaan baru pada September. Ekonom yang disurvei Marketwatch mengharapkan kenaikan 168 ribu pekerjaan.

Namun, revisi yang kuat dan pekerjaan yang dibuat pada bulan-bulan sebelumnya cukup untuk mendorong tingkat pengangguran AS turun ke 3,7 persen, yang merupakan terendah sejak 1969.

"Data ini menjadi momen penting untuk pasar. Angka pendapatan rata-rata per jam tidak terlalu mengecewakan dan terlepas dari gaji non sektor pertaniaan. Ini sama sekali bunga sinyal ekonomi juga," ujar Ekonom Oanda Stephen Innes untuk Asia-Pasifik seperti dikutip dari laman Marketwatch, Sabtu (6/10/2018).

Melihat kondisi itu, harga emas naik USD 4 atau 0,3 persen ke posisi USD 1.205,60 per ounce. Harga emas lebih tinggi 0,8 persen pada pekan ini yang berdasarkan kontrak paling aktif.

Harga perak naik 5,9 sen atau 0,4 persen ke posisi USD 14.649 per ounce. Harga perak alami pelemahan 0,4 persen pada pekan ini.

Pergerakan harga logam mulia juga dipengaruhi indeks dolar AS yang turun tipis kurang dari 0,1 persen menjadi 95,69 usai sentuh posisi terendah 95,51. Indeks dolar AS menguat 0,6 persen pada pekan ini.

"Tidak mungkin dolar AS akan mendapatkan momentum signifikan karena pedagang akan lebih cenderung mengambil keuntungan dari dolar AS,” ujar Innes.

"Saya fokus pada minggu depan ketika China kembali terutama eskalasi kebijakan perdagangan China-AS. Perang dagang mungkin mengubah permainan lebih signifikan untuk pasar mata uang dari pada hasil gaji non sektor pertanian,” tambah Innes.

 

 

* Update Terkini Asian Para Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru di Sini.

 

2 dari 2 halaman

Sentimen Lainnya

Data pekerjaan juga menunjukkan kenaikan gaji selama 12 bulan yang melambat jadi 2,8 persen dari 2,9 persen. Diperkirakan kenaikan gaji mencapai tiga persen di tengah meningkatnya persaingan dan semakin menyusutnya jumlah pekerja yang tersedia.

Gaji lebih tinggi dikaitkan dengan meningkatnya inflasi dan umumnya dilihat investor sebagai tanda tekanan harga ke atas. "Penurunan tingkat pengangguran menjadi 3,7 persen dan kenaikan pertumbuha upah akan membuat the Federal Reserve menekan denga kenaikan suku bunga," kata Ekonom Wells Fargo Securities, Sarah House.

Logam mulia biasanya digunakan untuk safa haven oleh investor rentan tertekan di tengah kenaikan suku bunga. Kondisi itu juga mengangkat dolar AS. The Federal Reserve telah menaikkan bunga acuan tiga kali pada 2018. Diperkirakan kenaikan suku bunga acuan naik lagi pada Desember 2018. Hal itu dapat dorong imbal hasil surat berharga AS lebih tinggi.

"Emas memiliki hubungan aneh dengan risiko pada saat ini investor lebih pilih obligasi dan dolar AS karena hasil yang jauh lebih menarik untuk ditawarkan. Selama dolar AS tetap kuat, saya pikir selera untuk emas akan tetap terbatas dan pedagang dapat  melihat reli sebagai peluang untuk menjual," tutur Analis Oanda Craig Erlam.

Adapun imbal hasil surat berharga AS bertenor 10 tahun naik 1,37 persen menjadi 3,214 persen pada perdagangan Jumat waktu setempat.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Harga Emas Antam Naik Jadi Rp 666 Ribu per Gram
Artikel Selanjutnya
Harga Emas Stabil Dipicu Outlook Ekonomi AS