Bitmine Beli Ethereum 52.203 Ethereum

Bitmine melanjutkan aksi pembelian pekan lalu sehingga memiliki 4,7% ethereum (ETH).

Diterbitkan 23 Juni 2026, 19:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bitmine Immersion Technologies membeli Ethereum (ETH) senilai US$ 92 juta atau Rp 1,64 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.850) pada pekan lalu.

Mengutip Yahoo Finance, Selasa (23/6/2026), perusahaan perbendaharaan Ethereum terbesar ini terus membeli ETH seiring dengan penurunan harga dalam beberapa hari terakhir. Harga Ethereum turun di bawah US$ 1.700 atau Rp 30,34 juta.

Akuisisi Ethereum terbaru ini terjadi ketika Bitmine mendekati target yang telah ditetapkan untuk memiliki 5% dari pasokan beredar kripto terbesar kedua di dunia ini.

Bitmine membeli 52.203 ethereum pada pekan lalu, memperpanjang tren pembelian yang menjadikannya salah satu dari sedikit pembeli aset digital skala besar yang tersisa.

Pembelian Ethereum terbaru dieksekusi dengan rata-rata harga US$ 1.760 atau Rp 31,41 juta. Pembelian ETH itu meningkatkan kepemilikan Bitmine menjadi 5,67 juta ETH senilai hampir US$ 10 miliar atau Rp 178,51 triliun pada harga saat ini.

Bitmine kini memiliki 4,7% dari pasokan Ethereum yang beredar. Chairman Bitmine Tom Lee telah memperingatkan pembelian dapat melambat dalam beberapa minggu dan bulan mendatang. Saat ini, kas tunai mencapai US$ 601 juta atau Rp 10,72 triliun.

Adapun Ethereum diperdagangkan pada US$ 1.737,91 pada 22 Juni 2026. Saham BMNR telah turun 49% tahun ini menjadi US$ 15,91.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Robert Kiyosaki: Tukarkan Uang Tunai dengan Bitcoin, Ethereum, dan Perak

Sebelumnya, penulis buku keuangan terkenal Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, kembali menyuarakan kekhawatiran terhadap masa depan dolar Amerika Serikat (AS). Menurutnya, sistem keuangan berbasis mata uang fiat semakin rentan karena tingginya pencetakan uang dan pertumbuhan utang yang terus meningkat.

Dalam berbagai pernyataannya, dikutip dari CoinMarketCap, Minggu (14/6/2026), Kiyosaki secara konsisten mengkritik dolar AS dan menyebutnya sebagai "uang palsu" (fake money) yang nilainya terus tergerus dari waktu ke waktu.

Ia menilai masyarakat yang hanya mengandalkan tabungan dalam bentuk uang tunai berpotensi menghadapi risiko penurunan daya beli dalam jangka panjang.

Menurut Kiyosaki, salah satu penyebab utama melemahnya kekuatan mata uang adalah ekspansi jumlah uang beredar yang dilakukan bank sentral. Ketika lebih banyak uang dicetak, nilai setiap unit mata uang akan semakin menurun.

Kritik tersebut juga diarahkan pada sistem perbankan cadangan fraksional (fractional reserve banking), di mana bank hanya menyimpan sebagian kecil dana nasabah sebagai cadangan.

Selain itu, Kiyosaki menyoroti meningkatnya utang negara yang menurutnya dapat menciptakan tekanan terhadap stabilitas moneter di masa depan.

Dalam pandangannya, sistem ekonomi saat ini lebih banyak mendorong pertumbuhan utang dibandingkan perlindungan nilai tabungan masyarakat.

Karena alasan tersebut, ia terus mengampanyekan investasi pada aset yang dianggap memiliki nilai intrinsik seperti emas, perak, Bitcoin, dan Ethereum.

 

Perak, Emas, Bitcoin, dan Ethereum Jadi Pilihan

Kiyosaki menilai perak sebagai salah satu aset yang paling menarik untuk dimiliki saat ini. Selain memiliki fungsi sebagai penyimpan nilai, perak juga memiliki permintaan tinggi dari sektor industri.

Menurutnya, harga perak secara historis masih relatif lebih rendah dibandingkan emas sehingga memberikan peluang bagi investor.

Sementara itu, emas tetap menempati posisi penting dalam strategi investasinya.

Ia bahkan menyebut emas sebagai "uang Tuhan" (God’s money) karena telah digunakan sebagai penyimpan nilai selama ribuan tahun di berbagai peradaban.

Di sisi lain, Bitcoin menjadi aset digital utama yang terus dipromosikan Kiyosaki.

Pada Februari 2026, ia menegaskan bahwa jika harus memilih satu aset saja, maka Bitcoin akan menjadi pilihannya dibandingkan emas.

“Saya sering ditanya, mana investasi yang lebih baik, emas atau Bitcoin. Jelas saya akan mengatakan keduanya untuk diversifikasi aset dan tambahkan perak. Namun jika saya hanya boleh memilih satu aset, saya akan memilih Bitcoin,” tulis Kiyosaki.

Menurut dia, pasokan emas secara teori masih dapat bertambah melalui aktivitas penambangan, sementara jumlah Bitcoin dibatasi hanya 21 juta koin sehingga lebih langka.

Selain Bitcoin, Kiyosaki juga memasukkan Ethereum dalam daftar aset favoritnya karena perannya yang semakin besar dalam pengembangan aplikasi terdesentralisasi dan ekosistem blockchain.

 

Peringatan Soal Masa Depan Uang Tunai

Dalam unggahan terbarunya pada Juni 2026, Kiyosaki menggunakan ilustrasi angka US$ 1 triliun untuk menggambarkan besarnya ekspansi moneter yang terjadi saat ini.

Ia menjelaskan bahwa US$ 1 triliun merupakan angka satu yang diikuti 12 nol.

Menurut Kiyosaki, jika seseorang membelanjakan US$ 1 setiap menit tanpa henti, dibutuhkan lebih dari 34.000 tahun untuk menghabiskan uang sebanyak itu.

Namun, ia mengklaim bank sentral AS dan Departemen Keuangan AS dapat menciptakan uang sebesar US$ 1 triliun dalam waktu kurang dari satu menit.

“Harga tunai adalah sampah. Tukarkan uang tunai dengan emas, perak, Bitcoin, dan Ethereum lalu jadilah pemenang,” tulis Kiyosaki.

Ia juga pernah memperingatkan bahwa kenaikan harga aset seperti emas, perak, Bitcoin, dan Ethereum dapat memperlebar kesenjangan ekonomi karena semakin sulit dijangkau oleh kelompok berpenghasilan rendah dan menengah.

Meski demikian, Kiyosaki tetap mendorong masyarakat untuk mulai berinvestasi pada aset yang menurutnya mampu mempertahankan nilai kekayaan dalam jangka panjang.