Sukses

Dolar AS Melemah, Harga Emas Melompat

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas berbalik naik ditopang pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap sekeranjang mata uang utama karena Kanada mengisyaratkan siap untuk membuat konsesi ke AS untuk menyelesaikan sengketa atas pengerjaan ulang Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).

Dilansir dari Reuters, Kamis (13/9/2018), harga emas di pasar spot naik 0,8 persen menjadi USD 1.206,94 per ounce, setelah mencapai titik terendah sejak 24 Agustus di level USD 1.187,21 pada hari Selasa. Harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup naik USD 8,7 atau 0,7 persen menjadi USD 1.210,9 per ounce.

Indeks dolar AS melemah terhadap sekeranjang mata uang utama ketika berita muncul bahwa Kanada siap menawarkan akses terbatas Amerika Serikat ke pasar susu Kanada sebagai konsesi dalam negosiasi NAFTA.

Konflik perdagangan antara Washington dan Beijing sebelumnya telah mendorong investor untuk membeli dolar AS dengan keyakinan bahwa Amerika Serikat bakal menelan kerugian lebih sedikit dari perselisihan tersebut.

Emas telah kehilangan dolar AD dalam pertempuran untuk arus safe haven. Dolar yang lebih kuat membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Indeks dolar menyentuh tertinggi tiga minggu 95,74 minggu lalu. Selain itu, aksi jual yuan China membuat logam lebih mahal bagi pembeli dari konsumen logam terbesar di dunia. Tapi pelemahan dolar AS pada hari Rabu membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Sementara itu, bank sentral AS secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan September dan ekspektasi berkembang untuk satu kenaikan lagi pada bulan Desember jika melihat data ekonomi positif.

Kenaikan suku bunga AS akan meningkatkan imbal hasil obligasi, membuat emas kurang menarik, dan cenderung meningkatkan dolar AS sehingga akan membuat permintaan berkurang karena emas jadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain.

Pertemuan bank sentral di Turki dan Rusia minggu ini juga masuk radar investor, dengan fokus pasar tertentu pada apakah Ankara akan melangkah untuk melawan inflasi dan mata uang yang terdepresiasi, kata analis Commerzbank Daniel Briesemann.

Emas telah jatuh lebih murahri 10 persen dari puncaknya pada bulan April, di bawah tekanan kenaikan suku bunga AS di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global.

Harga perak di pasar spot perak naik 0,9 persen menjadi USD 14,21 per ounce, setelah menyentuh USD 13,9 di sesi sebelumnya, terendah sejak Januari 2016. Platinum naik 1,5 persen menjadi USD 799 per ounce, sementara paladium naik 0,2 persen menjadi USD 976,3 per ounce.

Artikel Selanjutnya
Harga Emas Antam Naik Rp 3.000 per Gram
Artikel Selanjutnya
Harga Emas Naik dari Posisi Terendah dalam 2 Pekan