Sukses

Harga Emas Bangkit dari Posisi Terendahnya

Liputan6.com, London - Harga emasdunia melambung dari posisi terendah dalam 19 bulan. Hal ini dipicu tergelincirnya Dolar AS seiring kabar jika China dan Amerika Serikat akan mengadakan pembicaraan membahas perdagangan pada bulan ini, meskipun sentimen negatif tetap ada.

Melansir laman Reuters, Jumat (17/8/2018), harga emas naik 0,3 persen menjadi USD  1.177,80 per ounce. Harga naik dari USD 1.159,96, posisi terlemah sejak Januari 2017.

"Indeks dolar lebih rendah membantu emas, dan fakta bahwa Cina mengirim delegasi membuat harga naik," kata Walter Pehowich, Wakil Presiden Eksekutif Layanan Investasi di Dillon Gage Metals.

Sementara harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember turun USD 1, atau 0,1 persen, ke posisi USD 1.184 per ounce. Emas berjangka AS sedikit turun karena dolar AS.

Di sisi lain, pertemuan antara delegasi China dan perwakilan AS menawarkan harapan untuk kemajuan dalam menyelesaikan konflik perdagangan yang telah menggerogoti pasar keuangan dan komoditas dalam beberapa pekan terakhir.

Ketidakpastian politik dan ekonomi telah membuat para investor memilih investasi yang lebih aman, seperti treasury dan mata uang AS.

Saat Dolar naik menguat membuat emas dalam denominasi dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, dan berpotensi menundukkan permintaan.

Adapun harga perak naik 1,7 persen ke posisi  USD 14,67 per ounce setelah sebelumnya mencapai posisi terendah sejak Februari 2016 di USD 14,30.

Sementara harga Palladium naik 6 persen menjadi USD  893,30 per ounce, sebelumnya mencapai posisi terendah lebih dari 13 bulan di USD 832.

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini.

2 dari 2 halaman

Harga Emas Sebelumnya

Harga emas melemah ke level terendah dalam 1,5 tahun di tengah sektor logam yang tertekan. Indeks dolar AS melanjutkan reli ke posisi tertinggi dalam 14 bulan.

"Harga emas jatuh ke level terendah dalam 18 bulan seiring dolar AS mencapai posisi tertinggi dalam 15 bulan. Hal ini seiring permintaan karena kekhawatiran gejolak keuangan di Turki," ujar Wakil Presiden Direktur Oanda, Dean Popplewell, seperti dikutip dari laman Marketwatch, Kamis (16/8/2018).

Ketakutan terburuk penularan langsung dari situasi keuangan Turki yang memburuk. Akan tetapi, hal tersebut tidak cukup untuk halangi minat terhadap dolar AS.

Harga emas melanjutkan tekanan usai tiga laporan data ekonomi antara lain penjualan ritel, produktivitas dan manufaktur. Data ekonomi tersebut menghalangi harapan pasar terkait kenaikan suku bunga acuan AS yang diperkirakan naik lagi sebanyak dua kali pada 2018.

Harga emas untuk pengiriman Desember turun 1,3 persen atau USD 15,70 ke posisi USD 1.185 per ounce. Selama pekan ini, harga emas susut 2,9 persen. Usai tertekan 8,3 persen dalam tiga bulan terakhir, harga emas telah susut 10 persen pada 2018.

Harga emas gagal untuk menguat seiring gejolak geopolitik. Namun, dolar AS lebih kuat sehingga tahan harga emas.

Secara teknikal, harga emas belum gagal untuk menguat usai turun di bawah level psikologis USD 1.200 untuk pertama kali dalam setahun.

 

 

Artikel Selanjutnya
Harga Emas Antam Turun Rp 4.000 per Gram
Artikel Selanjutnya
Dolar AS Perkasa, Harga Emas Tergelincir