Sukses

HEADLINE HARI INI:PERPISAHAN WAPRES, MENGENANG EKSISTENSI JK DI PANGGUNG POLITIK NASIONAL

Bos IMF: Saya Suka Semua Makanan Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Managing Director International Monetary Fund (IMF) Christine Lagarde tengah melakukan kunjungan ke Indonesia selama satu minggu. Selain Jakarta dan Yogyakarta, orang nomor satu di IMF ini juga berkunjung ke Bali.

Lagarde mengatakan, selama berada di Indonesia ia menyukai semua masakan yang disuguhkan kepadanya. "Saya suka semua masakan Indonesia, semua masakan itu berbeda," kata Christine Lagarde saat ditemui di Bali, Jumat (2/3/2018).

Ia menyampaikan kebahagiaannya bisa pergi ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, dan Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan, bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Christine Lagarde juga mengaku memiliki kesan tersendiri saat diajak ke Pasar Ikan Cilincing, Jakarta Utara, dan sekolah bersama Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

"Saya juga sangat senang bisa pergi ke pasar dan rumah sakit bersama Presiden Jokowi. Saya juga senang bisa mengunjungi Pasar Ikan bersama Pak Luhut dan pergi melihat sekolah," ucap Lagarde.

Mantan Menteri Keuangan Prancis ini juga mengapresiasi langkah yang telah dilakukan Pemerintah Indonesia untuk memajukan bidang pendidikan.

Menurut dia, anak muda Indonesia sangat bersemangat dan memiliki visi yang besar di masa depan.

"Anak muda di Indonesia juga punya bakat, semangat dan potensi yang besar untuk masa depan negeri. Saya senang bisa bertemu mereka," kata Christine Lagarde.

 

2 dari 4 halaman

Bertemu Sultan HB X

Sebelum ke Bali, Lagarde berkunjung ke Keraton Yogyakarta pada Rabu malam. Kedatangan Christine dan rombongan disambut oleh putri bungsu Sultan HB X, GKR Bendara di Gerbang Srimanganti.

Sepanjang perjalanan menuju Gedong Jene, tempat Sultan menerima tamu VIP, Bendara bercakap-cakap dengan Christine. Ia menjelaskan kepada bos IMF itu kehidupan, lambang, serta filosofi Keraton Yogyakarta.

Sesampainya di selasar Gedong Jene, Sultan menyambut kedatangan Lagarde. Ia mengadakan pertemuan tertutup dari media di ruang tamu selama sekitar 15 menit. Setelah itu, keduanya menuju Bangsal Srimanganti untuk menikmati santap malam.

Sultan dan Lagarde juga sempat bertukar cinderamata. Raja Yogyakarta itu memberikan buku tentang Keraton Yogyakarta, sedangkan Christine memberikan koin berwarna silver yang merupakan lambang IMF.

3 dari 4 halaman

Hidangan Raja Mataram

Lagarde terlihat menikmati suasana yang tidak pernah ditemui selama ini. Termasuk, jamuan makan malam dengan menu khas Keraton Yogyakarta yang belum pernah dicicipinya.

Menu khas Keraton yang disajikan ada beberapa jenis. Sajian pembuka berupa salad huzaren sla, yakni potongan sayuran segar yang disiram dengan fla mayonais.

Tidak ketinggalan semangkuk sop timlo juga dihadirkan. Sop khas Mataram itu rasanya manis namun segar. Sebagai menu makanan utama, nasi putih, bebek suwar-suwir, oseng-oseng daun pepaya, dan udang bakar madu.

Wedang sereh menjadi suguhan minuman dan puding khas Keraton, manuk enom, sebagai pencuci mulut.

4 dari 4 halaman

Kunjungan Terlama

Saat memberikan sambutan di Yogyakarta, Lagaede mengaku terkesan dengan masyarakat di Indonesia. Sambutan ramah dan hangat membekas di hatinya.

"Saya juga senang bisa mengenal Keraton Yogyakarta dan filosofinya," ucapnya.

Lagarde mengungkapkan kunjungannya ke Indonesia selama sepekan merupakan kepergiannya paling lama di satu negara selama berkantor di Washington DC.

Ia juga bercerita saat di Jakarta bertemu dengan Presiden Joko Widodo dan diajak ke banyak tempat baru yang belum pernah diketahuinya sama sekali, seperti bertemu dengan nelayan dan berada di pasar ikan.

Ia juga menjelaskan maksud kedatangannya ke Indonesia untuk memperoleh gambaran tentang negara yang akan menjadi tuan rumah pertemuan tahunan pada Oktober mendatang.

"Masyarakat, pendidikan, anak-anak mudanya, semua berkesan buat saya," ucap dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
IMF Pangkas Prediksi, Pengusaha Sebut Tanda Ekonomi Melemah Berlanjut
Artikel Selanjutnya
Manufaktur Diprediksi Tetap Tumbuh Meski IMF Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Dunia