Sukses

Tak Digarap Serius, Produksi Garam RI Tertinggal Jauh dari China

Liputan6.com, Jakarta Permasalahan utama yang membuat Indonesia tidak bisa mencapai swasembada garam adalah karena tidak adanya keseriusan dari pemerintah untuk menggarap sektor ini. Meski punya potensi yang besar, selama ini garam tidak pernah dijadikan sektor unggulan.

Ini diungkapkan Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan. Menurt dia, selama ini Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti selalu menyatakan jika Indonesia memiliki garis pantai terpanjang ke-2 di dunia. Namun dengan potensi tersebut, Indonesia masih harus mengimpor garam, khususnya untuk kebutuhan industri.

"Garam ini termasuk yang bukan produk unggulan. Kalau kata Bu Susi, kita negara dengan garis pantai terpanjang ke-2 di dunia, tapi itu membuat jadi misleading. Sama seperti sapi (tidak bisa swasembada) karena juga bukan produk unggulan," ujar dia di kawasan Menteng, Jakarta, Kamis (22/2018).

Daniel mengungkapkan, Indonesia memiliki panjang garis pantai Indonesia mencapai 99 ribu kilometer (km). Namun produksi garam nasional hanya sebesar 2,6 juta ton per tahun. Produksi garam ini kalah jauh dibanding China yang hanya memiliki panjang garis pantai 14.500 km.

‎"China ini panjang pantainya 14.500 km, produksi garamnya 58 juta ton per tahun. Kita punya 99 ribu km garis pantai, tapi produksinya hanya 2,6 juta ton. India juga garis pantainya hanya 7.000 km, produksinya 19 juta ton per tahun," kata dia.

Oleh sebab itu, lanjut Daniel, jika pemerintah ingin Indonesia swasembada garam, maka harus jadikan produk unggulan sehingga pengembangannya bisa digarap secara serius.

"Jika bicara produk unggulan negara, tentu kita sebagai negara tropis, jika garam jadi produk unggulan, wajib hukumnya kita mandiri," tandas dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Harga Tak Kunjung Turun, Pemerintah Diminta Benahi Produksi Garam

Pemerintah diminta untuk fokus membenahi produksi garam konsumsi di dalam negeri. Itu karena hingga saat ini harga garam konsumsi belum kembali normal sejak naik usai Idul Fitri 2017.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan, sebelum Lebaran tahun lalu, garam kemasan 200 gram dijual dengan harga Rp 2.500. Namun saat ini harga garam untuk kemasan yang sama sekitar Rp 4.500.

"Harga tinggi, garam sebelum Idul Fitri tahun lalu harganya hanya Rp 2.500 per 200 gram. Sekarang sudah sekitar Rp 4.500," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Minggu (28/1/2018).

Padahal, lanjut dia, pada tahun lalu pemerintah telah membuka keran impor garam konsumsi sebesar 75 ribu ton. Namun, buktinya impor tersebut tak kunjung membuat harga garam di pasaran mengalami penurunan.

‎"Ini harganya tidak turun-turun, meski waktu itu sempat impor. Itu sepertinya tidak masuk ke pasar, mungkin masuknya ke industri. (Sedangkan tingginya harga garam) Karena pasokannya menurun di pasaran," kata dia.

Oleh sebab itu, Mansuri meminta pemerintah untuk fokus dan serius membenahi masalah produksi garam nasional. Dengan demikian, harga garam bisa diturunkan dan Indonesia tidak perlu lagi impor untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

"(Kalau impor) Di evaluasi dulu, fokus dulu pada produksi di dalam negeri. Karena waktu itu sudah impor tapi juga percuma. Fokus benahi produksi dalam negeri," tandas dia.

 

Artikel Selanjutnya
Polisi Sita 50 Ton Garam Ilegal dan Tak Layak Edar
Artikel Selanjutnya
Ajaib, Warga Jambi Produksi Garam dari Mata Air Pegunungan