Prabowo: Tak Boleh Anak-Anak Kita Bertaruh Nyawa ke Sekolah

Prabowo prihatin siswa tiba dalam keadaan basah dan mengikuti pelajaran dengan pakaian basah.

Diterbitkan 14 Agustus 2026, 11:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Presiden Prabowo menyoroti bahaya anak sekolah menyeberangi sungai tanpa jembatan.
  • Pemerintah menargetkan pembangunan lebih dari 5.000 jembatan desa hingga akhir 2026.
  • Prabowo meminta kepala daerah melaporkan kebutuhan jembatan, pusat akan bantu jika daerah tak mampu.

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menegaskan tidak boleh ada lagi anak-anak yang mempertaruhkan nyawa hanya untuk menyeberangi sungai menuju sekolah. Pemerintah menargetkan pembangunan lebih dari 5.000 jembatan desa hingga akhir 2026.

Prabowo mengatakan pemerintah telah menyelesaikan 2.500 jembatan desa yang dibangun TNI dan 874 jembatan desa yang dibangun Polri sepanjang tahun ini. Pemerintah menargetkan lebih dari 5.000 jembatan desa selesai dibangun hingga akhir tahun.

"Tidak boleh lagi ada anak-anak kita yang harus bertarung nyawa hanya untuk menyeberang sungai untuk ke sekolah karena tidak ada jembatan," kata Prabowo dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Dia menggambarkan kondisi anak-anak yang harus berjalan berjam-jam menuju sekolah, bahkan tiba dalam keadaan basah dan mengikuti pelajaran dengan pakaian basah.

"Berangkat ke sekolah harus berjalan berjam-jam, berangkat basah di kelas basah, pulang basah. Tidak boleh terjadi," ujarnya.

 

Perintah Prabowo ke Kepala Daerah

Prabowo meminta gubernur, bupati, camat, dan kepala desa mengecek kebutuhan jembatan di wilayah masing-masing. Jika pemerintah daerah tidak mampu mengatasinya, pemerintah pusat akan turun tangan.

"Kita berharap para gubernur, bupati, para camat, kepala desa semuanya mengecek desa-desa. Di mana lagi dibutuhkan jembatan desa, laporkan," katanya.

Dia menegaskan pemerintah tidak akan membiarkan masyarakat terlantar. Selain akses sekolah, Prabowo menyoroti kebutuhan ibu-ibu dan petani agar tidak perlu menempuh perjalanan berjam-jam menuju pasar.

"Kalau gubernur, bupati, kepala desa tidak bisa mengatasi, pemerintah pusat turun dan mengatasi. Kita tidak akan membiarkan rakyat kita terlantar. Juga ibu-ibu kita, petani-petani kita tidak boleh berjam-jam ke pasar," tutur Prabowo.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6