Sukses

Letusan Gunung Agung Pukul Bisnis Hotel di Bali

Liputan6.com, Jakarta - Letusan Gunung Agung memukul bisnis perhotelan di Bali. Lantaran okupansi hotel-hotel di Pulau Dewata kini ‎tidak meningkat akibat tidak adanya wisatawan yang datang, pasca penutupan Bandara Ngurah Rai.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Haryadi Sukamdani mengatakan, dengan adanya penutupan bandara, otomatis menutup akses wisatawan untuk datang ke Bali. Terlebih, 75 persen-80 persen wisatawan datang ke Bali melalui jalur udara.

"Sekarang lagi susah karena airport ditutup. Bali kalau sampai airport ditutup itu pasti sudah sulit. Saya belum ter-update (penurunan okupansi). Tapi kalau tidak ada demand yang masuk, maka stagnan sekali, hanya tamu yang ada," ujar dia di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa (28/11/2017).

Sementara untuk melayani wisatawan yang masih tertahan, hotel-hotel di Bali juga harus memberikan diskon tarif kamar. Hal ini menjadi bagian dari pelayanan terhadap para wisatawan tersebut.

"Dan sekarang kepedulian kita untuk tamu, harus kita urus juga. Teman-teman (hotel) di Bali sepakat untuk memberikan diskon, bottom price untuk tamu-tamu di sana. Kita juga tidak tega meng-charge kaya normal rate, pasti kita berikan diskon. Karena bukan maunya mereka juga tinggal lebih lama. Kecuali kalau memang mereka belum waktunya pulang. Kalau mereka extend karena enggak ada pesawatnya, kita tidak sampai hati mau nge-charge full rate," jelas dia.

Sementara untuk memulihkan bisnis hotel jika nanti kondisi di Bali telah membaik, Haryadi menyatakan, pengelola hotel akan memberikan informasi otoritas pariwisata di negara lain. Selain itu juga harus digencarkan promosi-promosi agar sektor pariwisata di Bali bisa kembali normal usai Gunung Agung kembali tenang.

"Biasanya kalau sudah reda, kita blash ke semua media bahwa Bali aman. Kita campaign Bali sudah pulih. Lebih ke komunikasinya saja," ujar dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

2 dari 2 halaman

Bali Berpotensi Kehilangan Rp 237 Miliar

Sebelumnya, letusan Gunung Agung membawa dampak signifikan terhadap sektor pariwisata di Bali. Sebab, dengan terjadinya peristiwa ini, diperkirakan ada sekitar 18 ribu wisatawan, baik domestik maupun asing yang batal datang ke Pulau Dewata dengan nilai kerugian Rp 237,6 miliar.

Ketua Himpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Artha Ardhana Sukawati mengatakan, ‎saat ini, rata-rata wisatawan yang datang ke Bali, baik lokal maupun mancanegara mencapai 18 ribu orang per hari. Dengan penutupan Bandara Internasional Ngurah Rai akibat letusan Gunung Agung, otomatis para wisatawan tersebut tidak bisa masuk ke Bali.

Terlebih lagi, sekitar 75 persen hingga 80 persen wisatawan yang datang ke Bali menggunakan jasa transportasi udara.‎ "Ini kalau bandaranya ditutup, berarti potensi lost-nya segitu," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Senin 27 November 2017.

Sedangkan untuk potensi kerugian di sektor pariwisata, lanjut Ardhana, setiap wisatawan yang berkunjung ke Bali rata-rata menghabiskan uang sekitar Rp 13,2 juta. Jika dihitung dengan prediksi 18 ribu wisatawan per hari, maka potensi kehilangan pendapatan di sektor pariwisata mencapai Rp 237,6 miliar.

"Kalau dari asumsi Bank Indonesia (BI), per wisatawan itu habiskan Rp 13,2 juta, rata-rata. Jadi segitu lah potensi yang hilang (Rp 237,6 miliar). Dan untuk hotel, food and baverage itu sekitar 65 persen dari total cost mereka larinya ke sana. Jadi cukup besar," jelas dia.

Namun, kata dia, yang penting dilakukan saat ini adalah bagaimana memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan yang sudah berada di Bali. Dengan demikian, peristiwa alam ini tidak merusak citra Bali sebagai tujuan wisata di Indonesia.

"Yang penting bagi kita menjaga citra bali sebagai destinasi pariwisata dan budaya tetap bagus. Kita harus berikan pelayanan yang terbaik kepada wisatawan," tandas dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, akibat penutupan sementara Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, 445 penerbangan terkena terdampak, baik penerbangan menuju maupun dari Bali. Penerbangan yang berangkat dari Bali dibatalkan atau ditunda.

Adapun penerbangan menuju Bali yang sudah berangkat sebelum 07.15 Wita akan dialihkan pendaratannya ke beberapa bandara sekitar Bali.

"Kami perkirakan ada 445 penerbangan yang akan mengalami pembatalan, yaitu 196 rute internasional dan 249 rute domestik," jelas Corporate Secretary PT Angkasa Pura I (Persero) Israwadi dalam keterangan resminya.

Sementara, dua maskapai penerbangan, yakni Citilink Indonesia dan Lion Air membatalkan sejumlah penerbangan dari dan menuju Denpasar, Bali, menyusul penutupan Bandara Ngurah Rai yang terdampak meletusnya Gunung Agung.

Citilink membatalkan 30 penerbangan dari dan menuju Bali, sementara Lion Air 52 penerbangan.

"Menyusul dengan dikeluarkannya Notam (Notice to Airmen) mengenai penutupan Bandara Ngurah Rai, demi keselamatan dan keamanan penerbangan, maka Citilink Indonesia membatalkan penerbangan dari dan ke Bali," kata Vice President Corporate Communication Citilink Indonesia, Benny S. Butarbutar dalam keterangannya di Jakarta, hari ini.

Loading