Rupiah Menguat ke 17.914 per Dolar AS, Simak Prediksinya Hari Ini

Nilai tukar rupiah menguat tipis pada pembukaan perdagangan Kamis. Analis memperkirakan tekanan eksternal masih membayangi rupiah.

Diterbitkan 23 Juli 2026, 11:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Rupiah dibuka menguat tipis pada perdagangan Kamis (23/7/2026) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Meski demikian, analis memperkirakan penguatan mata uang Garuda masih dibayangi potensi tekanan dari kenaikan harga minyak dunia dan menguatnya sentimen terhadap dolar AS.

Mengacu data pembukaan perdagangan, kurs rupiah naik 3 poin atau sekitar 0,02 persen ke level 17.914 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 17.917 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah berpotensi terbatas karena pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali memanas.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah harga minyak yang kembali naik oleh tensi geopolitik di Timteng,” ucapnya dikutip dari Antara. 

Meski demikian, Lukman melihat sentimen domestik mulai menunjukkan perbaikan sehingga dapat membantu menahan tekanan terhadap rupiah.

Menurut dia, hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang memutuskan mempertahankan suku bunga acuan sekaligus meluncurkan berbagai insentif baru dinilai menjadi faktor pendukung stabilitas nilai tukar.

“Dari RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) kemarin, walau mempertahankan tingkat suku bunga, namun langkah BI memberi insentif baru yang di antaranya mengurangi biaya transaksi lindung nilai valuta asing dengan bank sentral dan mendorong penggunaan mata uang selain dolar AS, diharapkan bisa mendukung rupiah,” ungkap dia.

 

Keputusan Bank Indonesia

Dalam RDG Juli 2026, Bank Indonesia memilih mempertahankan BI-Rate dan mengedepankan kebijakan insentif untuk menarik arus modal asing dibandingkan menaikkan suku bunga acuan.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah menaikkan insentif bagi swap jual lindung nilai (swap beli lindung nilai kepada BI) dari 10 persen menjadi 12,5 persen.

Selain itu, bank sentral juga memperluas insentif untuk transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) jual lindung nilai menjadi sebesar 15 persen.

Kebijakan tersebut diharapkan mampu meningkatkan minat investor asing berinvestasi di pasar keuangan domestik sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

Lukman menilai keputusan BI untuk tidak menaikkan suku bunga masih dapat dipahami karena tekanan dari dalam negeri mulai mereda meski risiko global justru meningkat.

“Apabila perkembangan di Timur Tengah tidak membaik, BI mungkin akan baru menaikkan kembali dalam pertemuan berikutnya,” katanya.

Menurutnya, arah kebijakan BI saat ini memberikan ruang bagi rupiah untuk tetap stabil, selama tekanan dari faktor eksternal tidak semakin memburuk.

 

 

Kondisi Timur Tengah Pengaruhi Rupiah

Di sisi lain, pelaku pasar masih mencermati perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah yang dinilai berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS.

Mengutip Sputnik, Amerika Serikat telah mengerahkan kembali pesawat tempur siluman F-35 generasi kelima dan pesawat tempur F-16 dari Eropa ke kawasan Timur Tengah.

Dalam sepekan terakhir, Washington juga dilaporkan mengirim tambahan pasukan operasi khusus serta skuadron pesawat tempur ke wilayah tersebut.

Sementara itu, pesawat pengebom B-1 yang ditempatkan di Inggris disebut telah berada dalam status siap tempur untuk menghadapi kemungkinan operasi militer berskala besar.

Jika ketegangan geopolitik terus meningkat, pasar keuangan global diperkirakan akan tetap bergerak volatil. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, terutama apabila harga energi terus meningkat dan arus dana global kembali mengalir ke aset-aset yang dianggap lebih aman.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6