Sukses

Peserta BPJS Ketenagakerjaan Masih Minim, Kenapa?

Liputan6.com, Jakarta - Jumlah tenaga kerja yang tercatat sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan masih minim. Padahal, kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan penting untuk perlindungan pekerja.

Ketua Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan Guntur Witjaksono mengatakan, penyebab masih sedikitnya peserta karena banyak pekerja belum mengenal BPJS Ketenagakerjaan. Dia menyebut, dari sekitar 112 juta angkatan kerja, baru 25 juta peserta BPJS Ketenagakerjaan.

"Pasti saya yakin (belum kenal), saya sering masalah masuk complain ketanagerjaan ke BPJS Kesehatan," kata dia di Hotel Fairmont Jakarta, Senin (27/11/2017).

Bukan hanya itu, dia mengakui, program BPJS Ketenagakerjaan tidak mudah dipahami masyarakat atau pekerja. Semisal, BPJS Ketenagakerjaan memiliki Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). Program tersebut ditujukan untuk pekerja yang mengalami kecelakaan. Dengan program tersebut, pekerja akan mendapat perawatan dan pengobatan.

Di BPJS Kesehatan pun juga memiliki program penyembuhan untuk masyarakat. Alhasil, masyarakat cenderung hanya terdaftar pada satu BPJS.

"Memang produknya tidak mudah dimengerti masyarakat oleh pekerja. Misalnya JKK sama jaminan kesehatan BPJS Kesehatan. Sama-sama sakitnya, ikut saja satu," ujar dia.

Padahal, dia mengatakan, program BPJS Ketenagakerjaan memiliki manfaat lain. "Misalnya meninggal karena kecelakaan kerja itu bisa 48 gaji dan sebagainya, kalau mereka enggak ada," sambungnya.

Di samping itu, penyebab lain ialah kesadaran masyarakat akan asuransi masih rendah. Dia menuturkan, masyarakat masih cenderung menunda keikutsertaan pada asuransi.

"Terutama pekerja mandiri, kalau penerima upah dalam company bisa dijelasin manajemen SDM-nya," kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

2 dari 2 halaman

BPJS Ketenagakerjaan Incar Generasi Milenial

Sebelumnya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mengincar kalangan generasi muda atau milenial untuk menjadi peserta. Hal tersebut guna mencapai target dana kelola Rp 375 triliun dan kepesertaan sekitar 30 juta orang pada 2018.

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto mengatakan, dana kelola yang dihimpun hingga akhir tahun ditargetkan mencapai Rp 315 triliun. Adapun pada tahun depan ditargetkan naik sekitar 20 persen.

"Dana kelola sebesar Rp 311 triliun per Oktober 2017. Sampai akhir tahun ekspektasi di angka Rp 315 triliun. Kalau tahun ini bisa ditutup sekitar Rp 315 triliun, maka 20 persennya sekitar Rp 375 triliun," ujar dia di Jakarta, Kamis 23 November 2017.

Sementara untuk kepesertaan, lanjut dia, saat ini masih berada di kisaran 24,6 juta peserta aktif. Namun, hingga akhir tahun ditargetkan mencapai 25,2 juta orang.

"Yang sudah terdaftar di kami ada 43 juta orang. Namun demikian, ada 24,6 juta orang peserta yang aktif. Target kepesertaan sebanyak 25,2 juta orang untuk tahun ini. Tahun depan masih dihitung, mungkin sekitar 20 persen naiknya," kata dia.

Menurut Agus, peluang untuk meningkatkan jumlah kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan sebenarnya masih sangat besar. Sebab, saat ini ada sekitar 127 juta orang angkatan kerja. Namun, tentu harus selektif karena tidak semua angkatan kerja tersebut memenuhi syarat untuk menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

‎"Total angkatan kerja ada sekitar 127 juta orang, yang eligible (memenuhi syarat) menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan ada 86 juta orang, karena di situ (127 juta orang) ada angkatan kerja yang usianya di bawah 18 tahun, ada yang di atas 56 tahun. Tapi kami sudah tanda tangan dengan Menteri Ketenagakerjaan bahwa usia angkatan kerja sudah ditambah menjadi sampai 60 tahun. Lalu, ada ASABRI dan TNI, sehingga eligible itu 86 juta orang," jelas dia.