Bagaimana Agen AI dan Ekstensi Browser Diam-Diam Bobol Data Perusahaan?

Integrasi teknologi AI otonom dan ekstensi browser berbahaya justru membuka celah serangan siber baru yang melompati benteng keamanan konvensional.

Diterbitkan 10 Agustus 2026, 18:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Laju adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) di sektor korporasi kini memasuki fase baru yang kian kompleks.

Laporan keamanan State of the Internet (SOTI) bertajuk 'The Enterprise AI Usage Risk Report 2026' yang dirilis Akamai, mengungkapkan integrasi cepat teknologi AI otonom dan ekstensi peramban (browser) berbahaya justru membuka celah serangan siber baru yang melompati benteng keamanan konvensional.

Praktik shadow AI—penggunaan aplikasi AI tanpa otorisasi tim IT—serta keberadaan ekstensi peramban yang berjalan secara diam-diam kini menjadi celah krusial yang mengancam aset digital penting perusahaan.

Vice President Enterprise Security Product & Engineering Akamai, Or Eshed, menegaskan bahwa peran AI telah bergeser dari sekadar alat bantu menjadi "rekan kerja" yang memegang akses langsung ke data sensitif.

"Solusi pencegahan kebocoran data konvensional dirancang untuk era perpindahan file dan email. Saat ini, data sensitif perusahaan tersebar secara sistematis melalui jutaan prompt, akun pribadi yang tidak terkelola, hingga agen AI otonom," ujar Eshed, dikutip Senin (10/8/2026).

Menurutnya, pimpinan keamanan siber harus beradaptasi dari sekadar memblokir AI menjadi mengelola alur operasionalnya secara berkelanjutan.

 

Tiga Vektor Serangan Baru Berbasis AI

Dalam riset 2026 ini, para peneliti Akamai mengidentifikasi tiga metode serangan siber anyar yang memanfaatkan celah AI dan peramban:

  • Vibe Hacking: Penyerang memanipulasi file instruksi markdown lokal pada lingkungan kerja pengembang secara stealth. Manipulasi halus ini mengelabui coding assistant berbasis AI untuk menghasilkan baris kode rentan atau mengeksekusi aksi tanpa izin.
  • CursorJacking: Ekstensi peramban berbahaya memanfaatkan izin akses luas untuk menyedot API key, basis kode perusahaan, dan riwayat percakapan langsung dari asisten pemrograman populer seperti Cursor.
  • CometJacking: Teknik indirect prompt injection yang menyisipkan instruksi jahat pada halaman web publik. Begitu diakses, agen AI lokal milik pengguna (seperti peramban Comet AI dari Perplexity) dapat terkelabui untuk membocorkan file lokal, email, hingga kredensial sesi.

 

Panduan Mitigasi CISO 2026

Guna meredam risiko tanpa menghambat efisiensi ekonomi AI, Akamai merumuskan lima pilar strategi bagi Chief Information Security Officer (CISO):

  • Fokus pada Power User: Mengarahkan pengawasan intensif dan edukasi khusus kepada 5% karyawan yang mencatatkan interaksi prompt AI tertinggi.
  • Pembersihan Shadow AI: Menerapkan fusi Single Sign-On (SSO) terpadu di seluruh platform guna mendeteksi layanan SaaS AI liar secara cepat.
  • Analisis Kontekstual Real-Time: Bertransformasi dari DLP statis menuju pemantauan dinamis terhadap lalu lintas prompt, aktivitas salin-tempel (copy-paste), serta dokumen yang diunggah.
  • Audit Ekstensi & IDE: Memperketat izin akses ekstensi peramban. Data Akamai menunjukkan hampir 75% ekstensi AI meminta izin akses tingkat tinggi/kritis, dan 16,3% di antaranya memiliki kerentanan CVE (Common Vulnerabilities and Exposures) yang sudah terdaftar.
  • Prinsip Least Privilege Agen AI: Membatasi hak akses agen AI otonom serta memantau setiap perilaku otomatisasi yang berjalan atas nama staf perusahaan.