Mutiara Asal China Rusak Reputasi RI di Mata Dunia

Indonesia, terutama daerah Lombok dan Mataram dibanjiri mutiara air tawar asal China.

Diterbitkan 12 November 2017, 19:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi) menyatakan, Indonesia, terutama daerah Lombok dan Mataram dibanjiri mutiara air tawar asal China. Kondisi ini merusak citra Indonesia di mata dunia sebagai penghasil mutiara laut selatan (south sea pearl) terbesar dan terbaik di dunia.

Ketua Umum Asbumi, Anthony Tanios mengungkapkan, sebanyak 80 persen mutiara yang dijual di Lombok dan Mataram merupakan mutiara air tawar. Mutiara ini ternyata bukan berasal dari Indonesia, melainkan impor dari China.

"Mutiara air tawar dari China, impor masuk. Jadi hampir 80 persen mutiara yang di Lombok dan Mataram adalah mutiara air tawar," kata dia saat berbincang dengan wartawan saat Penutupan 7th Indonesia Pearl Festival, Jakarta, Minggu (12/11/2017).

Anthony mengaku, dari harga jual pun sangat jomplang. Untuk mutiara air tawar dari China, ada yang seharga Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu per butir. Sementara mutiara laut selatan bisa mencapai Rp 1 juta-2 juta per butir.

"Bagaimana bisa lawan coba, harganya murah banget. Kita tidak bilang palsu, tapi mutiara air tawar tidak tahan lama, tidak awet, pelapisannya tipis, jadi sebentar saja terkelupas. Tapi kalau mutiara air laut pelapisannya bisa sampai 40 tahun," dia menjelaskan.

Bagi orang awam, sambungnya, sulit membedakan mutiara air laut dan air tawar. Pantas saja, diakui Anthony, konsumen dari dalam maupun luar negeri terkecoh. Mereka juga tergiur dengan harganya yang murah.

"Konsumen banyak yang terkecoh. Penjual selalu mengatakan itu mutiara Papua, Maluku, tapi orang mana tahu. Turis pada terkecoh, dia beli karena harganya murah. Namun begitu mau pulang, baru komplain ini kok luntur," ujar Anthony.

Hal ini, kata Anthony, merusak mutiara Indonesia di mata dunia. "Kualitas mutiara kita sangat bagus, China tuh bikin rusak. Karena mereka tidak bisa masuk ke negara lain, Thailand, Filipina, apalagi Australia karena kan produksi juga," tuturnya.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (KKP), Nilanto Perbowo mengatakan, perbedaan mutiara air tawar dan air laut bisa dilihat dari kecerahannya, ukuran, bentuk bulatnya, dan harganya.

"Mutiara air tawar kecerahannya di bawah mutiara air laut, ukurannya tidak sebesar itu juga, bentuk bulatnya pun kalah dengan mutiara air laut, dan harganya jauh di bawah mutiara air laut," terangnya.

Oleh karena itu, Nilanto mengatakan, pameran mutiara atau Indonesia Pearl Festival dapat menjadi edukasi bagi masyarakat antara mutiara laut selatan dengan mutiara air tawar.

"Nilai eksotis begitu tinggi, jangan sampai mutiara dipalsukan atau diperdagangkan tapi dengan bahan mutiara air tawar," pungkas dia.

Orang Kaya RI Belanja Mutiara Rp 20 Miliar

Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi) memperkirakan target penjualan mutiara laut dalam acara Indonesia Pearl Festival (IPF) sekitar Rp 20 miliar‎ selama 7-12 November 2017 di Lippo Mall Kemang, Jakarta. Target tersebut naik tipis dibanding realisasi penyelenggaraan IPF ke-6 tahun lalu sebesar Rp 17 miliar dalam enam hari.

Ketua Panitia IPF ke-7, Yana Rifki ‎mengungkapkan, penyelenggaraan pameran mutiara ke-7 ini berlangsung selama enam hari. Diikuti oleh 36 booth atau stan mutiara, 9 stan penunjang, dan 5 stan Industri Kecil Menengah (IKM).

"Sejak 7-11 November atau kemarin, nilai transaksi penjualan mutiara di pameran ini sebesar Rp 2,19 miliar dan transaksi lelang mutiara sebesar Rp 711,33 juta. Ini nilai transaksi belum termasuk hari ini ya," kata Yana saat Penutupan IPF 2017 di Jakarta, Minggu (12/11/2017).

Sementara itu, Ketua Umum Asbumi, Anthony Tanios memperkirakan, total nilai transaksi penjualan mutiara selama enam hari sampai jam 10 malam ini mencapai sekitar Rp 20 miliar. Jumlah ini naik tipis dari capaian IPF sebelumnya senilai Rp 17 miliar.

"Perkiraan kami bisa Rp 20 miliar sampai penutupan hari ini, belum termasuk nilai lelang ya. Kan Rp 2,19 miliar itu transaksi kemarin. Banyak orang yang book dulu mutiara, dan baru hari ini terjadi transaksi, jadi bisa ‎Rp 20 miliar lebih dikit lah," tuturnya.

Menurut Anthony, kenaikan penjualan yang tipis ini karena kalangan menengah ke ‎atas lebih menahan belanja, sehingga terpengaruh ke perlambatan penjualan.

"Pasti ada pengaruh dari penahanan belanja dari masyarakat, ‎termasuk kelesuan pasar dunia. Ini kan semua ada masanya, masyarakat lagi susah, dan stagnansi ini sudah terjadi dari tahun lalu dan sampai sekarang masih ada efeknya. Sekarang agak tertolong karena konsumsi beralih dari mutiara air tawar ke mutiara laut Selatan," terangnya.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (KKP), Nilanto Perbowo mengatakan, ukuran diameter mutiara terbesar yang ada di pameran ini 18,6 milimeter (mm) untuk warna emas, dan warna putih berukuran 15,4 mm.

"Harganya satu butir Rp 100 juta. Mutiara tadi itu diusahakan dibesarkan di Indonesia. Karena mutiara ‎dari luar negeri sejatinya berasal dari Indonesia, seperti di Raja Ampat, Maluku, NTT, NTB. Untuk memberikan nilai tambah, kita harus lebih inovatif mendesain mutiara ini," jelasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6