Sukses

Bangun Jalan Tol 1.060 Km, RI Kejar Ketertinggalan dari Malaysia

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus berupaya mengejar pembangunan jalan tol 1.060 Kilometer (Km) hingga periode 2019. Target ini untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dari Malaysia yang sudah mencatatkan panjang jalan tol sekitar 3.000 Km.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Herry Trisaputra Zuna mengungkapkan, panjang jalan tol di Indonesia yang sudah beroperasi saat ini sekitar 994 Km atau hampir mendekati 1.000 Km. Pada periode 2015-2019, pemerintah menargetkan pembangunan jalan tol baru sepanjang 1.060 Km.

"Sekarang kan 994 Km atau sudah mendekati 1.000 Km. Kemudian jalan tol yang terbangun dan beroperasi di 2015 sepanjang 132 km, lalu tambah lagi 44 Km pada 2016. Jadi total dalam dua tahun ini yang terbangun dan operasi 176 Km," kata dia saat berbincang dengan Liputan6.com, Jakarta, seperti ditulis Minggu (2/4/2017).

Menurutnya, pencapaian 176 Km jalan tol yang sudah beroperasi ini masih jauh dari target 1.060 Km. Pemerintah akan kembali membangun jalan tol baru sepanjang 392 Km di 2017, sehingga bisa mencapai 568 Km sampai akhir tahun ini. Kemudian target ambisius berikutnya membangun lebih dari 500 Km jalan tol pada 2018-2019.

"Jadi kita optimistis target 1.060 Km jalan tol bisa tercapai, bahkan prediksinya bisa lebih dari angka tersebut," Herry menegaskan.

Namun demikian jumlah panjang jalan tol di Indonesia masih kalah dari Malaysia. Total panjang jalan tol di Indonesia 994 Km ditambah 1.060 Km dalam lima tahun ke depan diperkirakan mencapai 2.054 Km. Sementara Malaysia sudah mencapai 3.000 Km.

"Kita masih 1.000 Km, sedangkan Malaysia sudah 3.000 Km, yang penting bagaimana kita mengejar ketertinggalan itu. Kalau nanti 1.060 Km terbangun, kan semakin mendekati 3.000 Km," Herry mengatakan.

Menurutnya, membangun jalan tol dengan target 1.060 Km selama lima tahun bukan pekerjaan mudah. Biasanya pembangunan jalan tol 100 km dalam lima tahun. Tantangan terbesar adalah persoalan cuaca dan tanah.

Dia mencontohkan, tol Mojokerto-Kertosono dan Semarang-Solo misalnya pengoperasiannya mundur karena terkendala masalah cuaca hujan. Akibatnya tidak dapat bekerja dan jadwal beroperasinya molor. Tapi Herry memastikan kedua ruas tol tersebut tetap akan beroperasi tahun ini.

"Ini kan target 1.060 Km dari biasanya cuma 100 Km, jadi kalau delay harus bisa dipahami karena tantangan cuaca dan tanah. Membangun tol kan kan harus ada tanah, tanah harus ada uang, tapi sekarang sudah selesai, mudah-mudahan target tercapai," kata Herry. (Fik/Gdn)