Sukses

Menunggu Pidato Janet Yellen, Rupiah Tertekan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Rabu pekan ini. Pelaku pasar masih menunggu kebijakan moneter yang bakal diambil oleh Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed).

Mengutip Bloomberg, Rabu (24/8/2016), rupiah dibuka di level 13.250 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.222 per dolar AS. Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 12.984 per dolar AS hingga 14.828 per dolar AS.

Sementara berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 13.252 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya yang ada di angka 13.216 per dolar AS.

Pada perdagangan hari ini, dolar AS memang menguat terhadap beberapa mata uang utama dunia. Penguatan dolar AS ini juga menekan rupiah.

Dolar AS menguat karena probabilitas kenaikan suku bunga Bank Sentral AS menguat. Menurut survei Bloomberg kepada para analis dan pelaku pasar, sebagian besar menyatakan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga.

Saat ini yang menjadi perhatian dari para analis adalah kapan waktu yang tepat untuk menaikkan suku bunga tersebut. Beberapa menyebutkan September adalah waktu paling cepat menaikkan suku bunga dan beberapa lainnya menyebutkan kemungkinan besar akan dilakukan pada Desember.

Gubernur Bank Sentral AS Janet Yellen akan dijadwalkan untuk memberikan pidato pada pertemuan bank sentral Jumat mendatang di Jackson Hole, Wyoming.

Pertemuan ini merupakan pertemuan dari bank sentral di seluruh dunia. Acara dimulai pada Kamis dan Yellen dijadwalkan akan memberikan pidatonya pada Jumat. Acara ini merupakan gelaran tahunan. Di tahun-tahun sebelumnya, The Fed Biasanya memberikan sinyal kebijakan yang cukup jelas dalam pertemuan ini.

"Yellen harus mengambil sikap secepatnya dan hal tersebut akan mendukung penguatan dolar AS setidaknya sampai akhir pekan ini," kata Analis Macquarie Bank Ltd, Singapura, Nizam Idris.

Sedangkan Ekonom PT Samuel Sekuritas, Rangga Cipta menjelaskan, rupiah melemah bersama dengan kurs lain di Asia hingga Senin sore. Dalam beberapa hari terakhir, terlihat pelemahan rupiah yang lebih dalam dibanding kurs rekan dagang menandakan peran serta sentimen negatif domestik.

Pasca kebijakan moneter, saat ini fokus tertuju pada kebijakan fiskal. Pencapaian tax amnesty serta rencana penghematan APBN menjadi yang utama selain usaha-usaha pemerintah lain untuk mendulang pendapatan pajak. "Rupiah kembali berpeluang melemah hari ini," terang dia. (Gdn/Ahm)

Loading