IHSG Berbalik Arah Menghijau ke 6.117

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergejolak jelang akhir pekan, Jumat, (19/6/2026) usai pengumuman kenaikan BI rate dan laporan terbaru MSCI.

Diterbitkan 19 Juni 2026, 16:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah menghijau pada penutupan perdagangan saham, Jumat, (19/6/2026). Kenaikan IHSG itu di tengah nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan sejumlah kenaikan sektor saham.

Mengutip data RTI, IHSG ditutup naik tipis 0,08% menjadi 6.177,13. Indeks saham LQ45 melemah 1,22% menjadi 609,40. Sebagian besar indeks saham acuan memerah.

Pada sesi kedua perdagangan saham, IHSG berada di level tertinggi 6.215,06 dan level terendah 6.117,30.

Sebanyak 342 saham melemah sehingga bebani IHSG. Namun, 332 saham menguat sehingga menahan koreksi IHSG. 141 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 1.749.194 kali dengan volume perdagangan saham 32,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 26,4 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah di kisaran 17.792.

Sektor saham bervariasi jelang akhir pekan ini. Sektor saham properti turun 1,86%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham energi turun 0,03%, sektor saham basic melemah 1,83%. Kemudian sektor saham keuangan terpangkas 0,75%, dan sektor saham teknologi tergelincir 1,01%.

Sementara itu, sektor saham infrastruktur bertambah 1,61%, dan catat kenaikan terbesar. Sektor saham consumer nonsiklikal naik 1,09%, sektor saham consumer siklikal menanjak 0,40%, sektor saham kesehatan naik 1,52% dan sektor saham transportasi melompat 0,20%.

Harga saham BBNI melemah 1,61% menjadi Rp 3.670 per saham. Harga saham BBNI dibuka turun 10 poin menjadi Rp 3.720 per saham dari penutupan sebelumnya Rp 3.720 per saham. Saham BBNI berada di level tertinggi Rp 3.760 dan terendah Rp 3.640 per saham. Total frekuensi perdagangan 11.290 kali dengan volume perdagangan saham 1.142.784 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 421,8 miliar.

Gerak Saham

Harga saham MORA melonjak 20% menjadi Rp 7.800 per saham. Harga saham MORA dibuka naik 50 poin menjadi Rp 6.550 per saham. Saham MORA berada di level tertinggi Rp 7.800 dan terendah Rp 6.425 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 3.536 kali dengan volume perdagangan saham 24.602 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 18,4 miliar.

Harga saham PADI turun 2,7% menjadi Rp 72 per saham. Saham PADI dibuka stagnan Rp 74 per saham. Harga saham PADI berada di level tertinggi Rp 76 dan terendah Rp 71 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 3.746 kali dengan volume perdagangan saham 927.787 saham. Nilai transaksi Rp 6,8 miliar.

Harga saham SMGR terpangkas 4% menjadi Rp 1.440 per saham. Saham SMGR dibuka naik 25 poin menjadi Rp 1.525 per saham. Harga saham SMGR berada di level tertinggi Rp 1.550 dan terendah Rp 1.440 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 9.484 kali dengan volume perdagangan saham 751.345 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 110 miliar.

Kata Analis

"Kenaikan IHSG dibatasi oleh peringatan baru dari MSCI, yang mana penyedia indeks tersebut menyoroti visibilitas yang lemah dalam kepemilikan saham dan tanda-tanda perdagangan terkoordinasi," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, Jumat, dikutip dari Antara.

Dari dalam negeri, hasil dari review MSCI Global Market Accessibility mengonfirmasi adanya penurunan peringkat pada satu aspek, yakni Information Flow (arus informasi), dengan alasan kurangnya transparansi kepemilikan saham, serta kekhawatiran terkait perdagangan yang terkoordinasi.

MSCI menekankan, persoalan utama pasar modal Indonesia bukan pada likuiditas atau ukuran pasar, melainkan pada aspek tata kelola, transparansi, serta keterbukaan informasi.

"Sorotan MSCI terhadap kualitas pembentukan harga dan transparansi berpotensi meningkatkan persepsi risiko di mata investor global," ujar Nico.

Selanjutnya, MSCI akan mengumumkan Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026 pekan depan.

Dari mancanegara, pergerakan pasar dibayangi saat mulainya implementasi perjanjian damai tentatif antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada Kamis, 18 Juni 2026, yang berhasil meredakan ketegangan geopolitik dan menurunkan harga minyak global.

Berlakunya perjanjian damai untuk menyudahi perang AS-Iran memicu pemulihan, yang ditandai dengan pencabutan resmi blokade laut Iran oleh pihak Washington.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance, menyatakan bahwa setiap bentuk keringanan ekonomi bagi Teheran akan bergantung pada kepatuhan Iran terhadap seluruh ketentuan perjanjian tersebut.

Di sisi lain, terdapat sentimen pasar terhadap kekhawatiran seputar prospek kebijakan moneter ketat The Fed. Sinyal hawkish dari The Fed memicu lonjakan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada sisa tahun 2026.

Walaupun Fed mempertahankan suku bunga acuan dalam pertemuan Rabu, 17 Juni 2026, proyeksi terbaru menunjukkan sekitar separuh anggota FOMC memperkirakan minimal satu kali kenaikan lagi menjelang akhir tahun.