Sukses

Gara-gara Masalah Air, Ekonomi Dunia Rugi Rp 6.648 Triliun

Liputan6.com, New York - Laporan terbaru dari University of Oxford yang dirilis pada World Water Forum di Korea menunjukkan bahwa banjir dan kekeringan di tengah perubahan iklim dan rendahnya investasi di bidang pasokan air dapat menekan ekonomi dunia.

Lantaran masalah air tersebut, ekonomi global menanggung rugi hingga hampir US$ 500 miliar atau Rp 6.648 triliun dalam setahun.  (kurs: Rp 12.975/US$)

"Air merupakan hal yang produktif, tapi pada saat yang bersamaan juga dapat sangat destruktif," tutur Profesor Oxford, David Grey seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (14/4/2015).

Menurut laporan mengenai gangguan fungsi air tersebut, Asia Selatan tercatat memiliki risiko kesehatan air terbesar di dunia. Asia Tenggara dan Timur menghadapi peningkatan ancaman pangan sementara Amerika Serikat menghadapi tekanan terbesar terhadap risiko banjir.

Laporan tersebut dirilis setelah kota-kota di California yang menerapkan pembatasan penggunaan air lantaran kekeringan terparah yang dihadapinya. Kawasan Atacama di Chili juga menderita gangguan akibat banjir terparah selama 80 tahun terakhir.

Sao Paulo, kota terbesar di Brasil yang mengalami krisis air (Foto: News.com.au)

Sementara kota terbesar di Brasil harus berhadapan dengan masalah kekeringan terparah dalam kurun waktu yang sama. Sementara itu Iran mengalami kekurangan pasokan air karena masalah produksi dari Afrika Selatan dan Taiwan.

Sub-Saharan Afrika merupakan satu-satunya kawasan di mana risiko pasokan air tak cukup dan sanitasi terus meningkat. Afrika Utara memiliki persentase populasi penduduk terbesar yang harus berhadapan dengan masalah kekurangan air.

Menurut laporan tersebut, masalah air dapat merugikan ekonomi dunia hingga hampir US$ 500 miliar atau Rp 6.648 triliun dalam setahun. Setiap tahunnya, kerusakan properti akibat banjir saja mencapai US$ 120 miliar.

Sebagai informasi Laporan bertajuk `Securing Water, Sustaining Growth` yang ditulis tim Global Water Partnership dan akademis, peneliti, serta praktisi Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dipimpin oleh Jim Hall dan Grey dari Oxford.(Sis/Nrm)

Loading