Liputan6.com, Jakarta - Guru Besar Fakultas ekonomi IPB Didin S Damandhuri menilai, dunia perekonomian termasuk Indonesia kini terjebak pada pembangunan yang berorientasi pada produk domestik bruto/PDB (GDP oriented).
Menurut Didin, pembangunan yang dimanfaatkan semata untuk mengejar pertumbuhan ekonomi akan membahayakan kesejahteraan rakyat.
"Kalau PDB jadi orientasi tunggal, negara berkembang akan gagal. Gagal mensejahterakan rakyatnya," terang dia saat menjadi pembicara dalam Seminar Kajian Temgah Tahun INDEF, Kamis (26/6/2014).
Didin menjelaskan, pembangunan yang berorientasi hanya demi mencapai target PDB juga berpotensi menghasilkan ketimpangan pendapatan penduduk. Lihat saja, selama 10 tahun, Indonesia mengalami ketimpangan pendapatan.
"Sejak pemerintahan baru pada 2004, rasio ketimpangan pendapatan masih 0,3 persen. Sekarang telah menjadi 0,4 persen bahkan beberapa penelitian menunjukkan angka 0,48 persen. Jadi semakin buruk kondisi ketimpangannya," tutur Didin.
Dia lantas mencotohkan Amerika Serikat (AS) yang juga berorientasi pada PDB semata. Itu justru membuat AS menjadi negara dengan ketimpangan pendapatan terbesar di antara negara maju.
"Sebagai negara super power untuk ekonomi, politik, militer tapi tingkat kemiskinan mencapai 18 persen dan ada 2 juta gelandangan. 40 persen rakyat termiskin memiliki pendapatan lebih rendah dari 17 persen penduduk terkaya," terangnya.
Didin menyarankan, PDB harusnya tetap dijadikan sebagai indikator (GDP as indicator) dan bukan menjadi orientasi tunggal. Itu karena sistem pembangunan akan mengedepankan kesejahteraan rakyat.
"Di Eropa sudah menerapkan GDP sebagai indikator. Lihat Swedia, buruhnya itu paling sejahtera di dunia karena pengembangan teknologi dan infrastruktur difokuskan pada rakyat dalam bentuk pemenuhan tenaga kerja," tandasnya. (Sis/Ahm)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360712/original/030827900_1790662146-cek_fakta_--_BLT_UMKM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490698/original/095003200_1770021594-bea_cukai_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4949090/original/063678200_1726832428-Apel1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/685501/original/ILustrasi%20Pertumbuhan%20ekonomi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)