Perjuangan Nenek Penjual Kacang di Palembang Melawan Sepi

Sang nenek tinggal seorang diri di belakang kantor Wali Kota Palembang meski memiliki dua anak laki-laki.

oleh Nefri Inge diperbarui 17 Nov 2016, 13:32 WIB

Liputan6.com, Palembang – Menikmati kebahagiaan di masa tua didampingi anak cucu mungkin hanya menjadi impian bagi Tinem. Perempuan lanjut usia itu itu harus menjalani hari-harinya dengan kesendirian dan kesepian.

Karena hidup sebatang kara, nenek Tinem juga harus membiayai kebutuhan hidupnya berjualan kacang goreng setiap harinya. Liputan6.com berkesempatan menemui nenek Tinem di kawasan parkiran salah satu plasa tertua di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel).

Saat bertemu pertama kali, tergambar keletihan di wajah nenek berusia 83 tahun itu. Meskipun begitu, nenek Tinem tetap ramah melayani para pelanggan yang datang menghampirinya dan membeli beberapa bungkus kacang gorengnya.

Nenek Tinem duduk di perbatasan lorong masuk dan keluar kawasan parkiran plasa. Sesekali, ia melihat sekelilingnya dan berakhir di tumpukan bungkusan kacang gorengnya yang masih banyak belum terjual. Padahal, ia sudah hampir lima jam menjajakan dagangannya.

Dengan suara sedikit parau, nenek Tinem bercerita tentang kesehariannya berjualan kacang goreng dan rutinitasnya setelah pulang berdagang.

"Nenek berangkat dari rumah pada pukul 10.00 WIB dan pulang sekitar pukul 17.00 WIB. Dari rumah, nenek naik becak dan nanti pulangnya juga dijemput becak langganan juga," ujar dia kepada Liputan6.com, Rabu, 16 November 2016.

Sebelum berangkat ke lokasi dagangannya, nenek Tinem mengambil dagangan kacang goreng dari tetangganya. Biasanya, ia memanggul sekitar 200 bungkus kacang goreng menggunakan bakul rotan. Ia dibantu tukang becak langganannya mengangkut barang dagangan.

Sebungkus kacang goreng tersebut dijualnya sebesar Rp 2.000. Dari hasil penjualannya tersebut, nenek Tinem hanya mengambil untung sebesar Rp 200 per bungkus. Jika semua jualannya laku, nenek Tinem hanya mengantongi uang sebesar Rp 40.000. Jumlah itu pun belum dipotong bayar upah jasa becak sebesar Rp 10.000.

"Kalau laku banyak, biasa bawa pulang uang sekitar Rp 30.000. Tapi alhamdulillah, setiap hari laku jualan nenek," tutur dia.

Di sela perbincangan, tiba-tiba nenek tertunduk lesu dan menyandarkan kepalanya di tumpukan jualannya. Nenek Tinem mengeluhkan kepalanya terasa sakit dan ingin cepat pulang ke rumah. Namun, nenek Tinem harus menunggu becak langganannya datang menjemputnya.

Tidak hanya mengeluhkan sakit kepala, penyakit katarak di matanya juga semakin menjadi-jadi. Rencananya dalam beberapa hari ke depan, dirinya ingin datang lagi ke salah satu pusat layanan kesehatan di dekat rumahnya.

Disela waktu istirahatnya, nenek Tinem mengambil gorengan yang dibungkus kertas koran di dalam bakul rotannya. Ada dua potong gorengan yang memang dibawanya khusus untuk mengganjal perutnya.

"Nenek makan ini saja. Tadi sudah dibelikan orang nasi, tapi cuma nenek makan sesuap. Mari makan nak," ucapnya sambil menawarkan gorengan tersebut kepada Liputan6.com.

Bukan Asli Palembang

Sebelum tinggal di Palembang, nenek Tinem dan suaminya adalah warga asli DI Yogyakarta. Sekitar 1972, nenek Tinem terpaksa mengikuti suaminya yang memilih hijrah ke Palembang untuk mengadu nasib.

Berbagai usaha pun dilakoni sepasang suami istri ini. Walaupun kota Palembang terasa asing bagi mereka karena tidak ada sanak saudara, mereka berdua tetap berjuang untuk bisa meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Namun beberapa tahun kemudian, sang suami meninggal karena sakit. Nenek Tinem pun kebingungan karena tinggal di kota orang tanpa ada satu orang pun keluarga yang membantunya. Terlebih, dia harus menghidupi kedua anak laki-lakinya.

Akhirnya sekitar 1987, nenek Tinem memulai berjualan beragam macam makanan, salah satunya adalah kacang goreng. Walaupun untungnya sedikit, nenek Tinem tetap semangat mengumpulkan pundi-pundi uang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kedua anaknya.

"Suami saya sudah lama meninggal, masih terbilang usianya muda. Jadi, saya yang akhirnya berjualan untuk hidup," kata dia.

Hidup Sebatang Kara

Kendati mempunyai kedua orang anak laki-laki, nenek Tinem tinggal sendirian di rumahnya di kawasan Jalan Merdeka, Palembang, setelah kedua anaknya menelantarkannya.

"Nenek tinggal sendirian di belakang kantor Wali Kota Palembang. Kedua anak nenek sudah tak tahu lagi ada di mana," ujar dia.

Dengan sedih, nenek Tinem menceritakan kisah pilunya ditelantarkan oleh kedua anaknya. Ia memperkirakan sudah puluhan tahun tak lagi bertemu dengan  anak-anaknya, apalagi para cucu.

"Mereka tidak mengurus nenek, jadi nenek cari makan sendiri. Kalau dulu saat nenek jualan, anak nenek sering meminta uang terus, kerja tidak mau. Kalau tidak dikasih, anak nenek langsung marah-marah. Padahal jualan ini cuma ambil upahan saja," tutur nenek Tinem.

Meski begitu, para tetangganya masih memberi perhatian. Mereka seringkali memberikan makanan ataupun mengantarkan nenek Tinem ke pusat layanan kesehatan, jika kondisi tubuh nenek Tinem sedang kurang sehat.

Kebaikan juga datang lewat uang lebih yang diberikan pelanggan kepada nenek Tinem saat membeli jajanan kacang goreng. Namun, tak jarang para pengunjung plasa hanya lalu lalang di depannya tanpa membeli dagangannya.

"Nenek tidak pernah masak. Ibu RT dan para tetangga yang sering membawakan makanan ke rumah. Kalau ada apa-apa, mereka juga yang membantu nenek," kata Nenek Tinem.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya