Tony Blair Minta Maaf karena Melibatkan Inggris dalam Perang Irak

Mantan PM Inggris Tony Blair mengakui bahwa data intelijen yang digunakannya sebagai alasan untuk menginvasi Irak cacat.

oleh Khairisa Ferida diperbarui 07 Jul 2016, 08:21 WIB
Tony Blair bercerita mengenai pengalamannya selama dua periode menjadi Perdana Menteri di Inggris kepada Jokowi (Abnxcess.com)

Liputan6.com, London - Mantan perdana menteri Inggris periode 1997-2007, Tony Blair angkat bicara terkait dengan 'Chilcot Report' yang dirilis pada Rabu 6 Juli kemarin. Laporan itu menyudutkan dirinya karena ia dinilai telah salah mengambil keputusan untuk melibatkan Inggris dalam invasi Irak pada 2003 lalu.

Dalam jumpa persnya, Blair mengaku kebijakan untuk mengirim pasukan ke Irak adalah keputusan yang 'sangat menyakitkan dan penting' sepanjang masa jabatannya sebagai perdana menteri. Ia menambahkan akan mengenang hal itu selama sisa hidupnya.

"Saya berduka cita sedalam-dalamnya atas kehilangan orang-orang yang dicintai, baik itu di pasukan Inggris, pasukan dari negara lain atau bahkan militer Irak."

"Data intelijen yang dijadikan sebagai alasan untuk berperang ternyata salah, akibatnya melahirkan lebih banyak permusuhan dan pertumpahan darah yang berlarut-larut dan tidak pernah kita bayangkan sebelumya. Bangsa yang ingin kita bebaskan dari Saddam Hussein yang jahat justru menjadi korban dari konflik sektarian," ujar Blair seperti dilansir BBC, Kamis (7/07/2016).

Laporan Chilcot sebelumnya menegaskan, kebijakan Inggris untuk terlibat dalam perang Irak didasarkan atas data intelijen yang cacat. Alasan bahwa negara itu memiliki senjata pemusnah massal sehingga dianggap sebagai sebuah ancaman sama sekali tidak berdasar.

"Atas semua hal itu, saya menyatakan duka cita, penyesalan, dan permintaan maaf mendalam, lebih dari yang Anda tahu atau bahkan bisa Anda bayangkan," ungkap Blair.

Dalam konferensi pers yang berlangsung hampir selama dua jam, Blair juga mengatakan, ia tidak setuju dengan pendapat bahwa para prajurit telah melakukan pengorbanan sia-sia di Irak. Menurutnya, apa yang terjadi di negeri bekas pimpinan Saddam Hussein itu adalah perjuangan keamanan global dalam melawan terorisme dan kekerasan di seluruh dunia.

Lantas, ketika disinggung atas dasar apa ia melayangkan permintaan maaf, berikut jawaban Blair.

"Tidak ada keraguan dalam mengungkapkan kesedihan saya bagi mereka yang telah kehilangan nyawa, saya menyesal dan meminta maaf. Namun saya meyakini keputusan (untuk ikut berperang) adalah tepat," kata Blair.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Blair bahwa dengan atau tanpa Inggris, Negeri Paman Sam akan tetap melancarkan serangan ke Irak.

"Saya harus memutuskan. Mempertimbangkan Saddam dengan jejak rekornya, karakter rezimnya. Lalu saya berpikir tentang aliansi Inggris dengan AS yang penting bagi kita setelah tragedi 9/11

Kendati mengaku bahwa data intelijen yang didapatnya cacat, ia tetap berpendapat Irak jauh lebih baik tanpa Saddam Hussein. Ia pun membandingkan hal itu dengan situasi di Suriah di mana Inggris menolak ikut campur.

Investigasi keterlibatan Inggris dalam perang Irak yang dipimpin oleh Sir John Chilcot ini telah berlangsung selama tujuh tahun. Laporan ini menyelidiki berbagai kebijakan pemerintah Inggris selama 10 tahun, terhitung mulai dari 2001 hingga 2009.


Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya