Maskapai Murah Bikin Lalu Lintas Udara RI Padat

Kehadiran LCC membuat lalu lintas udara Indonesia menjadi padat.

oleh Putu Merta Surya Putra diperbarui 14 Jan 2015, 20:53 WIB
Bandara Soetta. (Foto Antara)

Liputan6.com, Jakarta - Kecelakaan yang menimpa AirAsia QZ 8501 menimbulkan rasa duka yang mendalam bagi semua pihak termasuk para keluarga korban. Maskapai asal Malaysia yang mengedepankan Low Cost Carrier (LCC) atau penerbangan murah itu pun mulai diperhitungkan oleh masyarakat.

Meski demikian, menurut praktisi penerbangan, Arista Atmadjati, perasaan curiga masyarakat terhadap transportasi udara pasca kecelakaan itu merupakan hal yang wajar.

"Setiap ada kecelakaan, masyarakat akan phobia untuk naik pesawat, dan itu wajar. Perlu saya tegaskan, menggunakan pesawat itu adalah transportasi yang paling aman. Karena mereka terbang selalu dibimbing oleh alat-alat canggih, radar yang memang rapi," ujar Arista di Kantor DPP PPP, Jakarta, Rabu (14/1/2015).

Meskipun demikian, dirinya tidak menampikkan kehadiran LCC membuat traffic (lalu lintas) udara Indonesia menjadi padat dan melesat naik sungguh tajam.

"Kehadiran LCC pada awal 2003 membuat traffic-nya cukup melesat naik. Pasalnya hingga sekarang kenaikan bisnis penerbangan itu di Indonesia paling tinggi 15 persen daripada negara lain yang hanya sebesar 5 persen, hal ini yang membuat padat," jelasnya.

Selain itu, menurut Akademisi UGM itu, dengan lalu lintas udara yang padat, banyak yang harus berebut take off dan landing, dimana membuat banyak maskapai holding (tertahan) di udara.

"Para maskapai itu banyak yang berebut take off dan landing. Jadi membuat mereka holding. Bayangkan 20 menit holding itu sudah membuang avtur senilai Rp 10 juta, inilah yang dihindari dari semua maskapai," jelasnya.

Karena itu, dengan kehadiran pemerintah baru, dibawah Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, bisa melakukan perubahan.

"Pemerintah yang lalu sudah salah prediksi. Bayangkan 10 tahun mereka tidak bisa mengantisipasi lonjakan tersebut. Dengan menteri baru, kita harapkan ada hal-hal yang baru demi perubahan. Pasalnya, kondisi penerbangan Indonesia sebenarnya lagi bagus-bagusnya, banyak maskapai menggunakan pesawat baru, hal inilah yang harus dijaga oleh pemerintah sekarang," tandasnya. (Putu/Ndw)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya