Liputan6.com, Jakarta - WhatsApp, Facebook, dan Messenger kedatangan fitur perlindungan baru terhadap penipuan di seluruh platform miliknya. Lewat update ini, Meta mulai menghadirkan sistem deteksi dan peringatan dini di platform media sosial mereka.
Dengan fitur baru di WhatsApp, Facebook, dan Messenger ini, pengguna diharapkan bisa menghindari jebakan penipu sebelum terlambat.
Langkah ini dilakukan dengan menghadirkan sistem deteksi serta peringatan kepada pengguna untuk membantu melindungi pengguna dari aksi penipuan, sebagaimana dikutip dari BleepingComputer, Jumat (13/3/2026).
Advertisement
Fitur-fitur baru ini dirancang untuk mendeteksi potensi upaya penipuan lebih awal, bahkan sebelum pengguna berinteraksi dengan pelaku melalui platform WhatsApp, Facebook, dan Messenger.
Melalui pembaruan ini, WhatsApp kini akan memberi peringatan kepada pengguna ketika sistem mendeteksi sinyal perilaku yang mengindikasikan adanya upaya penipuan pada permintaan tautan perangkat.
Modus ini kerap digunakan penipu untuk mengambil alih akun korban dengan cara membujuk pengguna agar membagikan kode tautan atau memindai kode QR berbahaya yang dikirimkan oleh pelaku
Skemanya terlihat sederhana, tetapi dampaknya bisa serius. Penipu biasanya lebih dulu membujuk korban agar memberikan nomor telepon. Setelah itu, korban diarahkan untuk membagikan kode tautan perangkat atau diminta memindai kode QR berbahaya kiriman pelaku.
Saat langkah itu berhasil dilakukan, perangkat milik penipu bisa langsung terhubung ke akun WhatsApp korban.
Meta menjelaskan, pelaku memang berupaya membuat proses tersebut terlihat wajar. Korban bisa saja merasa sedang mengikuti instruksi biasa, pada kenyataannya akses ke akun mereka sedang dipindahkan ke perangkat orang lain.
Peningkatan keamanan ini hadir setelah muncul peringatan serius dari lembaga intelijen Belanda. Layanan Intelijen dan Keamanan Pertahanan Belanda, serta Layanan Intelijen dan Keamanan Umum sebelumnya mengungkap ada kampanye phishing menargetkan pemerintah di negara tersebut.
Kedua lembaga intelijen tersebut menyebutkan, peretas yang didukung negara Rusia berupaya mengakses akun pesan milik para pejabat pemerintah melalui layanan seperti Signal dan WhatsApp.
Risiko Keamanan di Balik Fitur Tautan Perangkat WhatsApp
WhatsApp memungkinkan pengguna untuk menghubungkan ke beberapa perangkat, seperti komputer, ponsel, dan tablet ke satu akun dapat mengirim serta menerima pesan berbagai perangkat tersebut. Proses ini dilakukan dengan memindai kode QR yang dihasilkan oleh perangkat utama, sehingga perangkat baru memperoleh izin untuk mengakses dan menyinkronkan pesan.
Namun, celah ini juga berpotensi dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber. Jika penyerang berhasil menipu pengguna untuk menghubungkan perangkat berbahaya ke akun WhatsApp mereka, pelaku dapat memperoleh akses ke pesan korban. Dengan akses tersebut, penyerang dapat membaca percakapan hingga mengirim pesan dengan menyamar sebagai pemilik akun.
Berbeda dengan kasus pembajakan akun, korban biasanya masih tetap dapat mengakses akun WhatsApp miliknya. Kondisi ini membuat pelanggaran keamanan tersebut lebih sulit terdeteksi oleh pengguna.
Advertisement
Meta Manfaatkan AI untuk Menindak Iklan dan Akun Penipuan
Fitur deteksi penipuan di Messenger juga akan diperluas ke berbagai negara. Fitur ini dirancang untuk mengidentifikasi pola percakapan yang menyerupai skema penipuan umum, seperti tawaran pekerjaan palsu dan memberikan pengguna opsi untuk mengirimkan percakapan mencurigakan untuk ditinjau oleh sistem AI.
Sebelumnya Meta juga telah meluncurkan sistem IA yang menganalisis teks, gambar, dan sinyal kontekstual untuk mengidentifikasi peniruan identitas selebriti, peniruan merek, dan tautan menipu yang digunakan oleh pelaku ancaman untuk mengalihkan korban potensial ke situs web penipuan yang meniru situs web resmi.
Pada tahun 2025 Meta mengatakan telah menghapus lebih dari 159 juta iklan penipuan dan menonaktifkan lebih dari 10,9 juta akun di Facebook dan Instagram yang berkaitan dengan operasi penipuan kriminal.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3526952/original/062118800_1627722464-Infografis_Cek_Fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310889/original/017316800_1785380146-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-30T095434.257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312077/original/024885800_1785478974-indomaret.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316854/original/006178900_1785992062-Screenshot_2026-08-06_113022.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316905/original/064384100_1785995980-cek_fakta_luhut.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5335457/original/041138900_1756794971-Logo_Meta..jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3593056/original/061149800_1633421090-006562800_1549339389-pixabay.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309868/original/031616000_1785292697-WhatsApp_Web.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715374/original/095832200_1782801911-rodion-kutsaiev-0VGG7cqTwCo-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4163617/original/046347100_1663586028-amin-moshrefi-z3jCMSm4Rrc-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3507679/original/091926800_1626059911-whatsapp-interface-template-mobile-phone-mockup_106244-1491.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8704678/original/088711900_1782779258-Fitur_Username_di_WhatsApp.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5379011/original/046500100_1760331531-oberon-copeland-veryinformed-com-ozVxy-mqccw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9260037/original/066327500_1783156255-WhatsApp_Username.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8963990/original/060370000_1782977653-WhatsApp_Username.jpg)