Mengungkap Celah Keamanan di Era AI yang Mengintai Perusahaan

Kenali pihak-pihak yang berisiko tinggi dan jenis kerentanan baru yang muncul di tengah pesatnya adopsi teknologi AI.

Diterbitkan 07 Agustus 2025, 10:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Era adopsi kecerdasan buatan (AI) dan hybrid cloud membuka lembaran baru dalam dunia bisnis, namun juga menghadirkan tantangan keamanan yang kompleks.

Banyak organisasi atau perusahaan kini berhadapan dengan celah keamanan tak terlihat, terutama ketika data sensitif berpindah melalui lalu lintas terenkripsi dan alat AI yang tidak terotorisasi.

Metode keamanan tradisional yang mengandalkan deteksi ancaman di batas jaringan (perimeter) kini kesulitan untuk mengatasi kompleksitas ini.

Data sensitif dapat bocor tanpa terdeteksi, bersembunyi dalam lalu lintas yang terenkripsi, atau disalahgunakan oleh Shadow AI—penggunaan AI tidak resmi di dalam perusahaan.

Menyadari dilema ini, perusahaan keamanan F5, menghadirkan solusi yang dirancang khusus untuk mengatasi celah keamanan di lingkungan AI dan hybrid cloud.

"Ketegangan utama di setiap ruang rapat saat ini adalah antara dorongan untuk mengadopsi AI dan mandat untuk melindungi data perusahaan," kata Chief Innovation Officer F5, Kunal Anand, dalam keterangannya, Kamis (7/8/2025).

Ia menambahkan, dalam kondisi seperti  itu, organisasi tidak bisa memilih salah satu dari kedua aspek tersebut.

F5 menjawab tantangan ini dengan menyediakan serangkaian solusi yang memungkinkan perusahaan dari berbagai skala untuk mencapai hasil keamanan dan kepatuhan utama, seperti:

  • Mendeteksi dan menghentikan kebocoran data secara real-time dalam lalu lintas terenkripsi dan berbasis AI
  • Mencegah risiko dari Shadow AI dan paparan data sensitif
  • Menerapkan kebijakan keamanan yang konsisten di seluruh aplikasi, API, dan layanan AI.

Fitur Pencegahan Kebocoran Data 

Sebagai langkah konkret, F5 akan meluncurkan pembaruan pada F5 AI Gateway dengan fitur deteksi dan pencegahan kebocoran data, yang didukung teknologi terbaru dari LeakSignal.

Fitur ini memungkinkan pemeriksaan setiap prompt dan respons AI untuk mengidentifikasi informasi sensitif, seperti data pribadi, dan secara otomatis menerapkan kebijakan untuk menyensor, memblokir, atau mencatat data tersebut.

Dengan integrasi berkelanjutan dari teknologi perlindungan data AI ini, F5 memperluas kemampuannya untuk menginspeksi data yang sedang ditransmisikan, sekaligus menerapkan kebijakan keamanan sebelum informasi sensitif meninggalkan jaringan resmi.

Penambahan ini tidak hanya menyederhanakan kepatuhan, tetapi juga secara signifikan mengurangi risiko di lingkungan hybrid dan multicloud.

Fitur utama yang akan hadir mencakup:

  • Deteksi data sensitif secara real-time selama interaksi dengan AI
  • Penegakan kebijakan otomatis untuk melindungi dan menyunting data sensitif
  • Laporan dan log audit mendetail yang terintegrasi dengan alat SIEM (Security Information and Event Management).

Pembaruan ini secara langsung menjawab risiko krusial yang dihadapi perusahaan, membantu mereka mengamankan data sensitif dan memenuhi persyaratan kepatuhan di era inovasi berbasis AI.

Pihak Paling Rentan Terhadap Celah Keamanan AI

Pihak-pihak yang paling rentan terhadap celah keamanan AI umumnya adalah mereka yang sangat bergantung pada sistem AI, memiliki data sensitif yang diproses oleh AI, atau kurang memiliki pemahaman dan sumber daya untuk mengamankan sistem AI mereka.

Banyak organisasi kini berlomba-lomba mengadopsi AI untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mendorong inovasi.

Namun, seringkali adopsi ini tidak diimbangi dengan keahlian keamanan siber yang memadai, khususnya dalam konteks AI.

Tim keamanan yang ada mungkin belum terlatih untuk mengidentifikasi dan mengatasi risiko spesifik yang melekat pada sistem AI.

Kondisi ini dapat menyebabkan implementasi AI yang tidak aman, konfigurasi yang salah, atau bahkan kurangnya pemantauan terhadap serangan yang dirancang khusus untuk AI.

Infografis Kejahatan Siber (Liputan6.com/Abdillah)