Sukses

Ditarget Selesai 2022, Ini Tantangan XL Axiata Hapus 3G

Liputan6.com, Jakarta - Operator seluler XL Axiata menargetkan penghapusan 3G akan selesai sebelum akhir 2022.

Direktur sekaligus Chief Technology Officer XL Axiata I Gede Darmayusa mengatakan, saat ini progress penghapusan jaringan 3G XL Axiata sudah mencapai 96 persen.

Menurutnya, masih ada sekitar 4 persen dari total BTS 3G XL Axiata yang masih beroperasi di berbagai tempat di Indonesia. 

"Saat ini 96 persen sudah selesai, jadi mungkin tinggal 1.000-2.000 BTS yang belum di-shutdown," kata Gede, ditemui di Buka Puasa XL Axiata bersama Media, beberapa waktu lalu.

Gede menjelaskan tantangan XL Axiata dalam menghentikan layanan 3G. Pertama karena trafik suara di sebuah daerah begitu tinggi dan pelanggan XL Axiata di daerah tersebut belum menggunakan handset 4G.

Selain itu menurut Gede, masih ada juga pelanggan yang menggunakan SIM card 3G dan belum berganti ke USIM 4G.

"Kalau itu kita paksa (matikan 3G), para pelanggan ini nggak akan dapat layanan," kata Gede.

Ia melanjutkan, tantangan lainnya adalah karena kemungkinan di sebuah lokasi, layanan 2G untuk melayani panggilan telepon masih belum cukup.

"Voice itu kan di 2G dan 3G, pada 2006 kami menggulirkan 3G secara besar-besaran sementara 2G (di area) selektif. Begitu sekarang 2G masih bertahan dan 3G dimatikan, kami harus mengkompensasi trafik panggilan ke layanan 2G dulu," kata Gede.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

ARPU Pelanggan Voice Tinggi

Lagi-lagi dia menyebut, XL Axiata tidak bisa memaksa pelanggan dalam waktu singkat untuk membeli ponsel 4G dan mematikan layanan 3G. Karena di lapangan, pelanggan datang ke gerai XL untuk berganti ke USIM itu juga sulit.

"Ada pelanggan yang berpikir 'ngapain saya ganti, kan hanya pakai untuk telepon saja'. Kami tidak ingin kehilangan subscribers, terutama subscribers layanan panggilan karena ARPU (average revenue per user)-nya besar," ujar Gede, memberikan penjelasan.

Ia mencontohkan, dibandingkan ARPU pelanggan data yang mungkin cukup dengan pulsa Rp 50 ribu untuk mengakses internet selama satu bulan, ARPU voice untuk menelepon terus menerus, dalam sebulan bisa menghabiskan Rp 100-200 ribu.

"Kami tidak ingin kehilangan pelanggan seperti ini, pengguna layanan 3G adalah customer lama yang loyal, makanya kami gunakan pendekatan yang pelan-pelan," tuturnya.

3 dari 4 halaman

Ajak Pelanggan Beralih ke SIM Card 4G

Gede juga menjelaskan, dalam proses mematikan 3G ini, semua tim XL Axiata bergerak. Bukan hanya tim jaringan tetapi juga tim marketing, untuk memastikan pelanggan secara alami beralih ke layanan 4G.

Pelanggan pun diajak untuk berganti kartu menjadi USIM 4G dan meng-upgrade perangkat 4G agar nantinya bisa merasakan panggilan suara VoLTE.

Gede mengatakan, pemerintah menargetkan 3G sunset paling lambat selesai pada akhir tahun. Namun XL Axiata ingin menyelesaikannya lebih cepat.

Pasalnya, makin cepat 3G dimatikan, spektrum frekuensi yang dipakai untuk menggelar layanan 3G bisa langsung dialihkan ke 4G. Hal ini diklaim akan meningkatkan kecepatan hingga 15 persen.

Sekadar informasi, saat ini jumlah pelanggan 3G only XL Axiata kurang dari 2 persen dari total pelanggan. Jumlah ini, menurut Gede, sekitar ratusan ribu dari total pelanggan XL Axiata sebanyak 54,83 juta pelanggan.

 

4 dari 4 halaman

Alokasikan Rp 6,3 Triliun untuk Bangun Jaringan

Presiden Direktur sekaligus CEO XL Axiata Dian Siswarini menyebut pada 2022 ini, XL Axiata menganggarkan belanja modal/ capital expenditure (capex) sebesar RP 9 Triliun.

Angka tersebut, menurut Dian, memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.

"Kami menyadari network merupakan tulang punggung XL Axiata sehingga, memberi layanan internet yang sebaik mungkin adalah tujuan kami. Capex guidance kami lebih besar (tahun 2022), yakni Rp 9 triliun," kata Dian, dalam pemaparan hasil RUPS 2022 secara daring, Jumat (22/4/2022).

Sementara itu, Direktur sekaligus Chief Technology Officer XL Axiata I Gede Darmayusa merinci, dari total capex XL Axiata di atas, perusahaan mengalokasikan 70 persen untuk pembangunan jaringan.

"Total capex Rp 9 triliun, 70 persen kami pakai di jaringan, jadi jaringan sangat besar porsinya di XL Axiata," kata Gede dalam kesempatan yang sama.

Jika dihitung, capex yang digelontorkan XL Axiata untuk jaringan adalah Rp 6,3 triliun. Jumlah ini akan dipakai untuk membangun jaringan mobile dan fixed broadband.

Gede menjelaskan, pembangunan jaringan XL Axiata difokuskan 60 persen di luar Jawa dan 40 persen di Pulau Jawa.

"Pangsa pasar di luar Jawa lebih baik dibandingkan dengan pasar kami di Jawa. Kami bisa dibilang paling kuat nomor dua, maka dari itu, investasi kami di luar Jawa tiap tahun ditingkatkan," kata Gede.

Gede mengatakan, dari segi pembangunan jaringan, XL Axiata bukan hanya fokus menambah radio dan coverage tetapi juga penambahan kapasitas dalam bentuk fiberisasi.

"Jadi dari awal kami memiliki rencana, berapa mobile yang kita sasar, target fixed, dan enterprise. Namun pembagiannya sendiri sesuai dengan dinamika. Mobile tetap menjadi driver utama, diikuti fixed dan enterprise," ujar Gede memberikan penjelasan.

(Tin/Isk)

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS