Sukses

Telkom Gantikan Indosat untuk Luncurkan Satelit Multifungsi Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan telekomunikasi Indosat mundur dari investasi pengadaan satelit multifungsi yang rencananya menempati orbit 113 derajat BT.

Selanjutnya, berdasarkan evaluasi Kemkominfo, PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) ditetapkan sebagai pengguna baru filing satelit Indonesia di slot orbit 113 derajat BT. Demikian menurut keterangan Kemkominfo yang dikutip Rabu (6/1/2020).

Telkomsat merupakan anak perusahaan Telkom yang menangani urusan satelit.

Saat ini, Telkomsat tengah mengoperasikan satelit Merah Putih di slot orbit 108 derajat BT, satelit Telkom 3S di slot orbit 118 derajat BT, dan satelit Telkom 2 di slot orbit 157 derajat BT.

Selanjutnya, Kemkominfo disebut akan melakukan pemantauan dan pengawalan terhadap proses pengadaan satelit yang dilakukan oleh Telkomsat.

2 dari 3 halaman

ITU Terima Permohonan Tenggat Waktu Penggunaan Slot Orbit

Dengan demikian, satelit bisa diluncurkan dan menempati slot orbit 113 derajat BT sebelum 31 Desember 2024.

Batas waktu tersebut sebelumnya ditetapkan kembali oleh ITU (International Telecommunication Union), setelah Kemkominfo bersurat pada ITU, menyusul kegagalan luncur Satelit Nusantara 2 pada April 2020.

ITU menerima permohonan tenggat waktu dan Indonesia diberikan waktu hingga 31 Desember 2024 untuk menempatkan satelit di slot orbit 113 derajat BT.

3 dari 3 halaman

Satelit Nusantara Dua Gagal Luncur

Sebelumnya pada April lalu, Satelit Palapa Nusantara Dua (Satelit Nusantara Dua) yang seharusnya mengorbit di 113 derajat Bujur Timur gagal meluncur karena salah satu roket pendorongnya tidak berfungsi di stage tiga peluncuran.

Akibatnya, Satelit Palapa Nusantara Dua pun jatuh ke laut dan tidak bisa diluncurkan kembali.

Padahal, seharusnya Satelit Palapa Nusantara Dua milik PT Palapa Satelit Nusa Sejahtera (PSNS) itu mengorbit di 113 derajat BT untuk menggantikan satelit Palapa D yang segera habis usia teknisnya pada 2020 ini.

Sekadar informasi, proses peluncuran menggunakan roket pendorong Long March 3B sempat berjalan dengan baik pada stage pertama dan stage kedua.

Namun, saat memasuki stage ketiga, dari kedua roket pendorong yang beroperasi, salah satunya tidak berfungsi. Demikian, sebagaimana dijelaskan oleh Direktur Utama Pasifik Satelit Nusantara Adi Rahman Adiwoso.

"Pada saat stage ketiga, salah satu roketnya tidak menyala, sehingga peluncur tidak mendapatkan kecepatan yang cukup," kata Adi, saat memberikan penjelasan kepada media dalam konferensi pers live streaming bersama dengan Kemenkominfo, Jumat (10/4/2020).

Adi mengatakan, pada stage ketiga, roket sudah berada di ketinggian 170Km. Namun karena daya dorong yang kurang, Satelit Nusantara Dua yang seharusnya meluncur menuju orbit harus jatuh ke laut.

"Satelit jatuh ke laut dan tidak bisa diselamatkan. Satelit hilang sehingga tidak bisa dipergunakan kembali," tutur Adi.

(Tin/Isk)