Sukses

Peretas Korea Utara Diduga Targetkan Pembuat Vaksin Covid-19 di Inggris

Liputan6.com, Jakarta - Peretas Korea Utara (Korut) diduga mencoba membobol sistem pembuat obat asal Inggris, AstraZeneca, dalam beberapa pekan terakhir. Perusahaan sedang berusaha mengembangkan vaksin Covid-19.

Dilansir dari Reuters, Minggu (29/11/2020), para peretas itu menyamar sebagai perekrut di LinkedIn dan WhatsApp untuk mendekati para karyawan AstraZeneca dengan tawaran kerja palsu.

Menurut sumber, peretas mengirimkan sejumlah dokumen sebagai deskripsi pekerjaan yang dicampur dengan kode berbahaya yang dirancang untuk mendapatkan akses ke komputer korban.

Upaya peretasan itu menargetkan "sekelompok besar orang", termasuk para karyawan yang bekerja pada penelitian Covid-19. Namun, upaya tersebut diperkirakan tidak berhasil.

AstraZeneca merupakan salah satu dari tiga pengembang teratas vaksin Covid-19.

2 dari 4 halaman

Teknik Peretasan

Sumber mengatakan, berbagai alat dan teknik yang digunakan dalam serangan menunjukkan bahwa pelaku merupakan bagian dari kampanye peretasan, yang oleh pemerintah AS dan peneliti keamanan siber dikaitkan dengan Korut.

Menurut tiga sumber, peretasan itu sebelumnya berfokus pada perusahaan-perusahaan pertahanan dan organisasi media. Namun, kemudian beralih menargetkan yang berkaitan dengan Covid-19 dalam beberapa pekan terakhir.

3 dari 4 halaman

Laporan Microsoft dan Korsel

Informasi apa pun yang dicuri dapat dijual untuk mendapatkan keuntungan, memeras para korban, atau memberi pemerintah asing keuntungan strategi yang berharga.

Microsoft sebelumnya mengatakan pada bulan ini melihat dua kelompok peretas Korut menargetkan pengembang vaksi di beberapa negara, termasuk mengirim pesan dengan deksripsi pekerja palsu. Microsoft tidak menyebutkan nama pihak yang menjaring target.

Sementara itu, pihak Korsel pada Jumat (27/11/2020) mengatakan badan intelijennya telah menggagalkan beberapa upaya peretasan tersebut.

Mengenai serangan terhadap AstraZeneca, sumber mengatakan bahwa beberapa akun peretas didaftarkan ke alamat email Rusia. Hal ini diduga sebagai upaya untuk mengaburkan penyelidikan.

(Din/Why)

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: