Sukses

Top 3 Tekno: Profil Bos Besar Samsung Lee Kun-hee Bikin Penasaran

Liputan6.com, Jakarta - Artikel tentang profil Chairman of Samsung, Lee Kun-hee, yang meninggal dunia pada Minggu 25 Oktober 2020, bikin penasaran pembaca kanal Tekno Liputan6.com, Minggu (25/10/2020).

Selain itu, pembaca juga sangat penasaran dengan berita hacker mencuri data server lembaga pemerintah jelang pilpres AS, dan soal hakim tolak permintaah pemerintah AS untuk hapus WeChat dari toko aplikasi.

Lebih lengkapnya simak berita berikut ini.

1. Profil Lee Kun-hee, Bos Besar Samsung yang Jadi Orang Terkaya di Korea Selatan

Lee Kun-hee, Chairman of Samsung. Dok: Associated Press

Chairman of Samsung, Lee Kun-hee, meninggal dunia pada Minggu (25/10/2020) di Seoul, Korea Selatan. Ia mengembuskan napas terakhir pada usia 78 tahun.

Samsung mengumumkan meninggalnya Lee Kun-hee, tetapi tidak merinci penyebabnya. Ia diketahui lumpuh sejak serangan jantung pada tahun 2014.

Ketika Lee Kun-hee mengambil alih Samsung Group pada 1987, setelah kematian ayahnya Lee Byung-chull, banyak kalangan di negara Barat mengetahui kalau Samsung hanya pembuat televisi murah dan gelombang mikro yang tidak dapat diandalkan (selalu dijual di toko diskon).

Baca Selengkapnya di Sini

 

2 dari 3 halaman

2. Hacker Rusia dan Iran Curi Data Server Lembaga Pemerintah Jelang Pilpres AS

Ilustrasi Hacker (iStockPhoto)

Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan, menjelang Pilpres AS, ada kelompok hacker menargetkan serangan ke sejumlah jaringan milik lembaga di beberapa negara bagian.

Sejauh ini disebutkan bahwa hacker telah mencuri data setidaknya dari dua server.

Informasi ini diumumkan oleh pemerintah AS hanya dua minggu menjelang Pilpres AS.

Baca Selengkapnya di Sini

 

3 dari 3 halaman

3. Hakim Tolak Permintaan Pemerintah AS untuk Hapus WeChat dari Toko Aplikasi

WeChat (crackberry.com)

Pemerintah Amerika Serikat tampaknya begitu bersikeras menyingkirkan sejumlah aplikasi Tiongkok dari negaranya. Jika sebelumnya TikTok, kini giliran aplikasi pesan WeChat yang jadi sasaran.

Namun, seorang hakim di San Francisco AS baru-baru ini menolak permintaan Departeman Kehakiman untuk membatalkan keputusan yang memungkinkan Apple dan Google membuka platformnya untuk WeChat.

Baca Selengkapnya di Sini

(Ysl/Why)