Sukses

Instagram Rilis Fitur Pesaing Kuat TikTok

Liputan6.com, Jakarta - Instagram baru saja meluncurkan fitur baru bernama Reels yang disebut-sebut merupakan pesaing TikTok. Sebab, dengan aplikasi ini pengguna dapat membuat video pendek berdurasi 15 detik dan dapat ditambahkan dengan musik latar.

Sama seperti TikTok, seperti dikutip dari The Verge, Kamis (14/11/2019), Instagram menyediakan daftar lagu yang beragam untuk Reels, termasuk meminjam audio dari musik pengguna lain untuk dimasukkan sebagai konten.

Untuk sekarang, Reels baru diperkenalkan untuk pengguna iOS dan Android di Brasil. Keputusan Instagram meluncurkan aplikasi ini tidak lepas dari perkembangan TikTok yang luar biasa.

Sensor Tower mencatat pengguna bulanan TikTok saat ini mencapai 1,5 miliar, dengan 122 juta di antaranya berasal dari Amerika Serikat. Perlu diketahui, Facebook perusahaan induk Instagram juga pernah merilis aplikasi serupa bernama Lasso.

Aplikasi ini sebenarnya memiliki kemampuan yang serupa dengan TikTok dan diperkenalkan pada awal tahun di Meksiko. Negara itu dipilih karena dianggap belum dijangkau TikTok. 

"Jadi kita memiliki sejumlah pendekatan yang akan diambil untuk ini, dan kita memiliki produk bernama Lasso yang merupakan aplikasi mandiri," tutur CEO Facebook Mark Zuckerberg.

Menurut Zuckerberg, pihaknya ingin mengetahui respons pasar terlebih dulu terhadap aplikasi ini. Selain itu, dia ingin meninjau apakah aplikasi ini dapat menuai respons positif di negara-negara di mana TikTok belum besar, sebelum akhirnya menjangkau pasar dengan pengguna TikTok cukup besar. 

2 dari 3 halaman

Bos Facebook Kritik TikTok Gara-Gara Sensor Konten

Sebelumnya, CEO Facebook Mark Zuckerberg sempat menyinggung jejaring sosial berbasis video TikTok. Belum lama ini, dalam sebuah acara Zuckerberg mengkritik TikTok yang melakukan sensor konten tak hanya di Tiongkok, tetapi juga Amerika Serikat.

Bos media sosial raksasa ini mengkritik aplikasi yang dimiliki oleh perusahaan Tiongkok ByteDance itu.

Mengutip laman Tech Times, Selasa (29/10/2019), Zuck menekankan konten-konten TikTok yang disensor adalah konten yang tidak mencitrakan pemerintah Tiongkok secara positif, termasuk mengenai konten yang berlangsung di Hong Kong.

"Layanan milik kami, seperti WhatsApp, digunakan oleh pengunjuk rasa dan aktivis di mana-mana karena perlindungan enkripsi dan privasi. Namun, aplikasi TikTok yang pertumbuhannya begitu tinggi di seluruh dunia, justru menyebutkan aksi protes di Hong Kong telah disensor, bahkan di AS," kata Zuckerberg.

Ia pun mempertanyakan, apakah internet yang semacam itu yang diinginkan oleh penggunanya.

September lalu, The Washington Post melaporkan, pencarian tentang Hong Kong di aplikasi tersebut menunjukkan "sedikit keresahan yang terlihat."

Hal ini memicu kecurigaan bahwa aplikasi tersebut memang membatasi video yang memperlihatkan protes di Hong Kong.

3 dari 3 halaman

Ancaman Kebebasan Berpendapat

Sementara media lainnya, The Guardian mengungkapkan bahwa TikTok menginstruksikan moderator untuk menghapuskan penggunaan kata "Lapangan Tiananmen", kemerdekaan Tibet, dan kelompok Falun Gong.

Zuckerberg berpendapat, Tiongkok merupakan ancaman besar bagi kebebasan berbicara.

"Sampai saat ini, internet di hampir tiap negara di luar Tiongkok telah ditentukan oleh platform Amerika dengan ekspresi kebebasan yang kuat," katanya.

Sementara, satu dekade yang lalu, hampir semua platform internet utama adalah dari Amerika. Hari ini, 6 dari 10 aplikasi adalah milik Tiongkok.

Zuckerberg juga menyiratkan Facebook tak lagi mencoba memasuki Tiongkok. Pasalnya situs media sosial ini sudah dilarang di Tiongkok sejak 2009.

Sementara itu, juru bicara TikTok pun berbicara soal penyensoran konten di platformnya.

Kepada CNBC, TikTok mengatakan bahwa aplikasi tersebut belum menerima permintaan dari pemerintah Tiongkok untuk menghapus konten dan tidak akan memiliki yuridiksi apa pun.

Juru bicara TikTok juga bersikeras bahwa aplikasi tersebut tidak membatasi peredaran video mengenai protes yang terjadi di HongKong.

TikTok sendiri tidak beroperasi di Tiongkok. Baru-baru ini, aplikasi tersebut membuka kantor di Silicon Valley.

Namun, ByteDance juga memiliki aplikasi lain bernama Douyin, mirip dengan TikTok dan beroperasi di Tiongkok. Menurut para peneliti, Douyin begitu disensor di Tiongkok.

(Dam/Ysl)

Loading