Sukses

Grab Berhasil Tingkatkan Pendapatan Pekerja Informal di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Grab dilaporkan telah berhasil meningkatkan peluang pendapatan untuk pekerja informal di Indonesia. Informasi ini dihimpun dari riset terbaru CSIS dan Tenggara Strategics.

Hasil riset itu menunjukkan perkiraan kontribusi Grab terhadap ekonomi Indonesia sebesar Rp 48,9 triliun pada 2018. Berdasarkan keterangan resmi yang diterima Tekno Liputan6.com, Jumat (12/4/2019), kontribusi itu berasal dari empat lini usaha Grab.

Adapun GrabFood disebut menjadi penyumbang terbesar yang diikuti GrabBike dan GrabCar. Sementara Kudo dilaporokan telah memberikan dampak signifikan di kota tingkat kedua dan ketiga di Indonesia.

"Pendapatan yang ada dalam sektor informal di Indonesia sangat rendah, dan bahkan lebih dari UMP. Penggunaan dan pemanfaatan teknologi, dalam hal ini Grab, membantu mempertemukan dan menghasilkan permintaan terhadap produk dan jasa pekerja informal," tutur Kepala Departemen Ekonomi CSIS, Yose Rizal Damuri.

Lebih lanjut dijelaskan penyebab pendapatan yang ada dalam sektor informal terjadi karena rendahnya permintaan terhadap produk dan jasa sektor informal. Sementara Grab disebut dapat mempertemukan dan menghasilkan permintaan jasa dan produk informal tersebut, sehingga pendapatan dapat meningkat.

Sekadar informasi, riset CSIS dan Tenggara Strategics ini dilakukan dengan metode survei di lima kota di Indonesia, yakni Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar.

Adapun empat riset ini dilakukan pada empat lini usaha Grab, yakni GrabBike, GrabCar, GrabFood, dan Kudo. Pemilihan kota dilakukan berdasarkan tingkat penggunaan platform digital yang signifikan oleh masyarakat.

Survei ini dilakukan dari November hingga Desember 2018 terhadap 3.418 responden. Sementara survei dilakukan secara tatap muka dengan sampel mitra yang terdaftar dan aktif selama tiga bulan terakhir berdasarkan database Grab.

Penarikan sampel menggunakan metode pengacakan sistematis dan melalui metode kontrol kualitas call-back terhadap 80 persen responden. Margin of error dari penelitian ini di bawah 3,5 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

2 dari 3 halaman

Tahun Ini, Grab Targetkan Kembali Kantongi Dana Rp 28 Triliun

Grab  menargetkan dapat mengumpulkan USD 2 miliar (setara dengan Rp 28 triliun) lagi dari investor strategisnya untuk tahun ini. Hal tersebut diutarakan oleh CEO Grab Anthony Tan.

Menariknya, pernyataan itu ia sebutkan beberapa minggu setelah mengumumkan pendanaan lebih dari USD 4,5 miliar.  

"Kami berharap dapat meningkatkan USD 6,5 miliar dari total modal tahun ini," kata Anthony seperti dilaporkan Reuters via Merdeka, Senin (8/4/2019).

Dilanjutkannya, pendanaan tersebut akan menjadi campuran antara hutang dan ekuitas.

Dirinya juga menambahkan bahwa Grab sedang mencari cara untuk memperluas bisnisnya dengan cepat dalam layanan keuangan dan pengiriman makanan.

Selain itu, langkah Grab selanjutnya adalah akan melakukan akuisisi atau investasi setidaknya di enam perusahaan.

Putaran pendanaan Grab yang besar dimulai tak lama setelah membeli operasi Uber di Asia Tenggara pada Maret 2018 dan sebagai imbalannya, Uber mengakuisisi 27,5 persen saham di bisnis Grab.  

3 dari 3 halaman

Grab Raih Status Decacorn, Apa Itu?

Setelah merger dengan Uber di Asia Tenggara pada tahun lalu, Grab telah berkembang begitu pesat. Grab berhasil menjadi superapp pertama dan terbesar di Asia Tenggara.

Kini, perusahaan teknologi yang beroperasi di 336 kota di Asia Tenggara itu telah menjadi startup yang meraih status decacorn pertama di Asia Tenggara. Lalu, apa itu decacorn?

Decacorn adalah sebutan untuk startup yang memiliki valuasi lebih dari USD 10 miliar. Valuasinya 10 kali lipat lebih besar dibandingkan unicorn, namun 10 kali lipat di bawah hectocorn.

Saat ini, valuasi Grab sudah mencapai USD 11 miliar. Grab sendiri menawarkan solusi sehari-hari dengan layanan transportasi, pengiriman barang dan makanan, pembayaran mobile, serta hiburan digital.

Dengan filosofi terbuka, Grab menyatukan para mitra untuk membuat hidup lebih baik bagi semua pengguna di Asia Tenggara.

Sebelumnya, startup yang berbasis di Singapura itu baru saja masuk dalam daftar perusahaan paling inovatif. Dikutip dari Business Insider, Grab berada di urutan kedua perusahaan paling inovatif.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Menko Luhut Ajak Santri Bangun Startup
Artikel Selanjutnya
Survei: Kontribusi Grab ke Ekonomi Indonesia Capai Rp 48,9 Triliun di 2018