Sukses

Tak Dijual, Pemilik Situs Web Prabowosandi.org Cuma Ingin Foto Bareng

Liputan6.com, Jakarta - Setelah deklarasi calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) berlangsung beberapa hari lalu, muncul banyak domain situs web baru mengatasnamakan Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf.

Penelusuran Tekno Liputan6.com, beberapa situs web baru ini dijual dengan harga selangit.

Ada situs web prabowosandi.id dan prabowosandi.com yang dijual seharga Rp 1 juta, sedangkan ada pula situs web jokowimaruf.id dan jokowimaruf.com dibanderol lebih tinggi, yakni Rp 2 miliar.  

Ada lagi situs web dengan nama prabowosandi.org. Lucunya, situs web ini tidak dijual dengan harga tinggi seperti situs-situs yang disebutkan di atas.

Dalam laman utamanya, si pemilik situs web tersebut cuma memiliki permintaan sederhana, yakni hanya ingin foto dengan pasangan Prabowo-Sandiaga.

Di bawahnya, terpampang foto Prabowo dan Sandiaga dengan latar belakang bendera Merah Putih.

"DOMAIN TIDAK DiJUAL !!KHUSUS DIDEDIKASIKAN UNTUK PERJUANGAN #2019PrabowoSandi," tulisnya.

"SYARAT: Pemilik Domain cuma minta PHOTO BARENG dengan PRABOWO & SANDI," ucap pemilik domain prabowosandi.org.

Diduga, pemilik situs web tersebut adalah seorang relawan. Hal ini dibuktikan dari tulisan Kawan PS-Prabowo Sandi.

Untuk informasi, domain.org adalah kependekan dari organisasi. Tujuan domain tersebut biasanya dipakai untuk keperluan nonprofit. Beberapa institusi juga menggunakan domain .org untuk domain sekolah, situs sekolah, dan juga perusahaan komersial.

 

 

 

2 dari 4 halaman

Tak Punya Legal Interest, Situs Web Prabowo dan Jokowi Bisa Dialihkan

Kegiatan memperjualbelikan domain capres-cawapres untuk keuntungan semata bisa dianggap sebagai cybersquatting.

Apalagi, domain web prabowosandi.id dan jokowimaruf.id dibanderol hingga miliaran rupiah. Padahal, saat membeli sebuah domain.id di Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI), hanya dibebani biaya sebesar Rp 250 ribu.

Meski begitu, Ketua Umum PANDI Andi Budimansyah mengatakan, di PANDI pihaknya memiliki mekanisme dan panel untuk penyelesaian perselisihan nama domain.

"Setelah dia (pembuat domain capres-cawapres) membeli dan menjualnya untuk keuntungan, itu adalah sebuah iktikad yang kurang baik, tetapi di PANDI sesuai PP 82 kami memiliki mekanisme dan panel untuk penyelesaian perselisihan nama domain," kata Andi saat dihubungi Tekno Liputan6.com, Senin (13/8/2018).

Namun, menurut Andi, panel tersebut bersifat pasif. Artinya, panel baru mulai menyelesaikan perselisihan nama domain ketika mendapat laporan keberatan dari pihak yang memiliki kepentingan hukum atas domain Prabowo-Sandi atau Jokowi-Ma'ruf.

"Setelah mendapatkan laporan, panel akan menilai apakah pihak yang keberatan itu memiliki legal interest," katanya.

Pihak yang memiliki legal interest yang dimaksud, menurut Andi, bisa tim kampanye atau capres dan cawapres yang dimaksud.

Setelah perselisihan nama domain diselesaikan, PANDI bisa mengalihkan domain yang dimaksud ke pihak yang memiliki kepentingan hukum.

3 dari 4 halaman

Proses Penyelesaian Pertikaian Nama Domain

"Sanksinya tidak ada, tapi domain yang dimaksud akan dialihkan ke yang punya kepentingan, karena kalau dihapus malah nanti bisa dipakai lagi untuk disalahgunakan," ujar Andi.

Menurut Andi, proses penyelesaian perselisihan nama domain bisa memakan waktu hingga tiga bulan.

"Karena harus diuji yang keberatan ini alasannya apa, siapa yang mengajukan, punya legal interest atau tidak, dan yang mengambil nama domain juga akan ditanya apa kepentingannya membuat nama domain yang dimaksud," kata Andi menjelaskan.

"Kalau memang si pembuat domain ini tidak memiliki kepentingan apa-apa, ya berarti hanya pedagang domain yang mencari keuntungan," tutur Andi.

Dia pun menyarankan kepada semua pihak untuk mendaftarkan nama domain segera sebelum mengumumkan sebuah ide. Tujuannya agar domain yang dimaksud tidak keburu diambil oleh pihak lain.

"Domain di era internet ini kan semakin penting, sehingga kalau punya ide segera didaftarkan," ujarnya.

4 dari 4 halaman

Cybersquatting

Menurut Andi, membeli domain dari PANDI, kemudian menjualnya kembali dengan harga sangat tinggi bukanlah sebuah itikad yang baik dan disebut sebagai cybersquatter.

"Orang-orang ini (yang membuat dan menjual domain) tidak beriktikad baik. Mereka adalah orang yang mengambil sebuah domain, kemudian memperjualbelikan untuk kepentingannya sendiri, untuk mengambil keuntungan," lanjutnya.

Padahal, kata Andi, para pembuat domain ini bisa saja bukanlah orang yang memiliki legal interest dengan pasangan capres atau cawapres.

Sekadar diketahui, domain prabowosandi.id dan prabowosandi.com ditawarkan seharga Rp 1 miliar masing-masing. Sementara, domain jokowimaruf.id dan jokowimaruf.com dilego seharga Rp 2 miliar.

Padahal, menurut Andi, saat membeli domain .id dari PANDI, para pembeli hanya dikenai biaya biasa Rp 250 ribu.

Artinya, para pembuat domain berdasarkan pasangan capres-cawapres ini berupaya mengambil keuntungan dan memanfaatkan situasi politik yang ada.

(Tin/Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Sandiaga: Jangan Lelah Promosikan Produk Bangsa Sendiri
Artikel Selanjutnya
Bertolak ke Beijing, Prabowo Bahas Kerja Sama Pertahanan dengan China