Sukses

Gerhana Bulan Terlama Jadi Pertanda Kiamat, Benarkah?

Liputan6.com, Jakarta - Pada akhir pekan ini, penduduk bumi akan disuguhkan fenomena alam yang sejatinya sudah tak asing lagi, yakni gerhana bulan total.

Gerhana bulan total tersebut bakal berlangsung pada 28 Juli 2018. Gerhana yang bernama "Micro Blood Moon" ini juga diklaim sebagai gerhana bulan total terlama di abad ke-21. 

Di sisi lain, para penganut teori konspirasi menyebut fenomena alam ini pertanda kiamat sudah dekat. Anggapan mereka itu berdasar dari yang tertulis dalam Kitab Yoel (Book of Joel) 2:30-31.

Adalah Irvin Baxter, Presiden Endtime Ministeries--organisasi Kristen Pantekosta Amerika dan seorang guru nubuatan Alkitabiah--mengatakan Kitab Yoel mengajarkan pada umat manusia bahwa hari kiamat sedang bergerak mendekat. Baxter sudah telah memprediksi kiamat sejak pertengahan 1980-an.

Namun, anggapan itu dipatahkan para astronom melalui penjelasan yang lebih logis. Menurut seorang astronom Dubai, Hasan Ahmad Al Hariri, Micro Blood Moon hanyalah sebuah fenomena astronomi alami.

"Gerhana bulan total ini sangat panjang, orang-orang ketakutan dan berspekulasi bahwa kejadian ini pertanda buruk," katanya seperti dikutip Dream dari Mirror, Kamis (26/7/2018).

"Jenis-jenis takhayul seperti itu selalu membuntuti fenomena semacam ini. Kami memberi tahu semua orang bahwa semua anggapan itu tidaklah benar. Micro Blood Moon hanyalah peristiwa alam biasa," Lanjutnya.

 

 

2 dari 3 halaman

Gerhana Bulan Terlama Juga Bakal Dihiasi Hujan Meteor

Gerhana bulan total terlama juga bakal dihiasi fenomena alam lainnya, yakni hujan meteor.

Informasi tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin.

Namun demikian, hujan meteor yang nantinya berlangsung bersamaan dengan gerhana bulan total terlama tidak akan bisa disaksikan secara utuh.

"Nanti di atas Bulan yang memerah, akan ada beberapa titik pancar hujan meteor, ada beberapa area yang akan mengalami puncak (hujan meteor) saat malam itu, seperti Southern Delta Aquarids (sekitar 20 meteor per jam) dan Piscic Austrinis (sekitar lima meteor per jam," ujar Thomas kepada Tekno Liputan6.com, Kamis (26/7/2018).

Selain hujan meteor, Planet Mars juga bisa disaksikan bersamaan dengan gerhana bulan total terlama.

Lantas, bagaimana cara menyaksikan si Planet Merah saat gerhana bulan total terlama berlangsung? Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, mengungkap caranya.

"Lintasan Bulan dekat dengan garis tengah lingkaran bayangan Bumi, jarak Bulan juga saat itu menjauh dari Bumi. Karenanya, Purnama nanti akan berada di dalam kegelapan bayangan Bumi lebih lama," jelas Thomas.

Dari situ, Purnama bakal meredup dan memendarkan warna sedikit kemerahan. Di situ, kita bisa menyaksikan satu titik terang kemerahan di samping kiri Purnama.

"Itu adalah Planet Mars. Planet tetangga Bumi yang mengalami Purnama juga, sehingga kalau dilihat (dari Bumi) hanya tampak seperti titik bintang yang terang," lanjutnya.

3 dari 3 halaman

Puncak Gerhana

Dijelaskan peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN Rhorom Priyatikanto, seluruh wilayah Indonesia memiliki kesempatan untuk melihat gerhana bulan total pada 28 Juli, tepat pada waktu dini hari.

“Puncaknya pukul 03.23 WIB. Di banyak berita disebutkan tanggal 27 Juli (waktu Greenwich, UK),” ujar Rhorom kepada Tekno Liputan6.com via pesan teks.

Terkait durasi gerhana, Rhorom mengungkap durasi gerhana total 1 jam 43 menit. Lalu, kenapa durasi gerhana bulan kali ini lebih lama dari biasanya?

“Memang lama karena saat itu Bulan jauh dari Bumi (di titik apogee, tampak sebagai micromoon), kebalikan dari Super Blue Blood Moon pada Januari lalu,” tandasnya.

(Jek/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: