Sukses

Pegawai Google Ajak Investor Lawan Diskriminasi di Kantor

Liputan6.com, Mountain View - Lelah dengan adanya diskriminasi di kantor, pegawai Google berinisiatif mengajak investor agar mempengaruhi para eksekutif Google.

Dilansir Bloomberg, Kamis (7/6/2018), para pegawai Google menggandeng investor demi mendorong terciptanya diversity (keanekaragaman) di tempat kerja mereka.

Proposal tersebut akan diberikan pada pertemuan shareholder di Mountain View, California. Lewat agenda ini, mereka menghadirkan rencana terkait diversity dan inklusi kepada Alphabet (induk Google).

Salah satu insinyur Google pendukung agenda ini adalah Liz Fong-Jones.

"Para eksekutif bisa dimotivasi dengan uang. Dibutuhkan adanya sinyal jelas dari para shareholder agar mereka menghargai inklusi," ucapnya.

Fong-Jones menanggap pihak perusahaan belum melakukan tugas mumpuni dalam melawan hal-hal negatif di tempat kerja, seperti pelecehan.

Kekhawatiran kalangan pegawai berkembang semenjak mantan pegawai Google bernama James Damore menuliskan catatan. Menurutnya, secara biologis perempuan tidak secakap laki-laki dalam pekerjaan di sektor teknologi.

Tulisan Damore menghadirkan pro dan kontra, ada yang setuju dan tidak setuju. Namun, ia akhirnya tetap dipecat oleh CEO Google Sundar Pichai.

2 dari 3 halaman

Pegawai Sektor Teknologi Ternyata Rentan Stres

Tidak hanya menghadapi diskriminasi karena masalah gender, pegawai sektor teknologi seperti di Google juga rentan mengalami stres.

Dilansir Business Insider, sebuah aplikasi pesan bernama Blind melakukan survei kerja secara anonim pada lebih dari 11 ribu di 30 perusahaan teknologi terbesar.

Pertanyaan yang diberikan adalah, "Apa saat ini Anda mengalami burnout karena pekerjaan?" Dengan pilihan jawaban "Ya" dan "Tidak".

Hasilnya, secara keseluruhan 57,1 persen pekerja mengaku mengalami burnout. Untuk diketahui, burnout berarti kondisi stres yang membuat kelelahan fisik dan mental.

Lebih dari setengah pegawai di perusahaan-perusahaan terkenal juga mengalami stres, mulai dari Amazon (59,5 persen), Intel (58,4 persen), Microsoft (57,6 persen), Apple (57,4 persen), LinkedIn (55,3 persen), Pinterest (53,85 persen), dan Google (53,83 persen).

Sementara itu, Facebook berada di posisi lima terbawah dengan jumlah pegawai yang stres 49,5 persen, lalu diikuti oleh Twitter (43,9 persen), dan PayPal (41,8 persen).

Lantas siapa yang ada di posisi terakhir? Untuk juru kunci ditempati oleh Netflix dengan jumlah pegawai yang mengalami stres hanya 38,8 persen.

3 dari 3 halaman

Terjadi Juga di Tiongkok

Kasus yang terjadi di sektor teknologi negara barat juga terjadi di Tiongkok.

Sektor teknologi Tiongkok juga dituduh seksis karena menghadirkan iklan-iklan lowongan yang mengeksploitasi perempuan. Selain itu, jam kerja di Tiongkok juga terbilang parah. 

Bloomberg menyebut perusahaan teknologi Tiongkok memiliki beban kerja "996", yaitu bekerja dari pukul sembilan pagi sampai sembilan malam selama enam hari dalam seminggu.

Pola pekerjaan "996" ditenggarai jadi penyebab orang-orang usia paruh baya tidak terlalu dipandang saat melamar pekerjaan di sektor teknologi. Hal ini tentu juga menguntungkan perusahaan, sebab upah orang-orang muda tergolong lebih murah.

"Kebanyakan orang di usia 30-an sudah menikah dan harus mengurus keluarga, sehingga mereka tidak akan bisa fokus ke pekerjaan intensitas tinggi," kata Helen He, seorang tech recruiter di Shanghai.

Hukum di Tiongkok hanya melarang diskriminasi atas dasar jenis kelamin, agama, dan disabilititas, tetapi Bloomberg sempat melaporkan tindak diskriminasi seperti terhadap jenis kelamin juga tidak sepenuhnya ditanggapi serius oleh pihak berwajib. 

(Tom/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut