Sukses

Soal Pembayaran Digital, Orang Indonesia Masih Price Oriented

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah secara terus-menerus fokus untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi digital di Asia Tenggara pada 2020.

Lewat program Gerbang Pembayaran Nasional (GPN), transaksi nontunai akan menjadi pilihan tepat untuk transparansi yang lebih baik.

Pembayaran nontunai juga menjadi sebuah tren dan solusi perbankan. Produk terkait pun dikeluarkan oleh institusi perbankan maupun nonperbankan.

Lalu, bagaimana dengan tren pembayaran digital di Indonesia? Director ICT Strategy & Marketing Huawei Indonesia, Mohamad Rosidi, mengatakan tren transaksi online di Indonesia masih price oriented. Belum masuk ke fase user experience.

"Sulit untuk memprediksi kapan tren itu akan berubah (dari price oriented ke user experience) di Indonesia. Itu akan berubah dengan sendirinya. Namun, penetrasinya sudah mulai terlihat," kata Rosidi di Jakarta, Senin (18/12/2017).

Menurut Rosidi, penetrasi pembayaran digital bisa cepat diadopsi masyarakat Indonesia kalau koneksi 4G sudah merata. Teknologi 4G LTE diyakini akan menjadi dominan paling cepat pada 2020.

Rosidi mengungkap Indonesia masuk posisi 40 dari 50 negara dalam Global Connectivity Index (GCI) pada 2017. Menurutnya posisi Indonesia ini baru masuk tahap pemula.

Indeks ini mengukur 50 negara dari konektivitas, penggunaan information, communication and technology (ICT), digital transformasi, penyedia transformasi, dan rencana ICT bagi pembuat kebijakan untuk mendorong ekonomi digital.

2 dari 2 halaman

Nilai Transaksi Uang Elektronik

Di sisi lain, dengan populasi lebih dari 260 juta orang (terbesar ke-4 di Asia Tenggara), Indonesia termasuk negara dengan pertumbuhan pasar e-Commerce terbesar di Asia Tenggara, didukung dengan tren pembayaran digital.

Berdasarkan data Bank Indonesia, nilai transaksi uang elektronik periode Januari-Oktober 2017 naik 60 persen menjadi Rp 8,77 triliun, dari periode sama pada 2016 sebesar Rp 5,48 triliun.

Sementara uang elektronik yang beredar di masyarakat tumbuh 48 persen menjadi 75 juta unit dari 51,2 juta unit pada akhir 2016.

(Isk/Cas)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

 

Loading