Sukses

NASA Mulai Garap Observatorium Ruang Angkasa Baru

Liputan6.com, Jakarta - Berkat suntikan dana Kongres, NASA telah mempercepat pengembangan teleskop yang bisa menjawab beberapa pertanyaan paling mendasar tentang alam semesta dan planet di luar tata surya yang terdekat.

Pada pertemuan tahunan American Astronomical Society Senin (4/1/2016) kemarin, yang dikutip dari Ars Technica, Jumat (9/1/2016), Paul Hertz dari NASA mengatakan, proyek Wide Field Infrared Survey Telescope (WFIRST) secara resmi akan dimulai tahun ini.

Hertz, yang memimpin divisi astrofisika NASA, membuat pengumuman setelah Kongres meningkatkan pendanaan untuk proyek teleskop baru senilai US$ 90 juta untuk tahun fiskal 2016. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari angka permintaan anggaran Presiden senilai US$ 16 juta.

Cermin 2,4 meter dari teleksop tersebut dirancang untuk mengukur cahaya dari hampir 400 juta galaksi dan 2.600 planet di luar tata surya selama misi enam tahun utamanya.

Proyek WFIRST muncul sebagai prioritas utama NASA setelah astronom, dalam survei terakhir mereka di 2010, mengatakan bahwa misi tersebut akan menjawab beberapa pertanyaan terpenting mereka.

Proyek ini telah berkembang dari waktu ke waktu, tetapi sekarang sedang dirancang untuk memanfaatkan sebuah satelit mata-mata yang disumbangkan ke NASA oleh National Reconnaissance Observatory pada 2012 kemarin. Dan proyek ini akan meluncur dalam waktu sekitar satu dekade.

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

Teleskop mata-mata yang telah dimodifikasi, dengan ukuran cermin yang sama dengan teleskop luar angkasa Hubble, kemungkinan akan membawa dua instrumen.

Instrumen selebar lapangan akan memiliki sudut pandang sekitar 100 kali lebih besar dari Hubble, yang memungkinkan untuk melihat lebih banyak galaksi dalam jumlah waktu lebih singkat.

Dengan membuat pengukuran yang tepat dari jarak dan lokasi galaksi, astronom akan bisa memahami bagaimana energi gelap telah berubah dari waktu ke waktu.

Sudut pandang selebar lapangan juga akan mengarah pada penemuan ribuan planet di luar tata surya baru. Selain itu, untuk sistem dekatnya, instrumen coronagraph yang diusulkan akan menggunakan sebuah cakram untuk menghalangi cahaya dari bintang-bintang, yang memungkinkan para astronom secara lebih baik melihat planet di luar tata surya yang lebih redup, yang mengorbit. Hal ini bisa memberikan gambar pertama langsung dan spektrum dari planet di luar tata surya.

Selama fase perumusan proyek WFIRST, NASA akan menilai teknologi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tujuan keilmuan dari misi ini, dan mengembangkan anggaran dan waktu untuk konstruksi, pengujian dan peluncuran instrumen.

Hertz memperingatkan bahwa area lain dari anggaran ini dapat 'terjepit' di tahun-tahun mendatang karena Kongres mengarahkan NASA untuk terus maju dengan WFIRST dan menyelesaikan James Webb Space Telescope agar meluncur pada 2018.

(Why/Cas)

Loading