Sukses

Fenomena Gerakan Feminisme di Media Sosial

Liputan6.com, Jakarta - Tahun 2015 ini, bisa dibilang kaum wanita sudah mendapat lebih banyak hak dibanding 100 tahun lalu. Contohnya, wanita kini bisa berkarir dan ikut pemilihan suara.

Namun bukan serta-merta kaum wanita dan pria sudah setara. Di sebagian negara, tubuh wanita masih dianggap objek, seperti maraknya iklan yang mengekspos bagian tubuh wanita yang dianggap seksual seperti payudara dan bokong. Ditambah lagi dengan isu pemerkosaan dan kekerasan rumah tangga yang masih saja santer terdengar.

Keuntungannya, melalui media sosial, kaum wanita punya tempat untuk mendiskusikan pengalaman dan perjuangan mereka dalam masyarakat.

Dilansir dari laman AWW, Kamis (26/2/2015), situs blogging Tumblr merupakan media sosial yang menjadi pelopor gerakan feminisme di kaum gadis-gadis muda dan masyarakat keseluruhan di media sosial. Gerakan ini pun merebak ke Twitter.

Akan tetapi, gerakan feminisme di media sosial tidak bebas dari kritik. Salah satunya, banyak yang bertanya "apa iya mem-postting pendapat di internet bisa membuat perubahan?"

Namun buktinya, setidaknya ada empat kampanye feminisme paling berpengaruh di beberapa tahun belakangan ini.

1. #YesAllWomen

Hashtag ini merupakan 'jawaban' untuk para pria yang berkilah tentang seriusnya isu kekerasan terhadap wanita. Berbagai tweet dengan hashtag #YesAllWoman diikuti dengan kisah-kisah pribadi para pengguna twitter yang pernah mengalami atau menyaksikan isu tersebut. Kampanye ini menghasilkan berbagai artikel dan diskusi-diskusi profesional.

2. #notbuyingit

Berawal di tahun 2011 oleh Representation Project. Kempanye ini mengekspos ketidaksetaraan gender, stereotype, dan diskriminasi. Tagar ini berhasil mencegah beberapa perusahaan untuk membuat  promosi atau iklan dengan mengobjektifikasi tubuh wanita.

3. #standwithwendy

Wendy Davis, seorang politisi Demokrat mengadakan protes di Texas. Protes Davis bertujuan supaya negara bagian itu menggagalkan undang-undang yang melarang wanita mendapatkan jaminan kesehatan. Ia dan orang-orang pengikutnya berdiri selama 13 jam tanpa istirahat.

Walau protes Davis tidak diliput media, hashtag #standwithwendy menjadi viral di internet dan mendapatkan pendukung yang tak terhitung banyaknya. Davis kini mendapat dukungan untuk menjadi gubernur Texas dan kesempatan untuk menggagalkan undang-undang itu.

4. #everydaysexism

Hashtag ini dimulai oleh Laura Bates, seorang wanita asal Inggris, pada tahun 2012. Ia berbicara tentang berbagai jenis seksisme yang umum dialami wanita sehari-hari dan sering dianggap remeh. Mulai dari kaum pria iseng yang menggoda wanita di jalan, hingga bagaimana berkomentar kejam tentang penampilan atau berat badan seorang wanita dianggap hal normal.

Hashtag ini berisi kumpulan kisah-kisah serupa dari wanita di seluruh dunia. Kompilasi kisah-kisah ini pun dimuat di blog everydaysexism.tumblr.com. Tahun 2014 lalu, Bates menerbitkan buku berjudul Everyday Sexism.

(kra/isk)