Pengakuan Ibu Manohara soal Kronologi Dugaan Premanisme yang Ia Adukan ke Bareskrim Polri

Ibunda Manohara, Daisy Fajarina, menjelaskan persoalan bermula ketika seorang pelanggan tetap memesan air minum sebanyak 15 boks dari restoran miliknya.

Diterbitkan 15 Oktober 2026, 00:04 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ibunda Manohara Odelia Pinot, Daisy Fajarina, didampingi kuasa hukumnya, mendatangi Bareskrim Polri, pada Selasa (13/10/2026). Kedatangannya guna mengadukan dugaan tindakan premanisme yang dialaminya di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Kuasa hukum Daisy, Erles Rareral, mengatakan bahwa pihak kepolisian telah menerima pengaduan tersebut. Ia berharap pihak yang berwajib segera menindaklanjuti laporan dan mengusut pihak-pihak yang diduga terlibat dalam insiden itu.

"Laporan kita sudah diterima dengan baik, Puji Tuhan sudah diterima dengan baik, dan akan diproses menurut informasi Jumat atau Senin nanti akan dikabari mengenai perkembangan dari laporan ini," kata Erles usai membuat laporan.

Daisy mengaku mengalami perlakuan tidak menyenangkan saat hendak mengambil dagangan dari tempat usahanya di sebuah gedung yang terletak di Kemang. Daisy menjelaskan, persoalan bermula ketika seorang pelanggan tetap memesan air minum sebanyak 15 boks dari restoran miliknya.

Untuk memenuhi pesanan tersebut, ia menghubungi pegawainya dan meminta agar barang disiapkan sebelum dikirimkan kepada pelanggan. Namun kurang dari setengah jam kemudian, pegawainya menghubungi Daisy dan menginformasikan bahwa air minum tersebut tidak boleh dikeluarkan karena harus mendapat izin dari pihak manajemen gedung.

"Lalu saya dengan yang seperti biasa kan saya hubungin pegawai saya di restoran, saya bilang, 'Tolong siapkan air 15 boks untuk beliau, untuk customer kami yang memang sudah regular memesan air di kami.' Terus nggak sampai setengah jam pegawai kami menghubungi Mama lagi, bilang, 'Bunda, airnya nggak boleh keluar. Harus ada izin dari manajemen,'" tutur Daisy.

Penjelasan Pihak Gedung

Daisy lalu mendatangi langsung pihak gedung untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Ia mengaku sudah berusaha meminta izin agar barang dagangan itu bisa dibawa keluar, terlebih restoran miliknya tidak lagi beroperasi selama hampir satu bulan sejak 2 Oktober akibat situasi pembongkaran gedung.

"Sesampainya saya di sana, saya tetap tidak diizinkan. Saya sampai memohon, 'Gimana kok ini namanya penyanderaan barang kan. Saya hanya, memang tugas kami, pekerjaan kami adalah restoran gitu loh, dan restoran kita ini udah hampir 1 bulan dari sejak tanggal 2 kita udah nggak operasi lagi karena situasi pembongkaran gedung dan lain-lain sebagainya. Sedikit sekali yang kita dapat income dari air ini, tapi kita harus menjaga relationship dengan customer kita kan,' gitu. 'Oh tetap tidak bisa,'" ungkapnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Daisy mengaku sempat menjelaskan bahwa pelanggan yang memesan air minum tersebut merupakan seorang aparat berpangkat tinggi. Namun, menurut pengakuannya, petugas keamanan tetap menolak mengizinkan barang keluar dengan alasan menjalankan tugas. "Terus saya bilang, 'Maaf ini dengan segala rasa hormat, beliau ini juga aparat loh yang memesan air, bukan mau sombong atau bagaimana ya, gitu loh. Tapi aparat yang juga udah bintang lah,'. 'Oh kita nggak peduli mau bintang 10, kita hanya menjalankan tugas,' katanya," ujar Daisy.

Halaman
Show All
m.altaf.jauhar, Ratnaning AsihTim Redaksi
Copy Link
Batalkan