BISIKAN DESA GRINGSING Jadi Film Horor Indonesia Pertama yang Gunakan Teknologi Virtual Production

Bisikan Desa Gringsing menghadirkan horor misteri tentang pencarian ayah, teror Fatimah, serta penggunaan virtual production.

Diterbitkan 28 September 2026, 16:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Sejumlah adegan dibuat menggunakan LED volumetric stage yang memungkinkan lingkungan digital fotorealistik ditampilkan secara real time di hadapan para pemain. Sementara itu, adegan lainnya dikerjakan menggunakan real set. Kedua metode tersebut dipadukan untuk membangun dunia Desa Gringsing, termasuk jalanan berkabut, bangunan desa yang terasa mengancam, hingga rangkaian peristiwa supernatural.

“Bisikan Desa Gringsing menunjukkan bagaimana teknologi dapat memberikan hasil terbaik ketika digunakan untuk mendukung cerita. Dengan memadukan virtual production, real set, serta talenta kreatif dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia, kami bersama-sama membangun Desa Gringsing sebagai satu dunia sinematik yang utuh. Kami bangga menjadi bagian dari kolaborasi ini dan tidak sabar untuk akhirnya membawa pengalaman Desa Gringsing kepada penonton di layar lebar,” ujar Nick GC Tan, Founder dan CEO Oceanus Media Global (OMG Studios).

Penggunaan dua pendekatan produksi tersebut juga membuat kesinambungan visual menjadi salah satu tantangan utama. Proses pengambilan gambar di studio virtual production dilakukan lebih dahulu sebelum produksi berlanjut di real set. Karena itu, detail ruang, pencahayaan, komposisi, hingga pergerakan pemain perlu dirancang secara presisi agar lingkungan digital dan fisik tetap terasa berada dalam dunia yang sama.

 

Tantangan Syuting Virtual dan Real Set

Perpindahan dari lingkungan virtual menuju set nyata turut memengaruhi proses penyutradaraan dan permainan para aktor. Teknologi yang digunakan harus tetap mendukung kebutuhan cerita, sekaligus membuat seluruh elemen terasa menyatu ketika tampil sebagai satu film.

“Buat saya, tantangan menariknya justru bagaimana teknologi dan real set akhirnya tidak terasa sebagai dua dunia yang berbeda ketika menjadi satu film. Karena kami syuting di studio virtual production lebih dahulu, banyak hal harus sudah dipikirkan sejak awal agar ketika dilanjutkan di real set, visual, blocking, sampai atmosfernya tetap terasa menyambung. Teknologi memberi kami kemungkinan baru, tetapi pada akhirnya semuanya harus bekerja untuk membuat penonton percaya bahwa Desa Gringsing benar-benar satu tempat yang utuh,” ujar Ivander Tedjasukmana, penulis dan sutradara Bisikan Desa Gringsing.

Proses tersebut tidak hanya mengandalkan teknologi. Sinematografi, tata artistik, tata suara, musik, serta permainan para aktor ikut digunakan untuk membangun Desa Gringsing sebagai sebuah dunia yang secara perlahan membawa cerita menuju lapisan misteri berikutnya.

Dalam perjalanan emosional film, lagu “Perjalanan Menawar Racun” karya Kunto Aji juga menjadi salah satu bagian yang digunakan untuk melengkapi cerita.

 

Aghniny Haque Rasakan Tantangan Membangun Karakter Hesti

Bagi Aghniny Haque, penggunaan virtual production dan real set menghadirkan pengalaman berbeda dalam membangun perjalanan karakter Hesti. Ia harus mempertahankan keyakinan bahwa seluruh kejadian yang dialami karakternya berlangsung di satu dunia yang sama meski proses pengambilan gambar dilakukan dengan pendekatan berbeda.

“Sebagai pemain, saya harus percaya bahwa semua yang dialami Hesti benar-benar terjadi di satu dunia yang sama, meskipun proses syutingnya dilakukan dengan pendekatan yang berbeda. Saat di studio virtual production, lingkungan Desa Gringsing sudah bisa kami lihat langsung di layar LED, sementara ketika berpindah ke real set, tantangannya adalah menjaga kembali emosi dan pengalaman Hesti agar tetap berkesinambungan. Buat saya ini pengalaman baru yang menarik, karena teknologi akhirnya tetap harus bertemu dengan hal paling mendasar dalam akting, yaitu bagaimana kita percaya pada situasi dan karakter yang kita jalani,” tutur Aghniny Haque, pemeran Hesti.

Menjelang penayangannya, Bisikan Desa Gringsing juga telah diperkenalkan langsung kepada penonton melalui special screening yang berlangsung pada 12–13 September 2026 di sejumlah bioskop. Tim film turut mendatangi sejumlah sekolah kejuruan dan universitas melalui film talks.

Kegiatan tersebut mendapat sambutan antusias, terutama terkait pengalaman tim produksi dalam menggunakan teknologi virtual production serta menjalankan kolaborasi produksi internasional.

 

Kolaborasi Indonesia, Singapura, dan Malaysia

Bisikan Desa Gringsing merupakan hasil kolaborasi produksi internasional antara Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Proses produksinya memanfaatkan studio virtual production milik OMG Studios di Iskandar Malaysia Studios (IMS), Johor, Malaysia.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan cerita dan talenta Indonesia dengan teknologi, infrastruktur, serta kerja kreatif lintas negara di Asia Tenggara.

Film ini dibintangi Aghniny Haque, Fatmah Nahdi, Surya Saputra, Kiki Narendra, Iskak Khivano, Hesti Putri, Iyang Darmawan, Akun Gege, Swetajaloe, Nina Tamam, Mian Tiara, Nizar Umar, Azkya Mahira, Shaqueena Medina Lukman, dan Nazhira Rizka.

Bisikan Desa Gringsing telah tayang di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026 dan selanjutnya dijadwalkan hadir di Malaysia, Singapura, Turki, serta Azerbaijan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Guntur MerdekawanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan