Laporan Liputan6 dari Polandia: Nyonya Kazimiera, Burung Dara, dan Lahirnya Kembali Kota Warsawa

Menapaki Kota Tua Warsawa bak mengumpulkan keping-keping sejarah lalu menyusunnya jadi pelajaran hidup soal merawat harapan dan memulai kembali.

Diterbitkan 22 Oktober 2025, 22:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Saat malam menjemput siang dan mega-mega meneteskan gerimis, sejumlah lampu mulai memandikan gedung-gedung kota tua Warsawa dengan cahaya. Termasuk, sebuah restoran dengan dinding abu-abu di salah satu gang. Untaian lampu membuatnya tampak benderang kehijauan.

Sebuah kosen dengan bagian atas melengkung bercat broken white mencuri perhatian para turis, yang menyusuri ibu kota Polandia. Lengkungnya memang jamak ditemukan di bangunan kota tua lain di bebagai negara. Namun, ada patung sekumpulan burung dara bertengger di atasnya.

Dua di antaranya mengepakkan sayap dengan gagah. Sepintas, koloni burung dara ini tampak biasa sampai sebuah rahasia sejarah terkuak dan nama Kazimiera Majchrzak disebut. Kazimiera Majchrzak dijuluki Pigeon Lady. Wanita Merpati.

Malam itu, rekam jejak sejarah mengajak para turis, termasuk jurnalis Liputan6.com, Wayan Diananto, menunggangi mesin waktu dengan tujuan kembali ke era Perang Dunia 2. Tepatnya, ke dekade 1940. Satu pertanyaan menyelinap di benak.

Siapa Kazimiera Majchrzak sebenarnya? Mengapa ia dan populasi burung dara ini begitu penting bagi Polandia? Kazimiera Majchrzak adalah pensiunan tua yang tinggal di kawasan kota tua Warsawa sebelum Perang Dunia 2 meletus.

 

Hidupnya Kembali Kota Warsawa

Kazimiera Majchrzak punya kebiasaan memberi makan burung dara tiap hari. Warga kota mengenalinya. Saat bom kiriman Jerman “menari-nari” di Tanah Polandia sekitar tahun 1939 dan 1944, 85 persen wajah Warsawa luluh lantak.

Tak banyak yang selamat dari tragedi kemanusiaan ini. Kazimiera Majchrzak salah satu dari yang segelintir itu. Salah satu warga Warsawa yang mencermati sejarah negerinya, Gosia Brzozka-wars, menjelaskan, sebelum Perang Dunia 2, Warsawa dihuni 1,3 jutaan jiwa.

“Pada Januari 1945, ketika perang berakhir, hanya tersisa 1.000-an jiwa yang masih tinggal di sini. Nyonya Kazimiera termasuk kelompok pertama yang kembali ke kota ini dan memberi makan burung dara (lagi),” katanya kepada Liputan6.com.

Kaz

imiera Majchrzak kembali menjalani hidup seperti sebelum perang meski didera banyak ujian. Kembali hidup, kembali bermanfaat buat sesama makhluk meski “hanya” burung dara. Dari Kazimiera Majchrzak, warga belajar, kebaikan sekecil apapun tetaplah kebaikan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

“Ia menjadi simbol kehidupan kembali Kota Warsawa,” ucap Gosia Brzozka-wars. “Bagian utama, terbesar, dan terpenting dari kota telah hancur sekitar 85 persen. Tak heran jika orang-orang tidak percaya bahwa kota Warsawa bisa direkonstruksi,” ia menyambung. Pemerintah Polandia sempat mengurungkan niat untuk membangun ulang Warsawa. Wacana untuk memindahkan ibu kota Polandia ke kawasan lain sempat muncul. Bahkan, sejumlah kota yang dipandang lebih layak, kala itu dijajaki. Lodz dan Poznan, dilirik. “Sejumlah kota sempat dijajaki, yaitu Lodz atau Poznan yang jauh lebih aman dengan kondisi lebih baik,” urai Gosia Brzozka-wars, seraya menyebut Warsawa sangat multikultural. Dulu, sekitar 40 persen populasi penduduknya adalah orang Yahudi.

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan