Ardhito Pramono Akan Tetap Rilis Proyek Solo, Sekaligus Aktif di Wijaya 80

Ardhito mengaku akan coba beri pembeda antara Dhito sebagai solois dan Dhito sebagai Wijaya 80.

Diterbitkan 17 Oktober 2025, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wijaya 80 menjadi salah satu musisi yang digandeng oleh TikTok untuk mendapatkan pembekalan dari TikTok Rising Indonesia 2025. Program TikTok ini merupakan program pemberdayaan khusus bagi kreator musik dan musisi lokal untuk tumbuh, memperkuat ikatan dengan komunitas penggemar, serta merayakan keberagaman musik di tanah air. 

Wijaya 80 sendiri merupakan grup musik yang dibentuk pada 2024 oleh Ardhito Pramono, Erikson Jayanto, dan Hezky Joe. Meski terbilang baru, mereka langsung mencuri perhatian dengan warna musik pop era 80-an yang khas. Salah satu single andalan mereka yang dirilis awal Desember 2024 "Terakhir Kali" langsung populer di masyarakat dan digunakan lebih dari 200 ribu video TikTok, terutama untuk konten perpisahan dan patah hati.

ShowBiz Liputan6.com berkesempatan untuk melakukan exclusive interview bersama Ardhito Pramono dan Wijaya 80 saat pelaksanaan TikTok Rising Indonesia 2025, Kamis (9/10/2025). Mengingat jauh sebelum Wijaya 80 dikenal oleh masyarakat, salah satu vokalisnya Ardhito Pramono sudah terlebih dahulu terkenal dengan lagu-lagunya yang kebanyakan berbahasa Inggris.

Pada wawancara tersebut, Ardhito menjelaskan bagaimana dirinya akan memposisikan diri sebagai solois dan juga bagian dari Wijaya 80, salah satunya terkait setting bahasa. "Ardhito enggak akan lagi nyanyi lagu Bahasa Indonesia, walaupun banyak banget lagu-lagunya Ardhito yang Indonesia banget, 70-an banget," jawab pria yang akrab disapa Dhito tersebut. 

Dhito menyampaikan bahwa dirinya untuk beberapa waktu mungkin akan jeda terlebih dulu untuk rilis lagu berbahasa Indonesia, "Ini waktunya Wijaya untuk nge-conquer (lagu) Indonesia ini." Dhito juga menegaskan bahwa dirinya akan tetap rilis lagu sebagai solois, "Projek solo ada, Ardhito-nya masih (akan) rilis-rilis (lagu)," pungkasnya.

Cara Develop Ardhito dan Wijaya 80

Ardhito menjelaskan bahwa dirinya sebagai solois dan Wijaya 80 merupakan dua hal yang berbeda, sehingga pendekatan dan pengembangan keduanya juga akan berbeda strateginya. "Untuk Ardhito, kita coba cari cara, 'Kita showcase-showcase di Jepang yuk, showcase di Korea yuk, showcase di South East yuk,' untuk bisa ngelebarin Ardhito as in brand-nya Ardhito," ucap pria 30 tahun tersebut.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Di sisi lain, Ardhito merasa lebih mudah untuk mengembangkan nama dan fanbase Wijaya 80 dibandingkan fanbase-nya sebagai solois. "Nge-develop fanbase solois di Indonesia itu agak lebih sulit karena lebih tengsin, lebih mudah nge-develop itu band. (Keduanya) tetap nyala, cuma strateginya aja agak berbeda untuk Ardhito dan Wijaya," tambah Dhito.

Halaman
Show All
Vindy Therecia, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan