Christine Hakim hingga Almarhum Benyamin Sueb, 5 Artis Ini Terima Bintang Kehormatan dari Prabowo

Beberapa artis besar melegenda dianugerahi Tanda Kehormatan Republik Indonesia oleh Prabowo. Siapa saja mereka?

Diterbitkan 29 Agustus 2025, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Di luar akting, Christine Hakim juga aktif sebagai produser film dan juri di berbagai festival film internasional, termasuk Festival Film Cannes. Penganugerahan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Utama kepadanya adalah pengakuan negara atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia melalui seni dan budaya.

2. Slamet Rahardjo

Slamet Rahardjo Djarot adalah salah satu aktor dan sutradara paling berpengaruh dalam sejarah sinema Indonesia. Lahir di Serang pada 21 Januari 1949, ia memulai kariernya di dunia teater bersama kelompok Teater Populer pimpinan Teguh Karya. Bakat aktingnya yang luar biasa segera membawanya ke layar lebar, di mana ia membintangi film-film legendaris seperti Ranjang Pengantin (1974) dan Badai Pasti Berlalu (1977)

Tidak hanya berada di depan layar, Slamet Rahardjo juga menjajal kursi sutradara dan menghasilkan karya-karya yang diakui secara kritis, baik di dalam maupun luar negeri. Film-film arahannya seperti Kembang Kertas (1984), Kodrat (1986), dan Langitku, Rumahku (1990) sering kali mengangkat isu-isu sosial yang relevan dengan penceritaan yang kuat dan sinematografi yang puitis. Karya-karyanya telah berkompetisi di berbagai festival film internasional bergengsi, termasuk Festival Film Cannes.

Aktingnya yang mendalam dan sutradara yang penuh penjiwaan membuatnya meraih beberapa Piala Citra. Berikut daftar penghargaan Citra yang didapatkan Slamet Rahardjo.

  • Pemeran Utama Pria Terbaik (1975) untuk Film Ranjang Pengantin
  • Penata Musik Terbaik (1979) untuk Film November 1828 (bersama Franki Raden dan Sardono W. Kusumo)
  • Pemeran Utama Pria Terbaik (1983) untuk Film Di Balik Kelambu
  • Sutradara Terbaik (1985) untuk Film Kembang Kertas
  • Film Cerita Panjang Terbaik (1985) untuk Film Kembang Kertas (sebagai sutradara)
  • Sutradara Terbaik (1987) untuk Film Kodrat
  • Pemeran Pendukung Pria Terbaik (2022) untuk Film Cinta Pertama, Kedua & Ketiga

Kontribusinya dalam membentuk wajah perfilman Indonesia modern sangatlah besar, dan dedikasinya terhadap kualitas artistik menjadikannya salah satu maestro seni peran dan penyutradaraan di Indonesia. Penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma yang diterimanya adalah pengakuan atas pengabdiannya yang panjang dan berkualitas bagi dunia seni.

3. Jaja Mihardja

Jaja Mihardja, lahir di Jakarta, 1 November 1944, merupakan figur seniman multitalenta yang sangat lekat dengan kebudayaan Betawi. Pria bernama lengkap Ja'un Sulaiman Miharja ini mengawali perjalanannya di dunia seni dari panggung tradisional lenong dan musik Betawi.

Puncak popularitasnya sebagai penyanyi dangdut diraih pada era 1980-an lewat tembang hits "Cinta Sabun Mandi," meski publik mungkin lebih mengenalnya lewat jargon khas "Apaan tuh?" yang kerap ia serukan saat memandu acara Kuis Dangdut.

Di luar panggung musik dan dunia presenter, Jaja Mihardja juga membuktikan kepiawaiannya sebagai seorang aktor berbakat di layar lebar maupun sinetron. Jaja Mihardja membintangi film Box Office Get Married bareng Meriam Bellina dan Nirina Zubir. Dalam Get Married, ia meraih nominasi Pemeran Pendukung Pria Terbaik dari Festival Film Indonesia 2007 dan Nominasi untuk kategori Pemeran Pendukung Pria Terbaik dan Pemeran Pendukung Pria Terfavorit dari Indonesian Movie Actors Awards 2008.

Sebagai pengakuan atas kontribusi besarnya di bidang kebudayaan tersebut, Jaja Mihardja mendapatkan Anugerah Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma.

4. Titiek Puspa

Sudarwati, yang lebih dikenal dengan nama panggung Titiek Puspa, adalah seorang ikon sejati dalam dunia hiburan Indonesia. Lahir di Tanjung, Kalimantan Selatan, pada 1 November 1937, ia memulai kariernya di dunia tarik suara pada era 1950-an dan dengan cepat meraih popularitas berkat suaranya yang khas serta kemampuannya menulis lagu-lagu yang melegenda. Karya-karyanya seperti "Kupu-Kupu Malam," "Marilah Kemari," dan "Apanya Dong" tidak hanya menjadi hits pada masanya, tetapi juga terus dinyanyikan lintas generasi, membuktikan relevansinya yang abadi dalam industri musik Tanah Air.

Kiprah Titiek Puspa tidak terbatas pada dunia musik. Ia juga seorang aktris berbakat yang telah membintangi puluhan judul film dan sinetron. Selain itu, ia dikenal sebagai komposer, produser, dan bahkan pencipta operet anak-anak yang populer, Eyang Bala-Bala. Dedikasinya yang luar biasa ini membuatnya diganjar berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards dan penghargaan Lifetime Achievement dari berbagai institusi.

Di usianya yang senja, Titiek Puspa tetap menjadi figur yang dihormati dan menjadi inspirasi bagi banyak seniman muda. Perjalanan kariernya yang membentang lebih dari enam dekade adalah bukti nyata dari dedikasi, konsistensi, dan cintanya yang mendalam terhadap seni dan budaya Indonesia. Atas pengabdiannya yang luar biasa, negara menganugerahinya Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma.

5. Benyamin Sueb

Benyamin Sueb, yang akrab disapa Bang Ben, juga merupakan seorang seniman legendaris dan ikon budaya Betawi. Sama seperti Jaja Mihardja, pria kelahiran 5 Maret 1939 ini tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan kesenian Betawi, yang kemudian menjadi fondasi utama dalam seluruh karyanya. Dikenal sebagai sosok multitalenta, Benyamin Sueb sukses meniti karier sebagai penyanyi, penulis lagu, pelawak, dan aktor film. 

Karier Benyamin di dunia musik dimulai dengan grup Naga Mustika dan kemudian melambung tinggi dengan gaya musiknya yang unik, memadukan elemen gambang kromong dengan pengaruh musik modern seperti rock, blues, dan pop. Lirik-lirik lagunya sangat merakyat, jenaka, dan sering kali berisi kritik sosial yang cerdas, seperti dalam lagu "Nonton Bioskop," "Hujan Gerimis Aje," dan "Kompor Meleduk." “Kompor Meleduk” bahkan masuk daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia.

Di dunia layar lebar, Benyamin Sueb menjelma menjadi salah satu aktor paling produktif dan berpengaruh pada masanya. Ia telah membintangi lebih dari 50 judul film, banyak di antaranya sukses besar dan menjadi film klasik. Kemampuan aktingnya yang natural dan spontan membuatnya meraih dua Piala Citra untuk kategori Pemeran Utama Pria Terbaik. Penghargaan bergengsi tersebut diraihnya melalui film Intan Berduri (1972) beradu akting dengan Rima Melati, dan film Si Doel Anak Modern (1976), yang merupakan sekuel dari Si Doel Anak Betawi.

Meskipun telah berpulang pada 5 September 1995, warisan dan pengaruh Benyamin Sueb terus hidup dan menginspirasi generasi baru. Namanya diabadikan sebagai nama jalan utama di Kemayoran, Jakarta Pusat, sebagai penghormatan atas jasanya. Pada tahun 2025, negara kembali memberikan pengakuan tertinggi atas dedikasi dan kontribusinya dengan menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Nararya secara anumerta. Bang Ben akan selalu dikenang sebagai seniman rakyat sejati yang berhasil membuat budayanya dicintai oleh seluruh Indonesia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Vindy Therecia, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan