10 Kebiasaan Orang Tidak Bahagia yang Perlu Dihindari agar Hidup Lebih Tenang

Kebiasaan orang tidak bahagia sering kali berasal dari pola pikir dan rutinitas harian. Hindari 10 kebiasaan ini untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan

Diterbitkan 02 Juli 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebiasaan orang tidak bahagia sering kali tidak disadari karena telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Banyak orang mengira kebahagiaan hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi, pekerjaan, atau hubungan dengan orang lain. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola pikir dan kebiasaan sehari-hari memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap kesejahteraan mental.

Perasaan sedih atau kecewa sesekali merupakan hal yang wajar. Namun, ketika seseorang terus-menerus merasa tidak puas, kehilangan semangat, atau sulit menikmati hidup, bisa jadi terdapat kebiasaan tertentu yang tanpa sadar memperkuat perasaan tersebut.

Sejumlah lembaga kesehatan mental dan pakar psikologi menjelaskan bahwa mengubah kebiasaan negatif menjadi langkah kecil yang lebih sehat dapat membantu meningkatkan kualitas hidup. Berikut beberapa kebiasaan yang perlu dihindari agar kesehatan mental tetap terjaga, dirangkum Liputan6.com, Kamis (2/7/2026).

1. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Salah satu kebiasaan orang tidak bahagia yang paling umum adalah terus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Menurut Oak Health Foundation, kebiasaan ini semakin mudah terjadi sejak media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Melihat kesuksesan, liburan, atau pencapaian orang lain tanpa mengetahui perjuangan di baliknya dapat memunculkan rasa iri, minder, hingga merasa hidup sendiri tidak cukup baik. Padahal, setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda.

Daripada terus membandingkan diri, cobalah lebih sering mengingat pencapaian pribadi, sekecil apa pun. Menulis jurnal rasa syukur juga terbukti membantu seseorang lebih menghargai kehidupannya sendiri.

2. Terjebak dalam Penyesalan Masa Lalu

Mengingat kesalahan di masa lalu memang manusiawi. Namun jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut justru menguras energi emosional.

Oak Health Foundation mengutip penelitian psikolog Susan Nolen-Hoeksema dari Yale University yang menunjukkan bahwa orang yang terus-menerus meruminasi penyesalan cenderung mengingat lebih banyak pengalaman negatif, memandang situasi saat ini secara pesimistis, dan merasa lebih putus asa terhadap masa depan.

Cara yang lebih sehat adalah melihat pengalaman buruk sebagai pelajaran hidup. Memaafkan diri sendiri bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan memberi kesempatan untuk bertumbuh.

3. Memiliki Ekspektasi yang Tidak Realistis

Harapan memang penting sebagai motivasi. Namun ketika ekspektasi terlalu tinggi atau berada di luar kendali, seseorang akan lebih mudah kecewa.

Oak Health Foundation menjelaskan bahwa ekspektasi seperti "semua usaha harus berhasil" atau "orang lain harus selalu memahami saya" hanya akan memperbesar rasa frustrasi ketika kenyataan tidak sesuai harapan.

Mengubah target menjadi lebih fleksibel dan realistis membantu seseorang lebih mudah menerima berbagai kemungkinan tanpa kehilangan semangat.

4. Menghakimi Emosi Sendiri

Banyak orang merasa bersalah ketika sedih, cemas, atau marah. Padahal menurut psikolog Nick Wignall dalam tulisannya di YourTango, emosi bukanlah sesuatu yang baik atau buruk. Emosi hanyalah respons alami manusia.

Yang perlu dikendalikan bukanlah kemunculan emosinya, melainkan bagaimana seseorang merespons emosi tersebut.

Mengkritik diri sendiri karena merasa cemas hanya akan menambah lapisan emosi negatif seperti rasa bersalah. Sebaliknya, bersikap penuh kasih kepada diri sendiri (self-compassion) membantu seseorang pulih lebih cepat dari tekanan emosional.

5. Terlalu Khawatir terhadap Masa Depan

Merencanakan masa depan tentu penting. Namun kebiasaan mengkhawatirkan berbagai kemungkinan buruk secara berlebihan justru menguras kesehatan mental.

Banyak orang menggunakan kekhawatiran sebagai ilusi untuk merasa memiliki kendali atas sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dipastikan.

Semakin sering seseorang memikirkan skenario terburuk, semakin tinggi pula tingkat stres yang dirasakan. Belajar menerima ketidakpastian merupakan salah satu cara terbaik untuk mengurangi kecemasan berlebihan.

6. Terlalu Bergantung pada Validasi Orang Lain

Mencari dukungan dari keluarga atau teman bukanlah hal yang salah. Akan tetapi, jika setiap keputusan harus mendapat persetujuan orang lain, seseorang akan sulit merasa percaya diri.

Kebiasaan terus-menerus mencari reassurance atau kepastian dari orang lain dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan mengelola kecemasan secara mandiri.

Belajarlah mempercayai penilaian diri sendiri. Masukan dari orang lain tetap penting, tetapi jangan sampai menjadi satu-satunya penentu kebahagiaan.

7. Kurang Bergerak dan Jarang Berolahraga

Selain pola pikir, gaya hidup juga berpengaruh besar terhadap kesehatan mental.

Oak Health Foundation menyebutkan bahwa olahraga sekitar 20 menit dengan intensitas sedang setiap hari dapat membantu mengurangi gejala depresi sekaligus meningkatkan suasana hati.

Aktivitas fisik mendorong tubuh melepaskan endorfin yang dikenal sebagai hormon pemicu rasa bahagia. Tidak harus berolahraga berat, berjalan kaki, bersepeda santai, atau senam ringan pun sudah memberikan manfaat.

8. Mengabaikan Pola Makan Sehat

Apa yang dikonsumsi setiap hari ikut memengaruhi kondisi psikologis seseorang.

Berbagai penelitian menemukan hubungan antara pola makan sehat dengan suasana hati yang lebih baik. Sebaliknya, konsumsi makanan cepat saji dan tinggi gula secara berlebihan dapat membuat tubuh mudah lelah dan memengaruhi mood.

Memperbanyak sayur, buah, protein berkualitas, serta makanan bergizi seimbang membantu tubuh dan otak bekerja lebih optimal.

9. Terlalu Lama Berada di Dalam Ruangan

Kesibukan kerja sering membuat seseorang jarang menikmati udara segar atau paparan sinar matahari.

Padahal, Oak Health Foundation menjelaskan bahwa berbagai penelitian menemukan orang yang lebih sering menghabiskan waktu di alam terbuka cenderung memiliki tingkat kebahagiaan lebih tinggi dibanding mereka yang hampir selalu berada di dalam ruangan.

Sesekali berjalan di taman, berkebun, atau menikmati suasana alam dapat menjadi cara sederhana untuk menyegarkan pikiran setelah beraktivitas.

10. Terlalu Fokus pada Kekurangan dalam Hidup

Tiny Buddha menjelaskan bahwa salah satu kebiasaan yang membuat seseorang terus merasa tidak bahagia adalah hanya memperhatikan apa yang kurang dalam hidupnya.

Padahal, setiap orang pasti memiliki masalah. Perbedaannya terletak pada bagaimana seseorang memandangnya. Terlalu fokus pada kekurangan membuat berbagai hal baik yang sudah dimiliki menjadi tidak terlihat.

Melatih rasa syukur bukan berarti mengabaikan masalah, melainkan menjaga keseimbangan perspektif agar hidup tidak selalu dipenuhi pikiran negatif.

Mengubah Kebiasaan Kecil untuk Hidup yang Lebih Bahagia

Menghindari kebiasaan orang tidak bahagia bukan berarti hidup akan selalu dipenuhi rasa senang. Setiap orang tetap akan mengalami kegagalan, kesedihan, maupun tekanan.

Namun, dengan mengenali pola pikir yang tidak sehat, mengelola emosi secara lebih bijak, menjaga pola hidup sehat, serta belajar menerima diri sendiri, kualitas kesehatan mental dapat meningkat secara bertahap. Perubahan besar sering kali berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.

Pertanyaan Seputar Kebiasaan Orang Tidak Bahagia

1. Apa saja kebiasaan orang tidak bahagia yang paling sering dilakukan?

Beberapa di antaranya adalah terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain, menyesali masa lalu, memiliki ekspektasi tidak realistis, terlalu khawatir terhadap masa depan, dan terus mencari validasi dari orang lain.

2. Apakah media sosial bisa membuat seseorang lebih tidak bahagia?

Ya. Jika digunakan tanpa kontrol, media sosial dapat memicu kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang sering kali hanya menampilkan sisi terbaik mereka.

3. Apakah olahraga benar-benar berpengaruh terhadap kebahagiaan?

Ya. Aktivitas fisik membantu tubuh melepaskan hormon endorfin yang berperan meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres.

4. Bagaimana cara menghentikan kebiasaan berpikir negatif?

Mulailah dengan mengenali pola pikir yang muncul, melatih rasa syukur, menerima emosi tanpa menghakimi diri sendiri, dan fokus pada hal-hal yang masih berada dalam kendali.

5. Kapan seseorang perlu mencari bantuan profesional?

Jika perasaan sedih, putus asa, atau kehilangan minat berlangsung lebih dari dua minggu dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Oak Health Foundation. Common Habits and Thinking Patterns That Cause Unhappiness and Depression. https://oakhealthfoundation.orgNick Wignall. 4 Psychological Habits That Make You Unhappier Than 99% Of People. YourTango. https://www.yourtango.comTiny Buddha. 10 Habits of Unhappy People (And How to Fix Them). https://tinybuddha.com 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6