Wawancara Eksklusif Fajar Nugros: Bawang Merah Bawang Putih, JAFF 2024 dan Perempuan Pembawa Sial

Perempuan Pembawa Sial karya sineas Fajar Nugros berlaga di segmen Indonesian Screen Award, dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival atau JAFF 2024.

Diperbarui 06 Desember 2024, 21:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Fajar Nugros telah melahirkan sejumlah box office di industri film Indonesia dari era Cinta Brontosaurus, Yowis Ben dengan tiga sekuelnya, hingga Inang yang panen pujian. Kini, ia kembali ke layar lebar dengan Perempuan Pembawa Sial yang semula berjudul Ratu Sihir.

Perempuan Pembawa Sial melenggang ke Jogja-NETPAC Asian Film Festival atau JAFF 2024. Ia berlaga di segmen Indonesian Screen Award. Film dengan bintang Didik Nini Thowok, Morgan Oey, Clara Bernadeth, dan Raihaanun tersebut diputar pada 6 dan 7 Desember 2024.

Fajar Nugros menyebut Perempuan Pembawa Sial sebagai film dengan proses kreatif terlama sepanjang kariernya. Ide ceritanya yang berakar dari cerita rakyat populer Bawang Merah Bawang Putih tercetus tak lama setelah syuting film Sleep Call bersama Laura Basuki tuntas.

Gagasan soal Perempuan Pembawa Sial kemudian dikembangkan selama 4 hingga 5 bulan. Inilah wawancara eksklusif Showbiz Liputan6.com dengan Fajar Nugros soal Perempuan Pembawa Sial yang dijadwalkan menyapa bioskop pada kuartal pertama 2025.

Kepikiran Nasib Bawang Merah

Perempuan Pembawa Sial dimulai dengan pertanyaan liar yang mengambang di benak Fajar Nugros, bagaimana kehidupan Bawang Merah setelah legenda mereka dikenal se-Indonesia. Seperti diketahui, Bawang Putih menderita di bawah siksaan Bawang Merah. Setelah itu apa?

“Saya pikir, kehidupan Bawang Merah bagaimana ya dengan semua dosa-dosa yang dia lakukan selama ini? Film ini meng-capture hidup Bawang Merah setelah pisah dari Bawang Putih. Ia hidup dalam karma akibat perbuatan buruk yang pernah dilakukan,” katanya.

Fajar Nugros menjanjikan, Perempuan Pembawa Sial bukan horor dengan tema aliran sesat, arwah penasaran, ingin cepat kaya dengan cara instan, dan sebagainya. Ia menyisipkan fenomena Bahu Laweyan seperti halnya Rabu Wekasan dalam film Inang.

“(Pertama) ini refleksi kumpulan ketakutanku di masa kecil. Suatu hari, saat SD atau SMP, saya ikut kunjungan ke studio tari Didi Nini Thowok. Saya waktu ke toilet, melewati ruang rias, lalu mengintip dan mendengar ada suara orang berlatih,” Fajar Nugros mengenang.

Ketakutan Terbesar Fajar Nugros

Yang terjadi kemudian, untuk kali pertama Fajar Nugros kecil melihat Didi Nini Thowok berkostum lengkap memunggunginya dengan dua topeng. Ia syok karena menyangka “muka kedua” Didi Nini Thowok tengah menatapnya. Momen itu membekas hingga dewasa.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

“Dan hah! Itu bagi saya seram dan terbayang selama bertahun-tahun. Itu salah satu ketakutanku. Kedua, saya pernah waktu kecil bersepeda ke kawasan keraton Yogyakarta jelang magrib dan melihat kereta kuda dengan kusir yang maaf agak creepy,” Fajar Nugros membeberkan. Ketiga, memori-memori ketakutan itu dikumpulkan dan diselesaikan di film ini. Lewat Perempuan Pembawa Sial, Fajar Nugros sebagai seniman sejatinya hendak “berdamai” dan ingin selesai dengan ketakutan maupun kesalahan di masa lalu. “Di atas itu, selalu ketakutan terbesar adalah kita pernah membuat kesalahan di masa lalu. Lalu, kita merasa: Hidup gue jadi kayak begini mungkin karena kesalahan yang tak termaafkan di masa lalu,” ulasnya lalu menyebut syuting Perempuan Pembawa Sial dimulai Desember 2023.  

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan