Wawancara Eksklusif Fajar Nugros: Bawang Merah Bawang Putih, JAFF 2024 dan Perempuan Pembawa Sial

Perempuan Pembawa Sial karya sineas Fajar Nugros berlaga di segmen Indonesian Screen Award, dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival atau JAFF 2024.

Diperbarui 06 Desember 2024, 21:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

“Dan hah! Itu bagi saya seram dan terbayang selama bertahun-tahun. Itu salah satu ketakutanku. Kedua, saya pernah waktu kecil bersepeda ke kawasan keraton Yogyakarta jelang magrib dan melihat kereta kuda dengan kusir yang maaf agak creepy,” Fajar Nugros membeberkan.

Ketiga, memori-memori ketakutan itu dikumpulkan dan diselesaikan di film ini. Lewat Perempuan Pembawa Sial, Fajar Nugros sebagai seniman sejatinya hendak “berdamai” dan ingin selesai dengan ketakutan maupun kesalahan di masa lalu.

“Di atas itu, selalu ketakutan terbesar adalah kita pernah membuat kesalahan di masa lalu. Lalu, kita merasa: Hidup gue jadi kayak begini mungkin karena kesalahan yang tak termaafkan di masa lalu,” ulasnya lalu menyebut syuting Perempuan Pembawa Sial dimulai Desember 2023.

 

Film Ini Semacam Permohonan Maaf

Ditemui di Jakarta Selatan baru-baru ini, Fajar Nugros menyebut tahap pascaproduksi tak lalah menantang. Setelah kumpulan adegan tersaji di meja editing untuk dijahit, ada banyak perspektif yang bisa dipakai untuk menuturkan kisah Perempuan Pembawa Sial kepada penonton.

“Kami mencoba banyak sudut pandang (dalam bertutur) hingga akhirnya ketemu format yang sekarang, itu yang terbaik. Saya happy. Alhamdulillah, masuk ke JAFF 2024 untuk kompetisi Indonesia Screen Awards. Yang bikin lama memang saat editing,” Fajar Nugros menyambung.

Perempuan Pembawa Sial terdengar sangat menjanjikan sekaligus sangat personal bagi Fajar Nugros. Ia lantas terkenang momen kala menyutradarai dan mengarahkan banyak orang di lokasi syuting dari era Queen Bee, Cinta Di Saku Celana, hingga Balada Si Roy dan Inang.

“Film ini semacam permohonan maaf ke semua itu supaya kita memulai banyak hal dengan lebih baik lagi. Pertanyaan mendasar film ini: Apakah perbuatan-perbuatan buruk dari masa lalu itu akan terus menghantui atau bisa dimaafkan ya?” Fajar Nugros mengakhiri.

Lewati Forum Group Discussion dan Riset

Terpisah, Produser IDN Pictures, Susanti Dewi, buka kartu kepada Showbiz Liputan6.com terkait pertimbangan film Ratu Sihir ganti judul menjadi Perempuan Pembawa Sial. Dalam pembuatan film, ada dua bagian yang saling terkait yakni product making dan film marketing.

Saat menginisiasi proyek film baru, selalu ada working title (judul sementara) yang bisa jadi dipertahankan hingga hari perilisan tiba. Selama proses kreatif itu ada banyak hal yang mungkin terjadi. Ini terjadi pula selama penggarapan film Perempuan Pembawa Sial.

“Dalam beberapa Forum Group Discussion dan riset yang kami lakukan, kami temukan data bahwa kata sihir dalam perspektif marketing agak berjarak. Kata sihir tidak terlalu familier sekarang. Orang lebih related dengan santet dan guna-guna mungkin,” ulas Susanti Dewi.

Kedua, saat syuting berlangsung, Susanti Dewi dan tim menilai Ratu Sihir kurang pas dengan cerita yang digulirkan. Inilah faktor konten. Ia ingin judul akhir yang tersemat ketika tayang di bioskop nantinya merefleksikan konten film secara keseluruhan.

“Kami ingin judul itu berhubungan dengan konten. Utamanya, adalah riset marketing kami menemukan kata sihir tak terlalu dekat dengan penonton film yang kami target sehingga kami sepakat mengganti judul menjadi Perempuan Pembawa Sial,” pungkasnya.

 

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan