Sinopsis dan Review SUGA: Road to D-Day, Rasa Gamang dan Kegelisahan Sang Member BTS di Puncak Karier

Dalam SUGA: Road to D-Day, sang member BTS dengan jujur mengungkap emosi-emosi negatif yang menggerogoti pemikirannya sebagai seorang seniman yang mengejar kepuasan dalam berkarya.

Diterbitkan 23 April 2023, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Lagu yang ia kerjakan pun tak hanya asal jadi, ia dengar dan poles hingga ribuan kali demi mencapai standar yang ia inginkan. Kombinasi workaholic dan perfeksionisme rupanya sempat balik menyerang Suga. Pada satu titik, ia muak mengerjakan hal ini. Bahkan ia mengaku terkadang berpikir untuk berhenti bermusik.

Pertemuan dengan salah satu idola Suga, Ryuichi Sakamoto, menjadi momen yang menarik yang humanis dalam dokumenter ini. Betapa Suga yang dielu-elukan sebagai superstar, punya idolanya sendiri yang ia teladani. Dari pertemuan ini pula, ia bertukar pikiran dengan sang legenda musik Jepang, belajar untuk terus menyalakan semangat bermusik dalam jiwanya.

Pertemuan ini jelas meninggalkan bekas mandalam kepada Suga. Tak heran, kematian Ryuichi Sakamoto paa awal April ini membuatnya begitu berduka.

Penampilan Suga Membawakan Lagu Baru

Dokumenter SUGA: Road to D-Day juga diselipkan dengan penampilan Suga dalam membawakan lagu-lagu barunya dari album D-Day. Namun penampilannya bukan sekadar untuk mempermanis tayangan ini semata, tapi juga memperkuat narasi dalam dokumenternya.

Karena pada intinya, SUGA: Road to D-Day adalah perjalanan Suga dalam pembuatan album yang merupakan hasil kontemplasi dirinya.

Kontemplasi mengenai apa yang memberinya ketenangan, pentingnya menghadapi memori buruk pada masa lalu--dan hingga pada akhirnya--bagaimana cara berdamai dengan kegelisahan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Zulfa Ayu SundariTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan