Resensi Film Kembang Api: 4 Orang Kopi Darat untuk Akhiri Hidup Bersama Tapi Gagal Melulu Sampai Emosi

Kembang Api adalah karya sineas Herwin Novianto yang diadaptasi dari film Jepang 3ft Ball and Soul garapan sutradara Yoshio Kato. Berikut ulasannya.

Diperbarui 23 Februari 2023, 23:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Sebagai “dedengkot” yang mengide bunuh diri, ia santuy karena punya persiapan paling paripurna dari aspek motivasi, surat permintaan maaf kepada keluarga, hingga membaca sejumlah kemungkinan jika aksi bunuh diri ini berhasil.

Marsha dan Ringgo

Ringgo dan Marsha mengambil pendekatan hampir sama, yakni pasang wajah muram sebagai “sinyal” bahwa beban hidup mereka berat. Bedanya, ada di latar belakang. Ringgo depresi karena berkali bunuh diri tapi gagal melulu. 

Marsha, meski kelam, masih punya empati untuk memahami persoalan orang-orang yang baru dikenalnya. Hanggini adalah kejutan. Ia tipikal anak Jakarta pada umumnya.

Dengan aksesn khas anak gaul Ibu Kota, sumbu pikir pendek, merasa paling berat hidupnya, dan berpedoman jalan pintas seperti mengakhiri hidup adalah solusi efektif membereskan persoalan.

Temanya Kelam

Temanya kelam. Para tokoh kehilangan harapan, memilih tak punya harapan, dan ogah melihat harapan yang sebenarnya ada namun tertutup masalah yang seolah setinggi puncak Everest.

Dengan empat ujung tombak yang depresif, bukan berarti Kembang Api jadi gelap, suram, dan lebay. Donny dan Hanggini adalah pencair suasana meski setelah penonton tahu masalah mereka sebenarnya, terasa betul beratnya beban keduanya.

Sensasi komedi ditabur dari kegagalan bunuh diri yang terjadi berkali-kali, salah ucap, gugatan terhadap aturan grup WhatsApp hingga salah satu tokoh menjadi kaum “mendang-mending” lantaran merasa masalahnyalah paling berat dan yang lain cetek.

 

Menertawakan Masalah

Penonton diajak menertawakan masalah layaknya ujaran orang Jawa kekinian: Kuat dilakoni, yen ora kuat ditinggal ngopi. Poin pentingnya, di balik gelak tawa melihat polah para tokoh, penonton diajak berpikir tentang banyak hal.

Pertama, siapa sih yang paling berhak mengakhiri hidup? Kedua, apa definisi dewasa dan kuat mental menghadapi persoalan? Ketiga, sudah cukupkah kita menyayangi diri sendiri dan keluarga (selama ini)? Keempat, benarkah masalah kita lebih berat dari orang lain?

Terakhir, mengapa begitu yakin bahwa masalah Anda paling berat sehingga merasa punya hak untuk bunuh diri? Memangnya, masalah Anda sudah ditimbang dan dibandingkan dengan berat masalah orang lain? Memangnya ada alat penimbang masalah hidup?

 

Urip Iku Urup

Setelah pertanyaan terakhir terjawab, silakan kembali ke pertanyaan awal. Inilah benih-benih perenungan yang diceritakan dengan detail dan rapi oleh Herwin Novianto. Tanpa menggurui karena sejatinya para tokoh di film ini belajar memaknai masalah, hidup, dan berempati.

Dari proses trial and error percobaan bunuh diri, penonton menginsyafi banyak hal. Herwin Novianto pernah membuai kita dengan Aisyah Biarkan Kami Bersaudara. Kembang Api adalah comeback Herwin yang simpel, jenaka, berdimensi sekaligus mengesankan.

Saat keluar dari bioskop, saya bertanya-tanya: bagaimana mau urup kalau yang urip malah pengin mati? Pertanyaan sederhana, nyelekit, dan menggiring kita berkaca kepada pikiran dan hati. Dengan catatan, hati dan pikiran kita harus bening. Oke?

 

 

 

Pemain: Donny Damara, Marsha Timothy, Ringgo Agus Rahman, Hanggini

Produser: Frederica

Sutradara: Herwin Novianto

Penulis: Alim Sudio

Produksi: Falcon Pictures

Durasi: 100 menit

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan