Cut Keke Butuh 5 Tahun untuk Akur dengan Istri Pertama

Cut Keke menjalani kehidupan poligami dengan harmonis.

Diterbitkan 05 Maret 2021, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Cut Keke telah menjalani kehidupan poligami selama 14 tahun. Artis berusia 47 tahun ini berposisi sebagai istri kedua dalam rumah tangga dengan Malik Bawazier.

Menurut Cut Keke, butuh perjuangan untuk bisa menjalin hubungan yang rukun dengan istri pertama, Zahra Christine. Ada banyak rintangan yang dilalui oleh Keke, Zahra juga Malik.

"Sudah 14 (tahun), tapi itu semua proses untuk jadi seperti sekarang ada prosesnya, nggak mudah. Alhamdulillah sekarang semua fine-fine aja, saling mengerti satu sama lain dan menjadi kayak keluarga besar," kata pemilik nama Cut Zudiake di YouTube Maia Al El Dul TV, Rabu (3/3/2021).

Lima Tahun

Kata Cut Keke, butuh waktu bertahun-tahun hingga akhirnya bisa hidup berdampingan dengan istri pertama. Namun semua itu juga tak lepas dari peran suaminya.

"Ini sebenarnya nggak mudah banget, karena suamiku juga luar biasa bisa membuat kita berdua saling menghargai. Butuh lima tahunan ya (bisa akur dan harmonis)" tuturnya.

Mengalah

Cut Keke pun mengungkap cara yang ia lakukan untuk menjalin hubungan baik dengan istri pertama.

"Aku lebih baik mengalah, dan itu harus tahu kondisi aku, aku harus ngalah karena (istri) kedua. Intinya aku menghormati dan menghargai banget (istri) yang pertama," papar Cut Keke.

Tak Merebut

Meski menjadi istri kedua, ia menegaskan tak merebut suami orang. Menjalani kehidupan poligami pun tak pernah terbayang di benaknya.

"Gue nggak pernah kebayang, cita-cita segala macam untuk jadi istri kedua tapi kan intinya kita tidak merebut ya. Merebut, sudah gitu harus meninggalkan istri dan anaknya, kan tidak seperti itu," ujarnya.

"Jadi, aku tetap menempatkan di posisi aku gitu, loh. Sewajarnya posisi aku dan harus respect, dan harus menghargai. Itu ditanamin," Cut Keke mengakhiri.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Dua Lipa Buka Perpustakaan Buku Terlarang di Portugal, Jadi Simbol Kebebasan Membaca

Zulfa Ayu Sundari, Hernowo AnggieTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan