“Beberapa wartawan sudah tahu, kok Tante. Kemarin, kan ada anak infotainment yang pesan nasi iga Tante lewat aplikasi. Bang ojek bilang, wah ternyata dapurnya di rumah artis Gea. Bang ojek tahu kan anaknya penggemar Gea,” Budi bercerita panjang.
Aroma Ketidakpercayaan
Belum kujawab, Sabudi bilang, “Sejak Gea pergi dengan Aditya, anak-anak infotainment kepikiran penghasilan Tante dari mana. Pasti terpukul. Anak-anak kan tahu Tante baik sama semua orang termasuk wartawan.”
Aku membantah kabar itu. Aku bilang kepada Sabudi, benar bahwa Gea sudah tidak tinggal serumah denganku. Itu pun karena ia belajar hidup mandiri. Kalaupun sekarang Aditya yang memanajeri Gea, itu karena aku ingin menekuni hobi lama yakni memasak.
Sabudi berterima kasih namun aku mencium aroma ketidakpercayaan darinya. Sewindu jadi wartawan, Sabudi tahu persis kapan narasumber bicara jujur dan kapan sedang berkelit.
“Baik, terima kasih Tante atas konfirmasinya. Tante yang sabar, ya. Biar Allah yang menguatkan dan melindungi Tante,” ujarnya lalu menutup telepon. Biasanya kalau habis wawancara by phone, sebelum menutup telepon, Sabudi selalu bilang, “Yasuds, sehat-sehat Tantekuh.”
Tuduhan Gea
Belum genap 10 menit setelah Sabudi menutup telepon, Gea menghungiku. “Mama tuh ngomong sama wartawan kalau kita sudah enggak serumah dan aku mengambil seluruh aset, ya? Mama mau ngedramain keluarga kita atau bagaimana, sih?” tanya Gea tanpa mengucap selamat pagi, siang, sore, atau malam.
“Besok aku mau datang ke gala premier film lo, Ma. Single baruku, kan jadi soundtrack-nya. Aku enggak mau, ya dicecar wartawan. Aku mau Mama nemenin aku di karpet merah buat ngebuktiin kalau gosip itu enggak benar. Please, deh Ma!” cerocosnya.
“Besok jam 5 sore sopirku bakal jemput Mama. Kalau perlu Yami sekalian diajak tapi dandannya yang bener jangan tomboi,” ucapnya dengan nada ketus.
“Sudah selesai nuduh-nuduhnya dan instruksinya, Gea? Kalau sudah selesai kamu istirahat. Besok, kan ada syuting jadi bintang tamu talk show di TV. Jam 12 kamu harus stand by, kan?” jawabku datar. Ya Tuhan, aku lelah. Tak mau memperpanjang perkara. Pengin tidur.
Adegan di Karpet Merah
“Kok Mama enggak ngejawab apa kek, gitu?”
“Mama capai, mau istirahat. Kalau dengan Mama datang besok ke gala premier bisa bikin kamu merasa aman, tentu Mama lakukan,” jawabku.
Ia menutup telepon. Keesokan harinya, aku dijemput. Yami kuajak tapi tak mau. Ia memilih di rumah membantu Mbak Sukma, asistenku, untuk melayani pesan antar makanan. Ya, suntikan modal memungkinkanku merekrut asisten.
Di karpet merah, Gea tersenyum kepada belasan jurnalis yang mengerubunginya. Tanganku digenggamnya erat-erat. Bahkan di depan kamera Gea mencium tangan dan pipiku. Aku tersenyum saja. Dalam hati aku merasa Gea yang kukenal dulu tak seperti ini.
Setelah sesi karpet merah selesai, Gea ke studio bioskop. Aku memilih pulang karena kepikiran Yami yang besok harus kuliah pagi. Sabudi memergokiku pulang. Biarlah, yang penting aku sudah menjalankan tugas dengan baik, menyelamatkan anak dari cecaran media.
Yami Protes Lalu Menangis
Sampai di rumah, hampir jam 9 malam. Yami belum tidur. Baru selesai mandi dan duduk menghadap televisi plasma. Wajahnya tampak kusut. Sekusut handuk yang masih dipegangnya.
“Kalau aku jadi Mama aku enggak sudi berpura-pura di depan media. Lagian Mama ngapain, sih nyelametin orang yang sudah melepeh kita begitu saja?” Yami memulai pembicaraan.
“Yang kamu sebut orang itu punya nama, dan itu kakakmu,” aku menjawab.
“Kakak setahuku enggak kayak gitu. Mama berhak menolak permintaannya setelah semua ini. Jangan Mama pikir aku enggak tahu Mama minjam uang dari Pak Astono. Pak Astono menerima telepon waktu berkunjung ke radio tempat aku bekerja,” kata Yami lalu menangis.
Yami Memelukku Erat
“Ya meski aku tahu Mama akhirnya enggak jadi pinjam tapi ini enggak akan terjadi kalau orang yang Mama sebut kakakku itu enggak ninggalin kita!”
Aku tak bisa menjawab sepatah kata pun. Yang kulakukan saat itu hanya memeluk dan menenangkan Yami.
“Suatu saat kamu akan menjadi ibu. Saat itu terjadi, entah Mama masih ada di sampingmu. Entah Mama sudah bersama Papamu. Apa pun kejadiannya kelak, ingatlah bahwa kamu harus jadi ibu yang lebih baik dari Mama,” kataku menahan tangis.
Yami menggeleng sambil memeluk lebih erat. “Enggak ada yang bisa menandingi sayang dan sabarnya Mama,” jawabnya tersedu-sedu.
“Kamu pasti bisa, Ya. Mama masih banyak kekurangan. Setahu Mama kamu lebih punya prinsip dan cepat beradaptasi,” ucapku sambil mengusap rambutnya.
Pesanku Untuk Gea
Berbulan-bulan berlalu sejak kejadian itu. Hanya dua kali aku bertemu Gea. Saat ia menikah dengan Aditya dan melahirkan anak perempuan. Tak ada fotoku di akun Instagramnya sekadar mengucapkan selamat ulang tahun atau Hari Kartini, atau Hari Ibu untukku. Tak apa. Kuanggap ini ladang amalku.
Siapa tahu dulu aku pernah membuat kesalahan tanpa sengaja dan Tuhan ingin membersihkanku dari dosa sebelum aku menghadap ke hadiratNya. Buat Gea, aku hanya ingin bilang semoga kamu bisa menjadi ibu yang lebih keren dari Mama.
Kapanpun teringat Mama dan Yami lalu ingin pulang, kuharap kamu ingat jalan ke rumah. Jika tidak, percayalah cinta Mama seperti bayangan tubuhmu. Selalu ada mengikuti pergerakanmu sampai kamu tiada. (tamat)
Disclaimer:
Kisah dalam cerita ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan jalan cerita, tokoh dan tempat kejadian itu hanya kebetulan. Seluruh karya ini dilindungi oleh hak cipta di bawah publikasi Liputan6.com.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8968722/original/090452400_1782980277-cek_fakta_-_tenaga_pendamping_masyarakat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562012/original/067915900_1776772441-Cek_fakta_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3101703/original/008304400_1586852460-200414_Aktor_Tampan_Itu_Membuat_Putriku_Durhaka_Padaku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9102315/original/016806000_1783041300-063_2284404120.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9102311/original/030973200_1783041297-063_2284405483.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8369442/original/037177900_1782246021-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8442423/original/051297200_1782335693-063_2283164257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9076838/original/076638200_1783028282-000_B8H386V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9072363/original/048211400_1783026161-000_B9476UW.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9072362/original/069449700_1783026157-000_B94788B.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8411138/original/071923000_1782295017-leao.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264052/original/051981800_1782069590-Spain_s_Lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260345/original/097053600_1781587471-spanyol.jpg)