Sukses

Navicula Memuji Pelangi di JogjaROCKarta Festival 2020

Liputan6.com, Jakarta- Busur hujan di cakrawala ...

Kau rayu hatiku menuju ke sana ...

Busur hujan di cakrawala ...

Mahakarya jembatan ke gerbang surga ...

Puitis memang. Tapi, bayangkan jika lirik-lirik puitis itu dilantunkan dengan suara serak, parau dan ranguan gitar penuh distorsi. Itulah Navicula, band grunge asal Bali, salah satu penampil di JogjaROCKarta Festival 2020 di Stadion Kridosono, Yogyakarta, Minggu (1/3).

"Busur Hujan" alias pelangi, demikian judul lagu pemilik syair di atas dimainkan Navicula sebagai lagu ketiga di JogjaROCKarta 2020. Mereka memang memuji pelangi sebagai mahakarya Sang Pencipta.

Pas betul dibawakan setelah hujan yang membuat tanah Kridosono basah.

Navicula yang beranggotakan Gede Robi (gitar/vokal), Dadang Pranoto(gitar), Pelel Atmoko (bass), dan Krishnanda (drum) membuka gigs mereka dengan lagu "Di Depan Layar" yang diambil dari album Erthship (2018). Disusul dengan "Biarlah Malaikat", juga dari album yang sama.

Dua lagu ini sebenarnya simpel. Namun, Navicula mampu membuatnya menjadi meriah dengan distorsi milik Dadang, hentakan drum Pelel yang begitu powerful.

 

2 dari 3 halaman

Bakar Adrenalin

Bukan hanya grunge, ada rock yang kental di sana, psikadelik, bahkan nuansa funk. Tak pelak, lagu ini pun kembali mengangkat adrenalin penonton yang sebelumnya telah dibakar Kelompok Penerbang Roket.

Apalagi saat lagu "Mafia Hukum" mereka gelontorkan. Distorsi Dadang kembali menjadi primadona, dengan riff-riff yang sekali lagi, simple tapi berisi.

Ditambah lagi dengan lirik yang "nakal" menyentil pihak-pihak yang memanfaatkan hukum untuk kepentingan sendiri. Semakin berkelas kualitas musik Navicula.

"Mafia hukum, hukum saja, karena hukum tak pandang siapa...."

 

 

3 dari 3 halaman

Pesan dan Kritik Sosial

Ya, memang bukan hanya musik kelebihan band yang didirikan tahun 1996 ini. Di setiap ada kesempatan, Robi kerap menyisipkan pesan-pesan dan kritik-kritik sosial.

"Mari kita bernyanyi bersama untuk Bhineka Tunggal Ika," ujar Robi sebelum melantunkan "Busur Hujan".

Di kesempatan lain, sebelum membawakan "Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berhenti", dia meminta dukungan untuk menjadikan Bali sebagai provinsi pertama yang bersih dari sampah plastik.

Di ujung konser, sebelum memainkan lagu pamungkas "Metropolutan", yang bercerita tentang sebuah kota metropolitan yang sudah terkontaminasi bermacam polusi, Robi kembali menyempilkan pesan khusus, kali ini untuk publik Yogyakarta.

"Mari sayangi Jogja, jaga Jogja agar tak menjadi kota Metropolutan," ujarnya.