Honda dan Nissan Siapkan Kejutan Besar untuk Mobil Masa Depan

Perusahan Honda asal Jepang memberikan sinyal kuat untuk melakukan kerja sama dengan Nissan.

Diterbitkan 02 Juli 2026, 16:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Industri otomotif global dalam waktu dekat diperkirakan akan diramaikan oleh kolaborasi dua produsen mobil asal Jepang, yakni Honda dan Nissan. Kedua perusahaan disebut tengah mempersiapkan kerja sama strategis untuk mengembangkan teknologi Engine Control Unit (ECU) yang akan menjadi fondasi bagi kendaraan masa depan.

Kabar tersebut disampaikan langsung oleh CEO Honda, Toshihiro Mibe. Ia mengungkapkan bahwa Honda berencana menjalin kesepakatan dengan Nissan guna menciptakan teknologi ECU generasi terbaru yang nantinya digunakan pada berbagai model kendaraan.

Langkah ini dinilai menjadi sinyal kuat bahwa pengumuman resmi mengenai kolaborasi Honda dan Nissan hanya tinggal menunggu waktu.

Dilansir dari Carscoops, Kamis (2/7/2026), kerja sama tersebut berfokus pada pengembangan Engine Control Unit (ECU), yaitu sistem elektronik yang berfungsi sebagai "otak" kendaraan dalam mengatur berbagai aspek operasional mesin maupun sistem kelistrikan.

Teknologi ECU hasil kolaborasi ini dikabarkan akan diterapkan pada berbagai model kendaraan Honda, Nissan, dan Mitsubishi, termasuk kendaraan listrik (EV).

Apabila seluruh proses berjalan sesuai rencana, teknologi tersebut ditargetkan mulai digunakan pada model produksi massal yang dipasarkan secara global pada periode 2029 hingga 2030.

Kolaborasi ini juga tidak lepas dari kondisi keuangan Honda yang sedang menghadapi tekanan besar. Toshihiro Mibe mengakui bahwa perusahaan mengalami kerugian signifikan yang menjadi salah satu tantangan terbesar dalam sejarah bisnis Honda.

Karena itu, perusahaan memandang kerja sama dengan Nissan sebagai strategi penting untuk meningkatkan efisiensi pengembangan teknologi sekaligus memperkuat daya saing di tengah pesatnya transformasi industri otomotif menuju elektrifikasi.

Tantangan yang Dihadapi

Meski prospek kerja sama dinilai menjanjikan, proses menuju kesepakatan belum sepenuhnya mulus.

Sebagai perusahaan publik yang tercatat di bursa saham, Nissan harus memperoleh persetujuan dari para pemegang saham sebelum merealisasikan kerja sama strategis tersebut.

Salah satu pemegang saham terbesar Nissan adalah Renault asal Prancis yang masih memiliki sekitar 25 persen kepemilikan saham.

Laporan yang beredar menyebutkan bahwa sejumlah pemegang saham Nissan dikabarkan belum sepenuhnya mendukung proposal kerja sama dengan Honda. Kondisi ini membuat proses negosiasi masih terus berlangsung.

Honda dilaporkan membukukan kerugian sebesar 423,9 miliar yen, atau sekitar Rp 46,7 triliun, hingga akhir tahun fiskal yang berakhir pada Maret lalu.

Menurut Toshihiro Mibe, kolaborasi dengan Nissan menjadi salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kondisi bisnis perusahaan di masa mendatang.

Ia menilai kerja sama tersebut berpotensi mempercepat pengembangan teknologi sekaligus meningkatkan efisiensi biaya produksi.

Apabila tidak berhasil menjalin kemitraan strategis, Honda diperkirakan akan menghadapi tantangan bisnis yang semakin berat di tengah persaingan industri otomotif global yang terus berkembang menuju era kendaraan listrik.