Knives Out: Kasus Aki-aki Bunuh Diri Terbungkus Tumpukan Teori dan Asumsi

Knives Out berawal dari musibah bunuh diri yang menjalar menjadi tumpukan teori dan asumsi.

Diterbitkan 28 November 2019, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Dengan lokasi yang jarang berpindah, biaya produksi bisa ditekan dan memungkinkan Knives Out merekrut bintang-bintang papan atas untuk menghidupkan cerita. Sebagian besar pemain Knives Out memperlihatkan performa gemilang.

Jamie berhasil membangkitkan aura cerdas, dominan, sukses, dan tak gampang dibodohi. Michael Shannon sejak awal terlihat seperti pecundang. Ia mudah disetir tokoh lain. Christopher Plummer, peraih Oscar tertua sepanjang sejarah, mengundang simpati.

Tokoh-tokoh Kuat

Di usia senja, ia hanya ingin meninggalkan jejak kebaikan. Bahkan, memikirkan masa depan orang lain jelang ajal. Interaksinya dengan sejumlah anak dan cucu penuh selubung. Marta di tangan Ana de Armas menyiratkan ketulusan. Saat terlibat skandal pembunuhan, penonton masih bisa memberi cinta kepadanya.

Menarik melihat interaksinya dengan Daniel yang cenderung karikatural sekaligus eksentrik. Daniel melunturkan citra Bond melalui gaya bicara, gestur, suara yang (maaf) cempreng saat bernyanyi, dan pola pikirnya sulit dipahami. Dengan tokoh-tokoh sekuat ini, Rian mudah mengolah cerita yang digagasnya sendiri. Rian menampilkan investigasi pembunuhan.

Kesaksian para tersangka disampaikan secara lisan. Dalam keterangan para saksi itu muncul rekonstruksi kejadian dalam format kilas balik dari gemerlap pesta hingga latar belakang beberapa karakter yang notabene bukan anggota keluarga Thrombey. Menguak dalang pembunuhan bukan perkara mudah. Rian paham betul bagaimana menjerat penonton dalam perangkap asumsi dan dugaan.

Rian Mengecoh Penonton

Beberapa kali Rian mengecoh kita lewat tokoh yang tampaknya enggak bisa ngapa-ngapain alias (hampir) useless, pergerakan orang di balik pintu kaca, pertengkaran di ruang privat yang terdengar samar-samar, hingga kecurigaan bermotif perselingkuhan. Knives Out punya banyak tokoh. Setiap tokoh terlibat dalam konflik utama di rumah gedongan itu. Kalau pun tak terlibat, ia memberi latar atau motivasi terhadap karakter utama.

Inilah yang membuat Knives Out tampil penuh gaya, serius, punya selera humor, dan jauh dari kesan mubazir. Kesan penuh gaya tampak dari desain interior kediaman Thrombey. Plus gaya berbusana sejumlah tokoh yang sophisticated. Selera humor di dapat dari cara bicara, pola pikir, dan kekonyolan segelintir tokoh. Serius, karena ini pembunuhan salah satu seniman penting. Dan tidak mubazir, karena semua tokoh yang hadir punya kontribusi dalam menambah kusut atau menyingkap selubung.

Dijabarkan selama dua jam lebih, Knives Out mengurai konflik dari tiga sudut pandang. Pertama, keterangan para saksi (sebagian mengacau!). Kedua, proses penyelidikan dan paparan teori dari polisi maupun detektif. Ketiga, yang paling gong, penarikan kesimpulan.

Menjungkirbalikkan Opini

Rian membentuk opini penonton di awal. Lalu membuat mereka mempertanyakan keabsahan (beberapa) opini dan kemungkinan yang kadung terbentuk. Setelah itu, mengonfirmasi kebenaran yang bisa jadi menjungkirbalikkan opini semula.

Knives Out benar-benar membuat penonton terkesima dengan kinerja aparat dalam menguak kasus. Tema besarnya mirip 21 Bridges, soal menguak kasus kriminal. Bedanya, Knives Out bermain pada detail investigasi, variasi keterangan saksi, plus hasil akhir solid. Benar-benar suguhan apik!

 

 

Pemain: Ana de Armas, Jamie Lee Curtis, Michael Shannon, Christopher Plummer, Chris Evan, Daniel Craig, Don Johnson, Toni Collette, Edi Patterson, Jaeden Martell, Katherine Langford, Noah Segan, Lakeith Stanfield

Produser: Ram Bergman, Rian Johnson

Sutradara: Rian Johnson        

Penulis: Rian Johnson

Produksi: Lionsgate

Durasi: 2 jam, 10 menit

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Meiristica NurulTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan